JANGAN lupa berdo`a untuk Orang Tua !

MENULIS dapat membantu seseorang untuk mengenali diri - mengenali pikiran, perasaan & apapun yang bergejolak di dalam hati --Hernowo--

 

Myspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter Graphics
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2009

Melihat Dengan Hati

Oleh 
Anto Dwiastoro Slamet

“Kita tahu tentang kebenaran, tidak hanya dengan nalar, tetapi juga dengan hati.”
—Blaise Pascal, (1623-1662)

Kemarin (9 April 2009), saya berniat untuk melakukan Latihan Kejiwaan Subud di kamar tidur saya. Seperti pada latihan-latihan kejiwaan secara bersama-sama, kami, para anggota Subud, biasanya melepas segala perhiasan dan aksesori yang melekat pada badan kami, semata agar tidak menimbulkan halangan ketika kami berlatih kejiwaan, yang pada dasarnya hanya menerima (receive) dengan sabar, ikhlas dan tawakal itu. Saat itu, saya masih mengenakan kacamata baca saya, yang memang sengaja tetap saya kenakan, agar istri saya menegur, “Kok kacamatanya nggak dilepas? Saya jawab sambil bergurau, “Biar nanti Tuhannya kelihatan jelas.”

‘Melihat Tuhan’ merupakan topik yang tidak pernah habis dibahas dalam berbagai diskusi spiritual dan keagamaan. Bagaimana caranya melihat Tuhan yang dipercaya merupakan eksistensi yang gaib, tankasat mata, namun ada? Para guru kebijaksanaan menganjurkan agar kita melihat dengan hati. Sama dengan melihat Tuhan, ‘melihat dengan hati’ adalah tema pembicaraan di kalangan pejalan spiritual yang tak pernah ada selesainya. “Lihatlah dengan hati” adalah salah satu sub-judul dari bab 6 buku Michael Ray, The Highest Goal – Rahasia yang Setiap Saat Menopang Anda (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2006). “Melihat dengan hati” juga adalah judul lagu Deddy Mizwar yang dijadikan original soundtrack-nya film Naga Bonar. 

Bagaimana melihat dengan hati, sementara yang selama ini dianggap sebagai alat penglihatan adalah mata? Melihat dengan hati, menurut hemat saya, adalah merenungkan sisi keilahian dari semua keadaan yang melingkupi kehidupan kita maupun kehidupan itu sendiri. Melihat dengan hati adalah meletakkan segala sesuatu yang kita hadapi dalam hidup ini di sisi Tuhan – dengan kata lain, menempatkan apa pun di atas altar keindahan. Mata fisik kita tidak mampu melakukan hal itu. Ketika kita melihat segala keindahan yang ada di dunia ini dengan mata lahiriah kita saja, maka kita cenderung bersikap serakah dan ingin menguasai semua keindahan itu. Sikap itu, sudah tentu, mencelakakan.

Sesuatu bisa dianggap buruk, apabila kita melihatnya dengan mata lahiriah kita. Tetapi begitu pikiran kita hening, kebijaksanaan yang akan mengemuka, dan terbukalah mata hati kita. Pada saat itu, bahkan terbuka kemungkinan bagi kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan, dengan sesama kita, dan dengan alam. Dengan hati, kita bisa melihat dengan kepekaan yang tajam.

Mengapa kita perlu membiasakan diri melihat dengan hati? Penulis dan penerbang berkebangsaan Prancis, Antoine de Saint ExupĂ©ry (1900-1944), di dalam novelnya yang paling terkenal, The Little Prince, yang diterbitkan pada 1943, menulis, “Hanya dengan hatilah seseorang dapat melihat dengan benar; apa yang esensial tidak terlihat mata.” Dengan melihat dengan hati, penglihatan kita akan jauh melampaui apa yang dapat diketahui mata lahiriah kita dan keheningan pikiran yang total membebaskan jarak pandang kita dari ‘radikal-radikal bebas pikiran’. Kita akan mampu melihat sisi-sisi terbaik dalam diri orang lain. 

Ungkapan “dari mata turun ke hati” hanya ideal dalam fiksi. Sebaliknya, dalam kehidupan nyata dari kebanyakan kita, seringnya terjadi “dari mata naik ke pikiran”. Sejumlah guru kebijaksanaan menganggap bahwa pikiran adalah tempat bersemayamnya suara penilaian (voice of judgment) kita, sehingga mereka senantiasa mengajak kita untuk mempergunakan hati (maksudnya, hati spiritual, bukan hati fisik) sebagai jalan untuk memandang kehidupan kita maupun orang lain. Hati itu murni dan suci, pemberian Yang Maha Kuasa, yang diperuntukkan bagi manusia dalam bertindak, bekerja dan berinteraksi. Robert Frager dalam bukunya, Hati, Diri & Jiwa: Psikologi Sufi untuk Transformasi (Jakarta: Penerbit Serambi, 2006) mengungkapkan bahwa hati merupakan sesuatu yang identik dengan spiritualitas. Karenanya, bagi para sufi, hati adalah kuil Tuhan dan rumah cinta. 

Ketulusan, niat baik, belas kasih, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan spiritualitas bersumber dari hati. Maka, kita cenderung mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki ketulusan, niat baik, belas kasih, dan lain sebagainya tidak memiliki hati. Semakin kita menggunakan hati kita untuk melihat keindahan yang terdapat pada orang lain, benda dan keadaan (yang di mata lahiriah kita justru tampak buruk), kita semakin jelas melihat Tuhan – dan mencintaiNya. Melihat dengan hati membuat kita dapat menjalin hubungan dari hati dan membawa kita ke momen-momen yang mencapai keilahian bersama orang lain.©

Senin, 23 Februari 2009

Menakar Kepekaan Pribadi

Pelajaran kehidupan mengatakan kepada kita bahwa simpati dan empati terhadap orang lain merupakan kekuatan terbesar yang membentuk peradaban hingga sejauh ini. Masih ingat tentang peristiwa Gempa dan Gelombang Tsunami di Aceh? Tentu anda masih ingat! Kejadian itu telah membuktikan kepada kita semua bahwa menyisihkan barang berharga kita tidak sebanding dengan penderitaan akan kehilangan keluarga dan sanak saudara. Hebatnya, hal itu dilakukan oleh orang sedunia, oleh bangsa-bangsa, oleh lembaga-lembaga internasional, oleh pemimpin-pemimpin dunia, dan oleh semua orang. Saya yakin anda termasuk diantaranya.

Pelajaran penting dari cuplikan peristiwa itu adalah nilai kemanusiaan tidak bisa dibatasi oleh hanya sekedar tali pembatas bernama negara, agama dan ras manusia. Semua itu dapat ditembus oleh nilai kemanusiaan bernama empati. Namun sayangnya, peristiwa itu juga membuktikan kepada kita bahwa pelajaran membantu dan meringankan sesama harus didahului setelah terjadinya sebuah tragedi bernama Tsunami. Lalu bagaimana jika tidak ada Tsunami? Masihkah umat manusia menerapkan nilai yang sama? Disinilah pentingnya nilai sensitiveness yang akan kita bahas ini. |baca selengkapnya|

Rabu, 18 Februari 2009

Tembang Ndeso yang Penuh Arti

Tak lelo-lelo lelo ledhung,
cup meneng anakku sing bagus,
yen nangis ndak ilang baguse,
tak gadhang iso urip mulyo,
dadiyo prio sing utomo.
ngluhurke asmane wong tuo,
dadiyo pendekaring bangsa.
Wis cup menengo anakku,
kae bulane ndadari,
koyo buto nggegilani,
lagi nggoleki cah nangis,
Tak lelo-lelo lelo ledhung,
cup meneng ojo pijer nangis,
tak emban nganggo jarit kawung,
yen nangis mundhak bapak bingung.
Terjemahan Indonesia:
Nang inang, anakku sayang
cup diamlah anakku yang tampan,
Kalo menangis terus ketampananmu akan hilang,
Kuharap kamu nanti bisa hidup mulia,
Jadilah pria yang utama,
Menjunjung baik nama orang tua,
Jadilah pendekar bangsa.
Cup diamlah wahai anakku,
lihatlah bulan sedang purnama,
seperti raksasa yang menakutkan,
lagi mencari anak yang sedang menangis.
Nang inang anakku sayang,
cup diamlah jangan menangis terus,
bapak gendong pake kain kawung,
kalo menangis terus nanti bapak jadi bingung....

Berbagi kasih dan kisah kehidupan yang penuh kehangatan dan kebersahajaan

Michael: Kebenaran Itu Hanya Ditemukan Dalam Islam

Sabtu, 14 Februari 2009

Dampak Pornografi Bagi Perkembangan Anak

Oleh: Herlita Jayadianti


“Ma…, adik semalem nonton TV ada perempuan sama laki-laki ciuman, brarti adik juga boleh dong ma, ciuman sama temen adik yang perempuan…, kata TV-nya itu tandanya sayang…loh Ma”

Yah, kok tante itu pake rok pendek banget, biar gak panas ya? Adik mau donk yah dibelikan rok yang pendek kayak tante itu…, cantik ya yah..”Pokoknya besok beliin ya…

Prihatin, itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika secara tidak sengaja mendengar celoteh anak-anak balita disalah satu tempat bermain anak di Jogjakarta. Baru dua anak loh yang saya dengar, bagaimana dengan jutaan anak yang lain ? bagaimana juga jika mereka terlahir dan berada ditengah keluarga yang belum siap memberikan jawaban yang tepat untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka ? duh, dimana perlindungan buat mahkluk2 mungil nan polos ini, mahkluk tanpa dosa yang belum matang secara fisik, mental, maupun sosial, selain juga masih sangat rentan, tergantung dan dalam masa perkembangan.

Belum hilang rasa prihatin saya, keesokan harinya datang seorang Ibu dengan wajah yang bingung lalu mengalirlah unek-unek yang selama beberapa hari ini dipendam sendiri…

” Mbak anak saya tuh kemaren kedapetan nonton film porno, saya sendiri yang lihat mbak, wah sedih, marah, bingung, semua campur mbak, abis baru TK besar, usianya aja belum 7 tahun..,katanya diajak omnya yang juga masih SD, yang buat saya mau pingsan ternyata tidak hanya sampai situ mbak, anak saya dengan polosnya bilang pernah ”dipegang-pegang”sama om-nya ketika habis nonton.” lalu Ibu itupun tidak bisa lagi berkata-kata dan menangis.

Ternyata pornografi apapun bentuknya mau lewat media yang masih sangat tradisional sampai tercanggih sekalipun, langsung dilihat ataupun lewat media, tetap satu hasilnya ” merusak moral anak bangsa”

Apa saja sih dampak negatif dari tayangan pornografi bagi perkembangan anak usia dini?

1. Pelecehan seksual
Setelah melihat tayangan pornografi, biasanya orang yang bersangkutan lalu mencari cara untuk melampiaskan dorongan seksnya. Nah anak usia dini adalah individu yang sangat rentan terhadap pelecehan seksual, apalagi di Indonesia sendiri pendidikan seks untuk anak bagi sebagian besar orangtua masih tabu dan belum waktunya diberikan. Hasilnya anak sering menjadi korban pelampiasan seks oleh orang disekitarnya terutama yang dekat dengan anak, seperti kasus diatas ternyata pelecehan dilakukan sendiri oleh om korban. Selain karena mudah dimanfaatkan, anak juga tidak tahu bahwa organ vital seharusnya tidak boleh ditunjukkan pada orang lain.

2. Penyimpangan seksual
Anak balita atau anak usia dini yang belum waktunya sudah melihat adegan atau tayangan hubungan intim suami istri atau tayangan –tanyangan porno lainnya, dan tidak ketahuan orangtua sehingga tidak langsung diberi pemahaman (dengan bahasa yang mudah dipahami anak tentu saja) ketika dewasa kelak bisa mengalami penyimpangan seksual, karena yang ada dalam benak anak adegan itu jorok, sakit, seram dll…

3. Sulit konsentrasi
Bagaimana bisa konsentrasi kalau yang ada dalam pikiran anak adalah pikiran-pikiran kotor. Belum lagi kalau anak belum paham sehingga yang ada dalam otak anak adalah berbagai pertanyaan seputar adegan atau tayangan porno yang baru dia lihat. Ingat loh ini konteksnya anak usia dini. Mana ada sih anak balita yang paham dengan adegan porno? Yang bahaya lagi, kalau sudah tertanam dalam otak maka untuk menghapus akan sangat sulit. Kenapa ? karena seks merupakan kebutuhan dasar manusia. Anak yang sudah menemukan kenikmatan seks sebelum waktunya dan tertanam secara mendalam dalam pikirannya akan sulit untuk dihilangkan. Kasihan kan padahal masa depannya masih panjang, masih banyak dibutuhkan konsentrasi2 dalam hidupnya….

4. Tidak percaya diri
Anak bisa saja jadi tidak percaya diri, kenapa? Karena frame yang dia lihat dari maraknya tayangan TV atau bahkan lingkungan disekitarnya, ” kalau mau cantik dan punya banyak teman ya harus berpakaian terbuka ”, ” kalau berpakaian tertutup kuper gak gaul, ndeso ”. Besok-besok anak akan muncul PD-nya ketika berpakaian minim dan terbuka.

5. Menarik Diri
Anak yang mengalami pelecehan seksual atau kekerasan seksual biasanya cenderung menarik diri, tertutup dan minder. Apalagi kalau orangtua tidak segera mencari bantuan psikolog dan cenderung menyalahkan anak, memarahi atau menggunakan kekerasan. Dimasa depan bisa saja kemudian anak akan sangat membenci orang dengan jenis kelamin tertentu karena mengingatkan pada kejadian seram masa kecilnya.

6. Meniru
Ingat loh anak usia dini adalah peniru ulung, apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar dari orang dewasa dan lingkungannya akan ditiru. Anak kan belum tahu mana yang benar atau mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, yang mereka tahu orang dewasa adalah model atau sumber yang paling baik untuk ditiru. Bisa dibayangkan kan kalau isi tayangan TV, adegan porno diinternet, HP, kelakuan orang-orang ditempat umum yang tidak bermoral ditiru mentah-mentah oleh anak ? wah saya saja tidak berani membayangkan….

Makanya segera sahkan dong RUU anti pornografinya…, sebelum semakin banyak anak usia dini yang teracuni dan rusak masa depannya…

Lithajayadianty

NGo-Early Childhood

Kamis, 12 Februari 2009

Selasa, 27 Januari 2009

Perkembangan Bicara Anak

19/01/2009

Pada hari Sabtu, 06 Desember 2008, Kalbe Nutritionals menyelenggarkan workshop di Nutrition For Life (NFL) dengan tema "Perkembangan Bicara" dengan pembicara dr. I.G. Ayu Pratiwi SpA MARS.

Tumbuh kembang anak merupakan suatu hal penting yang tentunya membutuhkan perhatian khusus dari orang tua. Hal ini disebabkan karena pada masa dalam kandungan sudah mulai terjadi perkembangan otak, fungsi-fungsi organ yang diikuti dengan perkembangan lainnya.

Berikut beberapa aspek perkembangan anak:
Sensoris (dengar, lihat, bau / smell, rasa / taste, vibrasi)
Mootr (locomotion) : kasar, halus, vestibular
Komunikasi, bahasa & bicara
Kognitif, kepintaran / intelegensi
Kreatifitas, seni
Urus diri
Emosi, sosial
Kerjasama & Leadership
Moral 7 Spiritual
Independent, saling mempengaruhi

Berbicara merupakan salah satu perkembangan yang perlu distimulasi sejak dini. Ada beberapa gaya bahasa yang disampaikan anak yaitu bahasa visual dan bahasa ekspresif - Bahasa Visual (Bayi menyampaikan apa yang dirasakannya melalui apa yang diinginkan atau apa yang dirasakannya melalui ekspresi wajah).
Senyum sosial (usia 4-6 minggu)
Mencari dengan menoleh kearah rangsang suara (misalnya suara bel) usia 4-5 bulan
Mulai senang bermain ci-luk-ba (usia 6-7 bulan)
Mulai dapat meniru permainan sederhana seperti tepuk tangan (Usia 8-9 bulan)
Melambaikan tangannya, biasanya juga dapat menunjuk mainan yang diinginkannya (9 bulan)
- Bahasa Ekspresif
Bahasa yang sehari-hari kita anggap
Bicara yang sesungguhnya
Bahasa ekspresif, harus didahului oleh bahasa visual dan bahasa reseptif
Gangguan perkembagan AUTISME sering kali bahasa ekspresifnya tanpa didahului oleh tahapan bahasa visual / reseptif

Berikut ini beberapa hal mengenai stimulasi berbicara yang mempengaruhi kualitas dari perkembangan otak :
Proses sinaptogenesis sempurna, dapat distimulasi melalui aktifitas yang bersifat reguler (rutin) dan konsisten.
Cabang dendrit meningkat, maka akan semakin pintar anak / bayi
Merangsang bertambahnya sinaps
Stimulasi sebaiknya bervariasi karena dengan demikian maka otak akan mendapat rangsang yang bervariasi pula.
Tentunya anda, para orang tua, menginginkan anak tumbuh sehat dan cerdas, bukan hanya cerdas kognisi yaitu ilmu pengetahuan namun cerdas emosi dan spiritul. Oleh karena itu untuk menstimulasi perkembangan anak khususnya perkembangan bicara, jangan tunggu nanti dan esok tetapi mulailah dari sekarang.
Jika Bapak / Ibu tertarik dengan workshop seputar kesehatan lainnya silahkan daftar langsung di Nutrition For Life (NFL) PIM 2 lt.2 no: 240-241 Jakarta Selatan atau dapat menghubungi layanan bebas pulsa Kalbe Nutritionals di 0800-140-2000.
http://www.kalbenutritionals.com

Sabtu, 24 Januari 2009

pergaulan yang menyeramkan..


Suatu sore di metromini dalam perjalanan pulang antara Blok M - Cinere. Sayup-sayup terdengar obrolan antara dua ABG, satu orang duduk di kursi dibelakang saya dan satunya lagi berdiri pas di samping saya. Dilihat dari pakaiannya adalah anak SMA, rupanya mereka ini dulunya bertetangga tapi salah satunya telah pindah rumah, jadi lama tidak bertemu.

Ceritanya seru dengan bahasa gaul khas ABG yang kadang kurang dimengerti oleh saya.
Saya yang sempat tertidur jadi terbangun, mendengar obrolan mereka yang semakin seru.
Sebut saja mereka si A dan B, begini obrolannya :

A : eh, lu kenal Icang ga…? dia kan pernah jadian ama gw.
B : ya kenal lah, kan Icang temannya Bagus (dulu Bagus ini pacarnya si B) dia dah kayak sahabat ama gw. iya, Icang pernah crita ama gw kalo lu pernah jadian ama dia. Kenal dimana lu…?
A : telpon nyasar hehehe….
B : diapain aja lu pacaran ama Icang…?
A : biasalah, kissing kissing (sambil tetap ketawa)
B : main juga kan…? sampai keluar ga…?
A : tau aja lu!! (sambil ketawa makin kenceng)

dialog selanjutnya closed
(Saya makin penasaran langsung nengok ke atas, pengin liat seperti apa wajah si B ini. Rasanya kok PD banget menceritakan aib sendiri seolah orang lain di sekitarnya tidak mendengar).
—————————————–

Dari obrolan A dan B ini, sepanjang sisa perjalanan saya jadi memikirkan maksud dari kata main dan sampai keluar.

Sebagai perempuan sudah menikah, saya berkesimpulan bahwa kata main itu adalah hubungan badan suami istri dan kata sampai keluar adalah kelanjutan hubungan badan itu.
Tapi saya berharap kesimpulan saya ini salah.

Masih penasaran aja, kebetulan dipabrik sedang ada anak PKL dari suatu SMK. Saya tanyakan apa arti kata ‘main’ dan ’sampai keluar’ itu. Ternyata jawabannya sama dengan kesimpulan saya. Bahkan dia juga bercerita bahwa hal seperti sudah umum di kalangan SMA di Ibukota ini.
Masih ngeyel, saya tanya juga kepada Mba ini yang kebetulan mempunyai anak ABG. Dan mendapatkan jawaban yang sama, anaknya sering juga bercerita perkara teman-temannya yang suka begitu.

Sebagai Ibu yang mempunyai anak perempuan saya khawatir. Bagaimana jaman anak saya nanti….?
Untuk persiapan tampaknya saya harus banyak belajar pada ibu-ibu yang anaknya mulai ramaja. Dan tak lupa banyak berdoa agar anak kita terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh agama.

OOT dikit,
Saat itu usia saya 15 tahun. Ibu memberi nasehat, begini katanya ” Ingat jaga ya keperawananmu, berikanlah hanya untuk suami. Itu rasanya nikmat sekali….”
*Ah…saya jadi teringat ekspressi wajah Almarhumah Ibu sewaktu memberi nasehat ini*

Dan ajaib, nasehat itu benar-benar menempel di dasar hati yang paling dalam. Jadi walaupun saya harus kuliah dan bekerja jauh dari orang tua alhamdulillah aman-aman saja. http://nasywa.blogsome.com

Mencintai Itu Keputusan

Karya : Anis Matta

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.
Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia.
Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah.
Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya.
Sebentar. kemudian ia pun berkata,
"Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini". Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila.
Selanjutnya adalah bukti.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi.
sebab memberi adalah pekerjaan..
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan
melindungi itu berat.
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama.
sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh.

maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat
ia mengatakan, "Aku mencintaimu". Kepada siapapun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu.

Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin memberimu sesuatu.
Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari,
"Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia..."
"aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal
mungkin..."
"aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui
kebajikan harian yang akan kulakukan padamu ..."
"aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu...."

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap
integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu", kamu harus membuktikan ucapan itu.
Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.
Tidak ada cinta tanpa kepercayaan.
Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya.
Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti.
Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji.
Di situ juga integritas terbukti.
Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh
seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk
menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.
http://tentang-pernikahan.com