JANGAN lupa berdo`a untuk Orang Tua !

MENULIS dapat membantu seseorang untuk mengenali diri - mengenali pikiran, perasaan & apapun yang bergejolak di dalam hati --Hernowo--

 

Myspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter Graphics

Selasa, 23 Maret 2010

Berserah Diri Vs. Terserah Diri

Oleh Anto Dwiastoro Slamet

“Untuk bisa menjadi diri sendiri, dan tidak takut apakah benar atau salah, adalah lebih mengagumkan daripada kepengecutan yang ada dalam kepasrahan demi kesesuaian belaka.” —Irving Wallace (1916-1990), penulis skenario laris Amerika Serikat

Beberapa hari menjelang keberangkatan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia ke Semarang pada tanggal 3 Maret 2010, untuk berkonsolidasi dengan panitia penyelenggara Musyawarah Nasional (Munas) PPK Subud Indonesia yang diselenggarakan di kota itu, 5-7 Maret 2010, saya masih diliputi kebimbangan mengenai apakah saya jadi ikut atau tidak. Hari demi hari lewat dengan saya hanya duduk menanti ‘wangsit’ yang saya harapkan dapat memastikan jadi tidaknya saya berangkat ke Semarang.

Mengapa saya demikian ragu adalah karena dalam minggu itu (1-7 Maret) saya tengah menanti penugasan-penugasan dari dua klien saya, berupa wawancara dengan dewan direksi dan dewan komisaris dalam rangka penulisan laporan tahunan sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) serta syuting profil video sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di industri keramahtamahan (hospitality industry). Untuk yang tersebut terakhir, saya malah harus terbang ke Bali dan Lombok.

Sehari sebelum tanggal 3 Maret, saya ditelepon oleh Sekretaris Nasional PPK Subud Indonesia, yang menanyakan apakah saya jadi ikut ke Semarang. Dengan berat hati, saya menidakkan, berhubung jadwal kerja saya sangat padat pekan itu. Pada 3 Maret saja saya sudah dipastikan untuk mewawancarai dewan direksi dan dewan komisaris BUMD tersebut di atas. Tetapi segera setelah saya akhiri pembicaraan telepon saya mendapat pencerahan: “Berserah diri bukan terserah diri, duduk berpangku tangan menunggu datangnya tuntunan. Kamu harus berniat dengan sungguh-sungguh dan mewujudkan niat itu dalam tindakan, maka seluruh alam semesta akan bekerja mewujudkannya. Kamu harus berani memilih dan berani pula mempertanggungjawabkan pilihan itu.”

Saya menarik napas panjang dan mengembuskannya lamat-lamat sambil memejamkan mata. Ada kedamaian yang mengalir di dalam diri, keheningan namun juga kekuatan. Ya, saya memastikan diri, berserah diri bukan terserah diri, menanti secara pasif apa yang akan datang kepada saya, melainkan tindakan proaktif untuk berusaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.

Saya pun memberitahu klien saya, yang menanti kehadiran saya pada 3 Maret sore untuk mewawancarai dewan direksi dan dewan komisarisnya, bahwa saya harus membatalkannya lantaran pada 3 Maret pagi saya harus mengejar kereta api ke Semarang untuk ‘urusan yang tak kalah pentingnya’. Klien saya dapat memahaminya, dan menjadwal ulang wawancara itu: tanggal 8 Maret, pukul 10 pagi. Jadi, tidak ada masalah. Selebihnya, saya hanya berdoa, semoga jadwal syuting profil video dari klien saya yang lainnya tidak datang pada hari-hari sebelum Munas; kalau pun saya harus syuting juga, sementara saya sudah kepalang berada di Semarang, saya akan segera balik ke Jakarta, bagaimanapun caranya. Ketetapan hati itu membuat saya tenang melewati hari-hari di Semarang. Puji syukur, hingga Munas berakhir pada 7 Maret, saya tidak diminta pulang ke Jakarta untuk mengurus syuting, hal mana menandaskan kepahaman saya bahwa berserah diri bukanlah terserah diri.

Pada kebanyakan gerakan spiritual, bahkan agama-agama resmi, yang menjadikan berserah diri sebagai tema sentralnya, dan berhasil menanamkannya sebagai amalan kemuliaan hidup bagi pengikutnya, tak jarang dijumpai kecenderungan bahwa sikap batiniah itu dimaknai sekadar sebagai momentum menunggu yang sangat pasif, serta menafikan kerja akal pikir. Pendek kata, berserah diri bagi kebanyakan orang masih diwarnai dengan sikap dan laku terserah diri. Ini adalah apa yang disebut sebagai – meminjam istilah saudara Subud saya – ‘jebakan spiritual’.

Dalam bukunya, Awakening to the Sacred: Menggapai Kedalaman Rohani dalam Kegalauan Hidup Sehari-hari (Jakarta: Gramedia, 2002), Lama Surya Das menegaskan bahwa bahkan meditasi, yang sering dianggap sebagai sekadar duduk diam sambil memejamkan mata dan berkonsentrasi pada napas, sejatinya merupakan tindak proaktif dan partisipatif di mana meditator sepenuhnya menyadari kekiniannya; hadir sepenuhnya di saat ini dalam keadaan apa pun – diam atau bergerak. “(I)ni membantu kita memberikan perhatian pada apa yang tengah kita kerjakan persis pada saat kita mengerjakannya,” tulis bhiksu Buddhisme Tibet bernama asli Jeffrey Miller itu di halaman 213 bukunya.

Kebanyakan kita takut menghadapi konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan, kecuali tindakan tersebut sudah dipastikan bahwa dampaknya membawa kebaikan. Kebanyakan kita lupa kalau Yang Maha Kuasa tidak pernah tidur; Dia memperhatikan kita, dan senantiasa memberi solusi – yang disalurkanNya lewat jiwa-jiwa yang tenang – meski kita salah memilih jalan atau salah dalam mengambil keputusan. Kenyataan ini menandaskan perlunya kita bertindak terlebih dahulu untuk ‘melihat’ tuntunanNya. Salah atau benar tidak lagi relevan bagi mereka yang telah menyelami samudra makna, yang bisa menerima semua dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, kalah-menang, hidup-mati) dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal.

Tidak ada yang tidak bisa, jika saja kita percaya. Tidak ada manusia yang tidak mampu. Ken Robinson, Ph.D. dalam The Element: How Finding Your Passion Changes Everything. (New York: Penguin Books, 2009) mengungkapkan kelumpuhan yang dideritanya akibat polio yang menyerangnya pada usia empat tahun tidak harus membuat ia duduk berpangku tangan di kursi roda. Dengan kaki kanannya yang lumpuh ia tetap mampu berlari mengejar impiannya – dan jadilah ia kini pakar pengembangan inovasi dan sumber daya manusia yang diakui secara internasional! Ia merelakan kenyataan bahwa dirinya cacat, tetapi ia berpikir tidak ada gunanya ia menyesali kenyataan itu – ia tidak membiarkan cacatnya membatasi dirinya.

Ada orang-orang di sekitar kita yang menjadikan berserah diri sebagai ‘legalisasi’ atas kemalasan mereka, untuk menyamarkan ketakutan mereka untuk bertindak. Apakah ini yang akan Anda pilih? Terserah diri Anda, deh.©

Salam,

Tidak ada komentar: