JANGAN lupa berdo`a untuk Orang Tua !

MENULIS dapat membantu seseorang untuk mengenali diri - mengenali pikiran, perasaan & apapun yang bergejolak di dalam hati --Hernowo--

 

Myspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter Graphics

Selasa, 16 Maret 2010

Dan Pemenangnya adalah… Nomor Dua!

Oleh Anto Dwiastoro Slamet

Saat masih aktif berlatih seni bela diri Taekwondo, bertahun-tahun silam, saya belajar suatu taktik pertarungan bebas yang bertahun-tahun kemudian sangat bermanfaat filosofinya bagi saya dalam menghadapi kehidupan. Taktik itu acap dijuluki ‘taktik mengalah untuk menang’; para taekwondoin bergerak mundur – suatu ekspresi kalah, padahal sebenarnya membuka ruang yang cukup luas untuk melancarkan tendangan balasan, atau membuat lawan kelelahan melancarkan tendangan-tendangan yang mengenai angin, sehingga dengan mudah dapat kita taklukkan, bahkan kadang tanpa perlu mengerahkan tenaga sama sekali.

Selama era kejahiliyahan saya, saya kerap melawan dengan keras segala caci maupun sikap permusuhan yang ditunjukkan orang lain pada saya. Sampai suatu saat, seorang sahabat, yang pernah lama tinggal di Jepang dan belajar seni bela diri negeri itu, menguraikan falsafah Bushido, sebuah kode etik kekesatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang, yang salah satu intinya adalah mematahkan serangan lawan dengan kelembutan, bukan hanya lewat perbuatan, tetapi juga (bisa) lewat perkataan, pikiran dan perasaan. “Ada kemenangan besar dan sejati dalam setiap kekalahan yang kita tunjukkan dengan jiwa besar,” ujar sahabat itu.

Ia melakoni bisnis, dan pesaing-pesaingnya tampaknya tak pernah bosan berusaha menjatuhkannya dengan cara yang paling kasar. Tetapi ia bergeming. Ia menyambut semuanya dengan sikap yang menyerah, tetapi pada saat yang sama ia sedang ‘menggunakan tenaga amarah mereka untuk menaklukkan mereka’.

Sungguh dahsyat kekuatan yang menyeruak dari sikap berserah diri – atau, dengan kata lain, mengalah. Ia mampu menjebol tembok yang paling tebal. Tetapi, sebagian besar kita, termasuk saya dalam kesempatan-kesempatan tertentu, amat sulit bersikap mengalah, tidak mau mengalah, karena mengalah itu menyakitkan. Rasanya, tidak ada orang yang mau menjadi nomor dua, kecuali mereka yang telah memasuki alam kefanaan – dalam memaknai hakikat dari segala sesuatu, di mana menjadi nomor satu, dua, tiga, dan seterusnya, sudah tidak relevan lagi, sudah tidak ada gunanya lagi (dan sejatinya memang tidak ada gunanya menjadi juara dalam mengarungi kehidupan, karena siapa pun yang menang, pada akhirnya, akan kalah pada usia).

Pada suatu masa, perusahaan penyewaan mobil yang berbasis di Amerika Serikat, Avis, mengampanyekan iklan-iklannya yang dengan bangga menyatakan diri sebagai nomor dua di kategorinya (nomor satunya digondol Hertz). Mereka berdalih, sebagai pihak yang secara sadar berada di nomor dua, mereka akan terus terdorong untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan, sementara kalau sudah nomor satu biasanya terlena, lupa diri, hingga akhirnya digilas oleh pesaing-pesaingnya. Dan dengan keberadaan nomor dua dan seterusnyalah diakui eksistensi nomor satu. Dalam bisnis, menjadi satu-satunya tidak terlalu menguntungkan, lantaran kita tak punya pesaing untuk dijadikan cerminan bagi perbaikan dan peningkatan kualitas produk dan layanan.

Meski rasanya – meminjam kata-kata saudara Subud saya, yang saya kira amat tepat untuk menggambarkannya – seperti menelan buah kedondong bulat-bulat, menjadi nomor dua menawarkan peluang pembelajaran dan pengenalan diri yang luar biasa. “Barangsiapa mengenal dirinya sudah pasti mengenal Tuhannya,” seru guru kebijaksanaan masa lampau. Bercirikan suka mengalah, memaafkan, rendah hati, tidak takabur saat dipuji dan tak kabur saat dicaci, menerima kesuksesan maupun kegagalan sebagai momen sesaat yang tak perlu dirisaukan – pokoknya, berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, si Nomor Dua serasa melangkah panggung kehormatan, diiringi seruan lewat pengeras suara: “Dan pemenangnya adalah... Nomor dua!” ©

Tidak ada komentar: