JANGAN lupa berdo`a untuk Orang Tua !

MENULIS dapat membantu seseorang untuk mengenali diri - mengenali pikiran, perasaan & apapun yang bergejolak di dalam hati --Hernowo--

 

Myspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter Graphics

Minggu, 03 Januari 2010

Bentuk Beda, Isi Sama

Oleh Anto Dwiastoro Slamet

“Anda takkan pernah bisa menebak isi buku dari kulitnya.”
—Edwin Rolfe dan Lester Fuller, Murder in the Glass Room, 1946

Beberapa tahun belakangan ini, saya tergolong amat jarang mengonsumsi nasi. Sebaliknya, saya amat suka mi atau, sejak mengalaminya di Papua, papeda yang terbuat dari sagu. Yang tersebut terakhir merupakan karbohidrat yang nyaris murni.

Alasannya bukanlah kesehatan; bukan karena saya menderita diabetes, bukan pula lantaran saya overweight. Sehingga saya menyanggah siapa pun yang mengkritisi tindakan saya beralih dari nasi ke mi, kentang atau sagu. “Lho, kan nasi, kentang dan sagu sama-sama karbohidrat?!” sergah mereka. Iya, saya tahu, tetapi bentuknya kan berbeda dari nasi. Inti dari tindakan saya beralih dari nasi ke mi bukanlah karena saya memikirkan kesehatan saya. Saya hanya bosan melihat bentuk nasi – yang sudah saya konsumsi selama lebih dari tiga puluh tahun!

Ketika akan bertolak ke pedalaman Papua, 6 Desember 2009 lalu, seorang pendeta Kristen didaulat untuk memimpin doa, memohon lindungan dan keselamatan kepada Tuhan Allah, Bapa di Sorga. Walaupun beliau juga mempersilakan para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo yang non-Nasrani untuk berdoa menurut cara agama masing-masing, saya telah terbiasa untuk ‘masuk ke dalam’, menyelami isi dari doa dan bukan bentuk/cara berdoa. Doa yang diucapkan sang pendeta, dengan ‘bahasa Kristen’ yang saya hayati lewat isinya ternyata menggugah relijiusitas saya, sehingga doa sang pendeta pun saya amini. Bentuk boleh beda, tetapi isi ternyata tetap sama.

Kebanyakan kita terpola hidupnya berdasarkan bentuk, dan amat jarang – jika tidak bisa dibilang tidak pernah – menghayati isi dari segala sesuatu, yaitu esensinya, makna hakikinya. Kegagalan semata dipandang sebagai kegagalan, yang seolah tidak membuka peluang bagi perbaikan, sedangkan isi dari kegagalan adalah segudang pelajaran yang dapat memandu kita untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

Pun dengan kesuksesan, yang hanya dianggap sebagai puncak dari proses ikhtiar. Padahal isi kesuksesan, lagi-lagi, adalah pembelajaran agar seyogianya kita mawas diri bahwa kesuksesan hanyalah satu tahap dari perjalanan hidup kita; bukan satu-satunya serta bukan ‘terminal terakhir’. Sukses pada saat ini belum tentu berarti sukses di kemudian hari. Isi dari gagal-sukses sejatinya adalah hikmah yang membantu kita untuk melakoni hidup secara sadar, dan darinya kita akan memperoleh kebijaksanaan.

Bentuk merupakan karunia untuk kehidupan saat ini, di dunia ini. Ketika mati, isilah yang menyertai. Namun, segala bentuk punya isi, yang hakikatnya sama, walaupun dalam tampilan bentuk tampak beda. Sejumlah kerabat dan relasi saya bertanya-tanya, kok saya bisa feel at home di tengah masyarakat Papua yang bentuk fisiknya maupun cara hidupnya berbeda dari umumnya kita di Jakarta atau Pulau Jawa, sedangkan saya baru menjejakkan kaki di Papua pada pertengahan tahun 2009 ini. Di mana pun saya berada, saya selalu memohon tuntunan Tuhan agar saya dapat menyelami isi dari budaya masyarakat di mana saya berada, dan tidak terjebak pada bentuk semata. Itulah yang menyebabkan saya bisa merasa di rumah sendiri di mana pun saya berada; di antara orang asing, di tengah umat beda agama, atau dalam berbagai suasana. Setiap perjalanan yang saya lakukan ke Papua, kini, membuat dada saya bergemuruh dengan kerinduan akan kampung halaman sendiri!

Ada mereka di antara kita yang acap merasa terganggu, hingga tingkat paranoia, dengan bentuk-bentuk yang berbeda dari yang mereka punyai. Apakah Tuhan hanya mengabulkan doa orang Islam saja, atau orang Kristen saja? Doa yang dipanjatkan sang pendeta Kristen sebelum para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo meluncur ke lokasi, maupun yang dipohonkan para peserta yang non-Nasrani, pada akhirnya membuat perjalanan itu penuh berkah lindungan dan keselamatan bagi siapa saja dalam rombongan, tak memandang agama apa yang dianutnya atau cara berdoanya. Bagaimana bentuk atau cara Anda menjalani hidup tidak usahlah dipaksakan pada orang lain hanya karena Anda melihat perbedaannya. Segala sesuatu diciptakan Tuhan untuk setiap makhluk sesuai proporsinya masing-masing, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Bentuk beda, isi sama.©

Salam, ANTO DWIASTORO