Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Perkawinan yang hebat bukanlah ketika ‘pasangan yang sempurna’ menyatu. Melainkan ketika pasangan yang tidak sempurna belajar menikmati perbedaan mereka.” —Dave Meurer, Daze of Our Wives: A Semi Helpful Guide to Marital Bliss (Michigan: Bethany House Publishers, 2000)
Saya mengalami kejutan budaya yang hebat pada bulan-bulan pertama pernikahan saya. Betapa tidak, saya yang sebelumnya hidup dengan kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma pribadi saya tiba-tiba harus membuka pintu rumah saya dan mengundang masuk seorang istri yang gaya hidupnya seperti bumi dan langit dengan saya. Saya ibarat api, dengan emosi meletup-letup dan blak-blakan dalam mengekspresikan diri, sedang istri saya adalah air sejuk yang mengalir malu-malu, cenderung tertutup. Saya, dahulu, bukan tipe orang yang mandiri, karena sejak kecil selalu dimanja, dan hidup dalam keluarga yang memiliki beberapa pembantu rumah tangga, sementara istri saya sangat mandiri – ia dibesarkan dalam keluarga angkatan laut, yang sering ditinggal layar oleh ayahnya, sehingga ia terbiasa mengurus dirinya sendiri.
Namun, dalam prosesnya, perbedaan di antara kami terjembatani oleh hati yang diliputi cinta. Alih-alih porak-poranda tak karuan, kami malah saling mengisi. Gejolak erupsi gunung berapi pada diri saya dapat dipadamkan oleh kesejukan airnya, dan sebaliknya ketertutupannya berangsur membuka secara bijaksana. Saya, yang tadinya tidak bisa apa-apa dalam mengurus rumah tangga, secara bertahap mulai mengerti tugas dan tanggung jawab dengan bimbingan istri saya.
Saat itulah, masing-masing dari kami menginsafi bahwa perbedaan tidak harus berseberangan, melainkan mendorong kami untuk saling menata diri membangun jembatan komunikasi. Saat itulah, masing-masing kami menyadari bahwa kami telah pulang ke rumah yang sesungguhnya, yaitu hati yang beratapkan cinta. Cinta yang bercirikan Pengorbanan – dengan meleburkan diri (ego) kita ke dalam subyek yang kita cintai, sehingga tidak ada lagi jarak yang memisahkan kita dengan subyek; Pengakuan sepenuh hati atas eksistensi subyek, dengan mendaraskan (recite) namanya berulang-ulang atau memvisualkan kehadirannya di benak kita; dan Penerimaan atas kenyataan diri subyek seutuhnya, sejati, tidak diada-adakan.
Perbedaan budaya ada di mana-mana, bukan hanya dalam kehidupan perkawinan. Dalam hidup bermasyarakat, perbedaan budaya menjadi dinamika di dalamnya, namun alih-alih membenturkan perbedaan-perbedaan tersebut, adalah lebih baik jika kita dapat saling melengkapi, apalagi kehidupan manusia hakikatnya merupakan organisme, di mana yang satu bergantung pada yang lainnya agar dapat sintas (survive).
Jika kita mau memahami budaya orang lain, atau kita mampu beradaptasi dengan budaya yang berbeda dari yang menjadi landasan pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan kita sehari-hari, di mana pun kita berada kita akan serasa berada di rumah sendiri. Pada banyak kasus, kita seakan pulang ke rumah yang sesungguhnya, yaitu tempat di mana keakuan kita telah ‘mati’ dan karenanya mampu berpadu dengan orang lain dengan menafikan perbedaan suku, ras, ideologi, agama atau kepercayaan, dan paradigma. Di rumah yang sesungguhnya, menyurut ego kita, lebur dalam pemahaman bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita juga, yang seyogianya tak kita musuhi atau jauhi. Malah, sebaliknya, harus kita syukuri, karena kehadirannya dapat mengisi atau melengkapi kekurangan kita.
Saudara Subud saya, seorang laki-laki Eropa, pernah mengembara ke salah satu negeri di Afrika. Ia sempat tidak betah, lantaran makanannya yang berminyak tidak cocok dengan selera Eropanya, udaranya yang panas membuatnya gerah dan mendidihkan darahnya, serta masyarakatnya yang kaku membuat ia merasa dimusuhi. Lalu, datanglah nasihat ibunya, agar ia melakoni ‘kunci’ dari Latihan Kejiwaan Subud, yaitu ‘menerima dengan ikhlas dan rida (cinta)’. Apa yang terjadi kemudian? Saudara Subud saya itu serasa pulang ke rumah: makanan yang tadinya tidak berkenan baginya tiba-tiba terasa lezat; udara yang panas terasa menyejukkan, dan setiap orang yang ditemuinya bersikap ramah padanya. Itulah pancaran Cinta yang berlandaskan pengorbanan, pengakuan dan penerimaan dengan sabar dan ikhlas, yang bakal membuat kita yang bersedia merangkulnya serasa pulang ke rumah yang sesungguhnya di mana pun kita berada.
Lain lagi pengalaman saya. Saya pernah bertentangan demikian hebatnya dengan kawan saya perihal sepele: soal desain komunikasi visual. Dia menganggap desain saya – yang minimalis – jelek, karena banyak ruang kosong. Saya menganggap desainnya – yang penuh sesak – kampungan. Akhirnya, setelah saling mengumbar emosi selama beberapa waktu, saya menginsafi, ini bukan masalah pribadi (walau dalam berbagai hal yang bersangkutan sering berseberangan dengan saya, yang jika saya menuruti ego bakal menyulut konflik berkepanjangan), melainkan menyangkut budaya.
Desain komunikasi visual garapannya terkena imbas budaya dari mana ia berasal. Saya pernah hidup selama lima tahun di tengah liputan budaya di mana kawan saya itu hidup; masyarakatnya cenderung keras, egaliter, dan (jika bicara) ramai – yang terejawantahkan dalam desain komunikasi visual yang tumpat dengan gambar, tulisan dan warna dalam penataan yang tak artistik. Untuk menjembatani perbedaan gaya desain komunikasi visual kami, maka lain kali saya akan memadukan kedua gaya tersebut, di mana desainnya akan bernuansa ‘kosong namun penuh’ – dengan memanfaatkan ornamentasi dalam tampilan yang sekilas tak tampak tetapi sebenarnya ada.
Saat saya berdamai dengan kawan saya tadi, serasa saya pulang ke rumah yang sesungguhnya, di mana hati kami menyatu dalam ruang perbedaan yang berpadu, saling mengisi.©
Salam,
Tampilkan postingan dengan label Terimakasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terimakasih. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 April 2010
Senin, 05 April 2010
Terang di Balik Tangan
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Benci dosanya, jangan pendosanya.” —Mahatma Gandhi
“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” —QS 14: 4
Ada sebuah pengalaman nyeleneh yang saya peroleh dalam perhelatan Musyawarah Nasional PPK Subud Indonesia, 5-7 Maret 2010 silam, yang masih tersimpan di benak saya hingga kini. Pengalaman itu begitu pribadi sifatnya sekaligus menggetarkan – tentang bahwa Terang (baca: pencerahan) itu tersembunyi namun menyertai hidup kita selalu, dan untuk mendapatkannya adalah ‘semudah membalikkan tangan’ jika kita merelakannya.
Sebuah kejadian yang telah lama lewat sempat membuat saya menyimpan ketidaksukaan pribadi pada salah seorang saudara Subud saya, seorang perempuan muda, yang menurut penilaian pribadi saya bersikap sangat arogan ketika saya dikenalkan padanya. Segala sesuatu mengenainya sejak saat itu menjadi personal: saya cenderung membuang muka bila bertemu dengannya secara tak sengaja dan memendam hasrat untuk meludahi tampang angkuhnya. Tidak ada pada dirinya yang saya anggap positif; bahkan keberadaannya di dunia ini pun saya anggap tidak ada gunanya. Ia tidak memberi saya alasan apa pun, dari berbagai segi, untuk menyukainya. Dan keadaan itu telah berlangsung lebih dari dua tahun – dan saya juga tidak keberatan untuk mengkonfrontasinya selama bertahun-tahun ke depan.
Saya pernah menjadi pribadi yang mudah membenci orang-orang yang berbuat salah pada diri saya tanpa saya pernah memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menjadi tercerahkan lewat kejadian-kejadian itu. Saya pernah menjadi sosok orang yang tidak mampu memaknai isyarat apa pun yang menyeruak dari hubungan-hubungan dengan orang lain, karena tangan batin saya senantiasa mengepal dengan keras (memendam amarah), sehingga tak mampu melihat Terang di baliknya.
Peristiwa di ajang Munas PPK Subud Indonesia yang berlangsung di kota Semarang baru-baru ini seakan telah meregangkan otot-otot tangan batin saya, yang membuka kemungkinan saya untuk mengintip Terang di baliknya. Saya bertemu, secara tak sengaja, dengan perempuan muda yang tersebut di atas. Seolah telah terlatih dengan sangat baik untuk mengantisipasi keadaan itu, spontan saya membuang muka. Tidak, orang semacam dia tidak mendapat tempat di hati saya, dalam hidup saya, bahkan tak layak bagi mata saya.
Namun, sejurus kemudian, ketika saya menoleh padanya, saya bahkan tidak memercayai diri saya sendiri – bahkan sempat saya mengumpat diri sendiri. Betapa tidak, rasa cinta yang mendalam – yang membuat hati saya bergetar – pada sosok ‘yang memuakkan’ saya selama ini kontan menyergap saya. Saya kebingungan sendiri, dari mana rasa itu datang, dan apa alasannya. Saat itu, saya merasakan kesejatiannya adalah saudara (adik) yang baginya saya harus menuangkan kasih tinimbang benci. Menyeruak dari kedalaman hati saya keinginan untuk melindunginya bahkan dari sifat-sifat tak terpuji saya.
Saat itu, saya menjadi saksi bisu (saya begitu malu pada diri sendiri maupun orang lain untuk mengungkapkannya secara lisan) bagaimana sang Cinta membalikkan hati saya semudah membalikkan tangan, dan di baliknya saya menemukan Terang: wajah sejati dari orang yang selama ini justru saya benci – yang karena itu saya tidak memberi kesempatan pada diri ini untuk berusaha menggali makna di balik eksistensinya.
Meski saat itu saya merasa sudah gila lantaran mendadak sontak benar-benar cinta pada orang yang di pikiran saya, yang beriklim amarah, mendapat tak lebih dari benci, saya menginsafi Terang yang tersembunyi dari penglihatan lahiriah kita semua, yang dengan kesediaan kita untuk merelakan dapat terungkap dengan mudah. Semudah membalikkan tangan.©
Salam
“Benci dosanya, jangan pendosanya.” —Mahatma Gandhi
“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” —QS 14: 4
Ada sebuah pengalaman nyeleneh yang saya peroleh dalam perhelatan Musyawarah Nasional PPK Subud Indonesia, 5-7 Maret 2010 silam, yang masih tersimpan di benak saya hingga kini. Pengalaman itu begitu pribadi sifatnya sekaligus menggetarkan – tentang bahwa Terang (baca: pencerahan) itu tersembunyi namun menyertai hidup kita selalu, dan untuk mendapatkannya adalah ‘semudah membalikkan tangan’ jika kita merelakannya.
Sebuah kejadian yang telah lama lewat sempat membuat saya menyimpan ketidaksukaan pribadi pada salah seorang saudara Subud saya, seorang perempuan muda, yang menurut penilaian pribadi saya bersikap sangat arogan ketika saya dikenalkan padanya. Segala sesuatu mengenainya sejak saat itu menjadi personal: saya cenderung membuang muka bila bertemu dengannya secara tak sengaja dan memendam hasrat untuk meludahi tampang angkuhnya. Tidak ada pada dirinya yang saya anggap positif; bahkan keberadaannya di dunia ini pun saya anggap tidak ada gunanya. Ia tidak memberi saya alasan apa pun, dari berbagai segi, untuk menyukainya. Dan keadaan itu telah berlangsung lebih dari dua tahun – dan saya juga tidak keberatan untuk mengkonfrontasinya selama bertahun-tahun ke depan.
Saya pernah menjadi pribadi yang mudah membenci orang-orang yang berbuat salah pada diri saya tanpa saya pernah memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menjadi tercerahkan lewat kejadian-kejadian itu. Saya pernah menjadi sosok orang yang tidak mampu memaknai isyarat apa pun yang menyeruak dari hubungan-hubungan dengan orang lain, karena tangan batin saya senantiasa mengepal dengan keras (memendam amarah), sehingga tak mampu melihat Terang di baliknya.
Peristiwa di ajang Munas PPK Subud Indonesia yang berlangsung di kota Semarang baru-baru ini seakan telah meregangkan otot-otot tangan batin saya, yang membuka kemungkinan saya untuk mengintip Terang di baliknya. Saya bertemu, secara tak sengaja, dengan perempuan muda yang tersebut di atas. Seolah telah terlatih dengan sangat baik untuk mengantisipasi keadaan itu, spontan saya membuang muka. Tidak, orang semacam dia tidak mendapat tempat di hati saya, dalam hidup saya, bahkan tak layak bagi mata saya.
Namun, sejurus kemudian, ketika saya menoleh padanya, saya bahkan tidak memercayai diri saya sendiri – bahkan sempat saya mengumpat diri sendiri. Betapa tidak, rasa cinta yang mendalam – yang membuat hati saya bergetar – pada sosok ‘yang memuakkan’ saya selama ini kontan menyergap saya. Saya kebingungan sendiri, dari mana rasa itu datang, dan apa alasannya. Saat itu, saya merasakan kesejatiannya adalah saudara (adik) yang baginya saya harus menuangkan kasih tinimbang benci. Menyeruak dari kedalaman hati saya keinginan untuk melindunginya bahkan dari sifat-sifat tak terpuji saya.
Saat itu, saya menjadi saksi bisu (saya begitu malu pada diri sendiri maupun orang lain untuk mengungkapkannya secara lisan) bagaimana sang Cinta membalikkan hati saya semudah membalikkan tangan, dan di baliknya saya menemukan Terang: wajah sejati dari orang yang selama ini justru saya benci – yang karena itu saya tidak memberi kesempatan pada diri ini untuk berusaha menggali makna di balik eksistensinya.
Meski saat itu saya merasa sudah gila lantaran mendadak sontak benar-benar cinta pada orang yang di pikiran saya, yang beriklim amarah, mendapat tak lebih dari benci, saya menginsafi Terang yang tersembunyi dari penglihatan lahiriah kita semua, yang dengan kesediaan kita untuk merelakan dapat terungkap dengan mudah. Semudah membalikkan tangan.©
Salam
Selasa, 23 Maret 2010
Berserah Diri Vs. Terserah Diri
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Untuk bisa menjadi diri sendiri, dan tidak takut apakah benar atau salah, adalah lebih mengagumkan daripada kepengecutan yang ada dalam kepasrahan demi kesesuaian belaka.” —Irving Wallace (1916-1990), penulis skenario laris Amerika Serikat
Beberapa hari menjelang keberangkatan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia ke Semarang pada tanggal 3 Maret 2010, untuk berkonsolidasi dengan panitia penyelenggara Musyawarah Nasional (Munas) PPK Subud Indonesia yang diselenggarakan di kota itu, 5-7 Maret 2010, saya masih diliputi kebimbangan mengenai apakah saya jadi ikut atau tidak. Hari demi hari lewat dengan saya hanya duduk menanti ‘wangsit’ yang saya harapkan dapat memastikan jadi tidaknya saya berangkat ke Semarang.
Mengapa saya demikian ragu adalah karena dalam minggu itu (1-7 Maret) saya tengah menanti penugasan-penugasan dari dua klien saya, berupa wawancara dengan dewan direksi dan dewan komisaris dalam rangka penulisan laporan tahunan sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) serta syuting profil video sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di industri keramahtamahan (hospitality industry). Untuk yang tersebut terakhir, saya malah harus terbang ke Bali dan Lombok.
Sehari sebelum tanggal 3 Maret, saya ditelepon oleh Sekretaris Nasional PPK Subud Indonesia, yang menanyakan apakah saya jadi ikut ke Semarang. Dengan berat hati, saya menidakkan, berhubung jadwal kerja saya sangat padat pekan itu. Pada 3 Maret saja saya sudah dipastikan untuk mewawancarai dewan direksi dan dewan komisaris BUMD tersebut di atas. Tetapi segera setelah saya akhiri pembicaraan telepon saya mendapat pencerahan: “Berserah diri bukan terserah diri, duduk berpangku tangan menunggu datangnya tuntunan. Kamu harus berniat dengan sungguh-sungguh dan mewujudkan niat itu dalam tindakan, maka seluruh alam semesta akan bekerja mewujudkannya. Kamu harus berani memilih dan berani pula mempertanggungjawabkan pilihan itu.”
Saya menarik napas panjang dan mengembuskannya lamat-lamat sambil memejamkan mata. Ada kedamaian yang mengalir di dalam diri, keheningan namun juga kekuatan. Ya, saya memastikan diri, berserah diri bukan terserah diri, menanti secara pasif apa yang akan datang kepada saya, melainkan tindakan proaktif untuk berusaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.
Saya pun memberitahu klien saya, yang menanti kehadiran saya pada 3 Maret sore untuk mewawancarai dewan direksi dan dewan komisarisnya, bahwa saya harus membatalkannya lantaran pada 3 Maret pagi saya harus mengejar kereta api ke Semarang untuk ‘urusan yang tak kalah pentingnya’. Klien saya dapat memahaminya, dan menjadwal ulang wawancara itu: tanggal 8 Maret, pukul 10 pagi. Jadi, tidak ada masalah. Selebihnya, saya hanya berdoa, semoga jadwal syuting profil video dari klien saya yang lainnya tidak datang pada hari-hari sebelum Munas; kalau pun saya harus syuting juga, sementara saya sudah kepalang berada di Semarang, saya akan segera balik ke Jakarta, bagaimanapun caranya. Ketetapan hati itu membuat saya tenang melewati hari-hari di Semarang. Puji syukur, hingga Munas berakhir pada 7 Maret, saya tidak diminta pulang ke Jakarta untuk mengurus syuting, hal mana menandaskan kepahaman saya bahwa berserah diri bukanlah terserah diri.
Pada kebanyakan gerakan spiritual, bahkan agama-agama resmi, yang menjadikan berserah diri sebagai tema sentralnya, dan berhasil menanamkannya sebagai amalan kemuliaan hidup bagi pengikutnya, tak jarang dijumpai kecenderungan bahwa sikap batiniah itu dimaknai sekadar sebagai momentum menunggu yang sangat pasif, serta menafikan kerja akal pikir. Pendek kata, berserah diri bagi kebanyakan orang masih diwarnai dengan sikap dan laku terserah diri. Ini adalah apa yang disebut sebagai – meminjam istilah saudara Subud saya – ‘jebakan spiritual’.
Dalam bukunya, Awakening to the Sacred: Menggapai Kedalaman Rohani dalam Kegalauan Hidup Sehari-hari (Jakarta: Gramedia, 2002), Lama Surya Das menegaskan bahwa bahkan meditasi, yang sering dianggap sebagai sekadar duduk diam sambil memejamkan mata dan berkonsentrasi pada napas, sejatinya merupakan tindak proaktif dan partisipatif di mana meditator sepenuhnya menyadari kekiniannya; hadir sepenuhnya di saat ini dalam keadaan apa pun – diam atau bergerak. “(I)ni membantu kita memberikan perhatian pada apa yang tengah kita kerjakan persis pada saat kita mengerjakannya,” tulis bhiksu Buddhisme Tibet bernama asli Jeffrey Miller itu di halaman 213 bukunya.
Kebanyakan kita takut menghadapi konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan, kecuali tindakan tersebut sudah dipastikan bahwa dampaknya membawa kebaikan. Kebanyakan kita lupa kalau Yang Maha Kuasa tidak pernah tidur; Dia memperhatikan kita, dan senantiasa memberi solusi – yang disalurkanNya lewat jiwa-jiwa yang tenang – meski kita salah memilih jalan atau salah dalam mengambil keputusan. Kenyataan ini menandaskan perlunya kita bertindak terlebih dahulu untuk ‘melihat’ tuntunanNya. Salah atau benar tidak lagi relevan bagi mereka yang telah menyelami samudra makna, yang bisa menerima semua dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, kalah-menang, hidup-mati) dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal.
Tidak ada yang tidak bisa, jika saja kita percaya. Tidak ada manusia yang tidak mampu. Ken Robinson, Ph.D. dalam The Element: How Finding Your Passion Changes Everything. (New York: Penguin Books, 2009) mengungkapkan kelumpuhan yang dideritanya akibat polio yang menyerangnya pada usia empat tahun tidak harus membuat ia duduk berpangku tangan di kursi roda. Dengan kaki kanannya yang lumpuh ia tetap mampu berlari mengejar impiannya – dan jadilah ia kini pakar pengembangan inovasi dan sumber daya manusia yang diakui secara internasional! Ia merelakan kenyataan bahwa dirinya cacat, tetapi ia berpikir tidak ada gunanya ia menyesali kenyataan itu – ia tidak membiarkan cacatnya membatasi dirinya.
Ada orang-orang di sekitar kita yang menjadikan berserah diri sebagai ‘legalisasi’ atas kemalasan mereka, untuk menyamarkan ketakutan mereka untuk bertindak. Apakah ini yang akan Anda pilih? Terserah diri Anda, deh.©
Salam,
“Untuk bisa menjadi diri sendiri, dan tidak takut apakah benar atau salah, adalah lebih mengagumkan daripada kepengecutan yang ada dalam kepasrahan demi kesesuaian belaka.” —Irving Wallace (1916-1990), penulis skenario laris Amerika Serikat
Beberapa hari menjelang keberangkatan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia ke Semarang pada tanggal 3 Maret 2010, untuk berkonsolidasi dengan panitia penyelenggara Musyawarah Nasional (Munas) PPK Subud Indonesia yang diselenggarakan di kota itu, 5-7 Maret 2010, saya masih diliputi kebimbangan mengenai apakah saya jadi ikut atau tidak. Hari demi hari lewat dengan saya hanya duduk menanti ‘wangsit’ yang saya harapkan dapat memastikan jadi tidaknya saya berangkat ke Semarang.
Mengapa saya demikian ragu adalah karena dalam minggu itu (1-7 Maret) saya tengah menanti penugasan-penugasan dari dua klien saya, berupa wawancara dengan dewan direksi dan dewan komisaris dalam rangka penulisan laporan tahunan sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) serta syuting profil video sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di industri keramahtamahan (hospitality industry). Untuk yang tersebut terakhir, saya malah harus terbang ke Bali dan Lombok.
Sehari sebelum tanggal 3 Maret, saya ditelepon oleh Sekretaris Nasional PPK Subud Indonesia, yang menanyakan apakah saya jadi ikut ke Semarang. Dengan berat hati, saya menidakkan, berhubung jadwal kerja saya sangat padat pekan itu. Pada 3 Maret saja saya sudah dipastikan untuk mewawancarai dewan direksi dan dewan komisaris BUMD tersebut di atas. Tetapi segera setelah saya akhiri pembicaraan telepon saya mendapat pencerahan: “Berserah diri bukan terserah diri, duduk berpangku tangan menunggu datangnya tuntunan. Kamu harus berniat dengan sungguh-sungguh dan mewujudkan niat itu dalam tindakan, maka seluruh alam semesta akan bekerja mewujudkannya. Kamu harus berani memilih dan berani pula mempertanggungjawabkan pilihan itu.”
Saya menarik napas panjang dan mengembuskannya lamat-lamat sambil memejamkan mata. Ada kedamaian yang mengalir di dalam diri, keheningan namun juga kekuatan. Ya, saya memastikan diri, berserah diri bukan terserah diri, menanti secara pasif apa yang akan datang kepada saya, melainkan tindakan proaktif untuk berusaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.
Saya pun memberitahu klien saya, yang menanti kehadiran saya pada 3 Maret sore untuk mewawancarai dewan direksi dan dewan komisarisnya, bahwa saya harus membatalkannya lantaran pada 3 Maret pagi saya harus mengejar kereta api ke Semarang untuk ‘urusan yang tak kalah pentingnya’. Klien saya dapat memahaminya, dan menjadwal ulang wawancara itu: tanggal 8 Maret, pukul 10 pagi. Jadi, tidak ada masalah. Selebihnya, saya hanya berdoa, semoga jadwal syuting profil video dari klien saya yang lainnya tidak datang pada hari-hari sebelum Munas; kalau pun saya harus syuting juga, sementara saya sudah kepalang berada di Semarang, saya akan segera balik ke Jakarta, bagaimanapun caranya. Ketetapan hati itu membuat saya tenang melewati hari-hari di Semarang. Puji syukur, hingga Munas berakhir pada 7 Maret, saya tidak diminta pulang ke Jakarta untuk mengurus syuting, hal mana menandaskan kepahaman saya bahwa berserah diri bukanlah terserah diri.
Pada kebanyakan gerakan spiritual, bahkan agama-agama resmi, yang menjadikan berserah diri sebagai tema sentralnya, dan berhasil menanamkannya sebagai amalan kemuliaan hidup bagi pengikutnya, tak jarang dijumpai kecenderungan bahwa sikap batiniah itu dimaknai sekadar sebagai momentum menunggu yang sangat pasif, serta menafikan kerja akal pikir. Pendek kata, berserah diri bagi kebanyakan orang masih diwarnai dengan sikap dan laku terserah diri. Ini adalah apa yang disebut sebagai – meminjam istilah saudara Subud saya – ‘jebakan spiritual’.
Dalam bukunya, Awakening to the Sacred: Menggapai Kedalaman Rohani dalam Kegalauan Hidup Sehari-hari (Jakarta: Gramedia, 2002), Lama Surya Das menegaskan bahwa bahkan meditasi, yang sering dianggap sebagai sekadar duduk diam sambil memejamkan mata dan berkonsentrasi pada napas, sejatinya merupakan tindak proaktif dan partisipatif di mana meditator sepenuhnya menyadari kekiniannya; hadir sepenuhnya di saat ini dalam keadaan apa pun – diam atau bergerak. “(I)ni membantu kita memberikan perhatian pada apa yang tengah kita kerjakan persis pada saat kita mengerjakannya,” tulis bhiksu Buddhisme Tibet bernama asli Jeffrey Miller itu di halaman 213 bukunya.
Kebanyakan kita takut menghadapi konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan, kecuali tindakan tersebut sudah dipastikan bahwa dampaknya membawa kebaikan. Kebanyakan kita lupa kalau Yang Maha Kuasa tidak pernah tidur; Dia memperhatikan kita, dan senantiasa memberi solusi – yang disalurkanNya lewat jiwa-jiwa yang tenang – meski kita salah memilih jalan atau salah dalam mengambil keputusan. Kenyataan ini menandaskan perlunya kita bertindak terlebih dahulu untuk ‘melihat’ tuntunanNya. Salah atau benar tidak lagi relevan bagi mereka yang telah menyelami samudra makna, yang bisa menerima semua dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, kalah-menang, hidup-mati) dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal.
Tidak ada yang tidak bisa, jika saja kita percaya. Tidak ada manusia yang tidak mampu. Ken Robinson, Ph.D. dalam The Element: How Finding Your Passion Changes Everything. (New York: Penguin Books, 2009) mengungkapkan kelumpuhan yang dideritanya akibat polio yang menyerangnya pada usia empat tahun tidak harus membuat ia duduk berpangku tangan di kursi roda. Dengan kaki kanannya yang lumpuh ia tetap mampu berlari mengejar impiannya – dan jadilah ia kini pakar pengembangan inovasi dan sumber daya manusia yang diakui secara internasional! Ia merelakan kenyataan bahwa dirinya cacat, tetapi ia berpikir tidak ada gunanya ia menyesali kenyataan itu – ia tidak membiarkan cacatnya membatasi dirinya.
Ada orang-orang di sekitar kita yang menjadikan berserah diri sebagai ‘legalisasi’ atas kemalasan mereka, untuk menyamarkan ketakutan mereka untuk bertindak. Apakah ini yang akan Anda pilih? Terserah diri Anda, deh.©
Salam,
Selasa, 16 Maret 2010
Dan Pemenangnya adalah… Nomor Dua!
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
Saat masih aktif berlatih seni bela diri Taekwondo, bertahun-tahun silam, saya belajar suatu taktik pertarungan bebas yang bertahun-tahun kemudian sangat bermanfaat filosofinya bagi saya dalam menghadapi kehidupan. Taktik itu acap dijuluki ‘taktik mengalah untuk menang’; para taekwondoin bergerak mundur – suatu ekspresi kalah, padahal sebenarnya membuka ruang yang cukup luas untuk melancarkan tendangan balasan, atau membuat lawan kelelahan melancarkan tendangan-tendangan yang mengenai angin, sehingga dengan mudah dapat kita taklukkan, bahkan kadang tanpa perlu mengerahkan tenaga sama sekali.
Selama era kejahiliyahan saya, saya kerap melawan dengan keras segala caci maupun sikap permusuhan yang ditunjukkan orang lain pada saya. Sampai suatu saat, seorang sahabat, yang pernah lama tinggal di Jepang dan belajar seni bela diri negeri itu, menguraikan falsafah Bushido, sebuah kode etik kekesatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang, yang salah satu intinya adalah mematahkan serangan lawan dengan kelembutan, bukan hanya lewat perbuatan, tetapi juga (bisa) lewat perkataan, pikiran dan perasaan. “Ada kemenangan besar dan sejati dalam setiap kekalahan yang kita tunjukkan dengan jiwa besar,” ujar sahabat itu.
Ia melakoni bisnis, dan pesaing-pesaingnya tampaknya tak pernah bosan berusaha menjatuhkannya dengan cara yang paling kasar. Tetapi ia bergeming. Ia menyambut semuanya dengan sikap yang menyerah, tetapi pada saat yang sama ia sedang ‘menggunakan tenaga amarah mereka untuk menaklukkan mereka’.
Sungguh dahsyat kekuatan yang menyeruak dari sikap berserah diri – atau, dengan kata lain, mengalah. Ia mampu menjebol tembok yang paling tebal. Tetapi, sebagian besar kita, termasuk saya dalam kesempatan-kesempatan tertentu, amat sulit bersikap mengalah, tidak mau mengalah, karena mengalah itu menyakitkan. Rasanya, tidak ada orang yang mau menjadi nomor dua, kecuali mereka yang telah memasuki alam kefanaan – dalam memaknai hakikat dari segala sesuatu, di mana menjadi nomor satu, dua, tiga, dan seterusnya, sudah tidak relevan lagi, sudah tidak ada gunanya lagi (dan sejatinya memang tidak ada gunanya menjadi juara dalam mengarungi kehidupan, karena siapa pun yang menang, pada akhirnya, akan kalah pada usia).
Pada suatu masa, perusahaan penyewaan mobil yang berbasis di Amerika Serikat, Avis, mengampanyekan iklan-iklannya yang dengan bangga menyatakan diri sebagai nomor dua di kategorinya (nomor satunya digondol Hertz). Mereka berdalih, sebagai pihak yang secara sadar berada di nomor dua, mereka akan terus terdorong untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan, sementara kalau sudah nomor satu biasanya terlena, lupa diri, hingga akhirnya digilas oleh pesaing-pesaingnya. Dan dengan keberadaan nomor dua dan seterusnyalah diakui eksistensi nomor satu. Dalam bisnis, menjadi satu-satunya tidak terlalu menguntungkan, lantaran kita tak punya pesaing untuk dijadikan cerminan bagi perbaikan dan peningkatan kualitas produk dan layanan.
Meski rasanya – meminjam kata-kata saudara Subud saya, yang saya kira amat tepat untuk menggambarkannya – seperti menelan buah kedondong bulat-bulat, menjadi nomor dua menawarkan peluang pembelajaran dan pengenalan diri yang luar biasa. “Barangsiapa mengenal dirinya sudah pasti mengenal Tuhannya,” seru guru kebijaksanaan masa lampau. Bercirikan suka mengalah, memaafkan, rendah hati, tidak takabur saat dipuji dan tak kabur saat dicaci, menerima kesuksesan maupun kegagalan sebagai momen sesaat yang tak perlu dirisaukan – pokoknya, berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, si Nomor Dua serasa melangkah panggung kehormatan, diiringi seruan lewat pengeras suara: “Dan pemenangnya adalah... Nomor dua!” ©
Saat masih aktif berlatih seni bela diri Taekwondo, bertahun-tahun silam, saya belajar suatu taktik pertarungan bebas yang bertahun-tahun kemudian sangat bermanfaat filosofinya bagi saya dalam menghadapi kehidupan. Taktik itu acap dijuluki ‘taktik mengalah untuk menang’; para taekwondoin bergerak mundur – suatu ekspresi kalah, padahal sebenarnya membuka ruang yang cukup luas untuk melancarkan tendangan balasan, atau membuat lawan kelelahan melancarkan tendangan-tendangan yang mengenai angin, sehingga dengan mudah dapat kita taklukkan, bahkan kadang tanpa perlu mengerahkan tenaga sama sekali.
Selama era kejahiliyahan saya, saya kerap melawan dengan keras segala caci maupun sikap permusuhan yang ditunjukkan orang lain pada saya. Sampai suatu saat, seorang sahabat, yang pernah lama tinggal di Jepang dan belajar seni bela diri negeri itu, menguraikan falsafah Bushido, sebuah kode etik kekesatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang, yang salah satu intinya adalah mematahkan serangan lawan dengan kelembutan, bukan hanya lewat perbuatan, tetapi juga (bisa) lewat perkataan, pikiran dan perasaan. “Ada kemenangan besar dan sejati dalam setiap kekalahan yang kita tunjukkan dengan jiwa besar,” ujar sahabat itu.
Ia melakoni bisnis, dan pesaing-pesaingnya tampaknya tak pernah bosan berusaha menjatuhkannya dengan cara yang paling kasar. Tetapi ia bergeming. Ia menyambut semuanya dengan sikap yang menyerah, tetapi pada saat yang sama ia sedang ‘menggunakan tenaga amarah mereka untuk menaklukkan mereka’.
Sungguh dahsyat kekuatan yang menyeruak dari sikap berserah diri – atau, dengan kata lain, mengalah. Ia mampu menjebol tembok yang paling tebal. Tetapi, sebagian besar kita, termasuk saya dalam kesempatan-kesempatan tertentu, amat sulit bersikap mengalah, tidak mau mengalah, karena mengalah itu menyakitkan. Rasanya, tidak ada orang yang mau menjadi nomor dua, kecuali mereka yang telah memasuki alam kefanaan – dalam memaknai hakikat dari segala sesuatu, di mana menjadi nomor satu, dua, tiga, dan seterusnya, sudah tidak relevan lagi, sudah tidak ada gunanya lagi (dan sejatinya memang tidak ada gunanya menjadi juara dalam mengarungi kehidupan, karena siapa pun yang menang, pada akhirnya, akan kalah pada usia).
Pada suatu masa, perusahaan penyewaan mobil yang berbasis di Amerika Serikat, Avis, mengampanyekan iklan-iklannya yang dengan bangga menyatakan diri sebagai nomor dua di kategorinya (nomor satunya digondol Hertz). Mereka berdalih, sebagai pihak yang secara sadar berada di nomor dua, mereka akan terus terdorong untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan, sementara kalau sudah nomor satu biasanya terlena, lupa diri, hingga akhirnya digilas oleh pesaing-pesaingnya. Dan dengan keberadaan nomor dua dan seterusnyalah diakui eksistensi nomor satu. Dalam bisnis, menjadi satu-satunya tidak terlalu menguntungkan, lantaran kita tak punya pesaing untuk dijadikan cerminan bagi perbaikan dan peningkatan kualitas produk dan layanan.
Meski rasanya – meminjam kata-kata saudara Subud saya, yang saya kira amat tepat untuk menggambarkannya – seperti menelan buah kedondong bulat-bulat, menjadi nomor dua menawarkan peluang pembelajaran dan pengenalan diri yang luar biasa. “Barangsiapa mengenal dirinya sudah pasti mengenal Tuhannya,” seru guru kebijaksanaan masa lampau. Bercirikan suka mengalah, memaafkan, rendah hati, tidak takabur saat dipuji dan tak kabur saat dicaci, menerima kesuksesan maupun kegagalan sebagai momen sesaat yang tak perlu dirisaukan – pokoknya, berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, si Nomor Dua serasa melangkah panggung kehormatan, diiringi seruan lewat pengeras suara: “Dan pemenangnya adalah... Nomor dua!” ©
Kutukan Portfolio
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
Para pemimpin efektif menciptakan iklim di mana nilai orang ditentukan oleh kemauan mereka untuk mempelajari keahlian-keahlian baru dan menerima tugas-tugas baru, sehingga terus-menerus memperbarui pekerjaan mereka. Pertanyaan terpenting dalam evaluasi kinerja bukanlah ‘Seberapa baik Anda melakukan pekerjaan Anda sejak terakhir kali kita bertemu?’ melainkan ‘Seberapa banyak Anda mengubahnya?’.” —Colin Powell, mantan Kepala Gabungan Kepala Staf dan mantan Menteri Luar Negeri AS ke-65
Suatu hari, seorang kawan mengunjungi saya di kantor. Ia melihat-lihat rak buku yang berisi koleksi saya maupun rekan saya dan mengambil buku kecil tentang ancangan (positioning), kalau tidak salah karya Hermawan Kartajaya (saya tidak ingat lantaran sejak itu buku yang belum pernah selesai saya baca itu tidak lagi bertengger di rak buku tersebut). Di dalam buku tersebut, dibahas strategi ancangan dari sejumlah perusahaan yang menelurkan sukses besar bagi pemasaran mereka.
Saya, yang memahami bahwa dalam hidup ini yang pasti hanyalah ketidakpastian, iseng bertanya pada kawan tersebut, “Lu tau nggak buku apa itu?”
“Buku pemasaran, tentu saja. Isinya tentang strategi positioning yang menunjang pemasaran produk atau jasa,” jawab kawan saya, yakin.
“Salah!” tandas saya. “Itu buku sejarah. Yang berlaku di situ adalah untuk masa sebelum buku itu ditulis. Sebagai penambah wawasan fine-fine aja, tapi kalau lu anggap apa yang tertulis di situ bisa diaplikasikan dewasa ini, wah lu keliru. Lu perlu penyesuaian dulu dengan keadaan zaman sekarang.”
Sebagai penulis naskah iklan (copywriter), sejak karir saya masih di anak tangga pertama, saya sudah rajin mengumpulkan dan menyimpan dengan baik karya-karya iklan cetak, radio dan televisi yang naskahnya saya tulis. Resume saya pun tertatahkan dengan lebih dari seratus merek yang pernah saya tangani pekerjaan komunikasi pemasaran dan korporatnya. Akhir-akhir ini, saya menyadari bahwa itu semua tidak terlalu berguna. Saya bukan orang yang sama, dengan kualitas yang sama seperti lima belas tahun yang lalu – bisa meningkat atau pun menurun, yang tidak bisa ditentukan oleh seberapa sukses pekerjaan yang saya lakukan beberapa tahun yang telah lewat.
Dengan cara seperti itu pula saya menilai orang; bukan dari masa lalunya, melainkan seperti apa dan bagaimana dirinya sekarang. Menilai seseorang dari keadaannya di masa lalu malah acap mencelakakan kita. Saya pernah, ketika menjadi pengarah kreatif (creative director) begitu yakin akan kemampuan seorang (yang melamar sebagai) pengarah seni (art director), lantaran melihat portfolio desain iklan-iklannya yang wah, canggih, dan futuristik. Kenyataannya, dalam bekerja ia sangat payah, tidak fokus dalam berkonsep, dan mengabaikan kerja tim, yang akhirnya membuat saya menduga bahwa portfolionya milik orang lain. (Saya tak sengaja menemukan bukti bahwa salah satu karya yang diakui sebagai hasil pekerjaannya ternyata ia tiru mentah-mentah dari iklan luar negeri pemenang penghargaan). Saya telah terkena kutukan portfolio.
Kalau Anda terpaku pada ‘kejayaan masa lalu’ Anda untuk menghadapi segala sesuatu pada masa kini, sesungguhnya itu yang dinamakan kaum beragama sebagai ‘mendahului kehendak Tuhan’, alias takabur. Baru-baru ini, seorang saudara Subud saya yang merasa diejek kemampuannya oleh saya terkait sebuah perhelatan bertaraf kecil yang sedang digarapnya, menegaskan (dalam SMS-nya yang berbunyi): “Pegang kongres nasional aja beres tanpa Anda, apalagi steering committee musyawarah nasional, Cak.” Ini adalah contoh ekspresi ketakaburan. Tinimbang membesar-besarkan yang sudah lewat, lebih baik merendahkan hati di hadapanNya.
Kita semua, saya kira, punya portfolio kehidupan – yang merupakan daftar perkataan dan perbuatan, pikiran dan perasaan kita di masa lalu, namun janganlah hal itu menghambat atau mencelakakan diri kita sekarang. Masing-masing kita punya seabrek potensi yang menanti untuk dimanifestasi. Jangan karena kita merasa tidak punya pengalaman tertentu di portfolio kehidupan kita, kita menolak untuk mencoba hal-hal baru dewasa ini yang justru akan mengantarkan pembelajaran berharga bagi kita. Atau, sebaliknya, mentang-mentang kita pernah sukses mengerjakan sesuatu di masa lalu, lantas kita berhak merasa pasti berhasil pula di masa kini.
Kosongkan diri dari pikiran, perbuatan atau paradigma yang hanya berlaku di masa lalu. Kita takkan pernah tahu apa yang menanti di muka, kecuali tantangan-tantangan baru yang kita tidak tahu bentuk dan sifatnya seperti apa. Masa lalu adalah pembelajaran, bukan panduan pasti yang dapat kita jadikan pegangan untuk melangkah di hari ini. Abaikan portfolio hidup Anda, karena tanpa memperlakukannya dengan bijak, hal itu hanya akan mendatangkan kutukan.©
Salam,-
Para pemimpin efektif menciptakan iklim di mana nilai orang ditentukan oleh kemauan mereka untuk mempelajari keahlian-keahlian baru dan menerima tugas-tugas baru, sehingga terus-menerus memperbarui pekerjaan mereka. Pertanyaan terpenting dalam evaluasi kinerja bukanlah ‘Seberapa baik Anda melakukan pekerjaan Anda sejak terakhir kali kita bertemu?’ melainkan ‘Seberapa banyak Anda mengubahnya?’.” —Colin Powell, mantan Kepala Gabungan Kepala Staf dan mantan Menteri Luar Negeri AS ke-65
Suatu hari, seorang kawan mengunjungi saya di kantor. Ia melihat-lihat rak buku yang berisi koleksi saya maupun rekan saya dan mengambil buku kecil tentang ancangan (positioning), kalau tidak salah karya Hermawan Kartajaya (saya tidak ingat lantaran sejak itu buku yang belum pernah selesai saya baca itu tidak lagi bertengger di rak buku tersebut). Di dalam buku tersebut, dibahas strategi ancangan dari sejumlah perusahaan yang menelurkan sukses besar bagi pemasaran mereka.
Saya, yang memahami bahwa dalam hidup ini yang pasti hanyalah ketidakpastian, iseng bertanya pada kawan tersebut, “Lu tau nggak buku apa itu?”
“Buku pemasaran, tentu saja. Isinya tentang strategi positioning yang menunjang pemasaran produk atau jasa,” jawab kawan saya, yakin.
“Salah!” tandas saya. “Itu buku sejarah. Yang berlaku di situ adalah untuk masa sebelum buku itu ditulis. Sebagai penambah wawasan fine-fine aja, tapi kalau lu anggap apa yang tertulis di situ bisa diaplikasikan dewasa ini, wah lu keliru. Lu perlu penyesuaian dulu dengan keadaan zaman sekarang.”
Sebagai penulis naskah iklan (copywriter), sejak karir saya masih di anak tangga pertama, saya sudah rajin mengumpulkan dan menyimpan dengan baik karya-karya iklan cetak, radio dan televisi yang naskahnya saya tulis. Resume saya pun tertatahkan dengan lebih dari seratus merek yang pernah saya tangani pekerjaan komunikasi pemasaran dan korporatnya. Akhir-akhir ini, saya menyadari bahwa itu semua tidak terlalu berguna. Saya bukan orang yang sama, dengan kualitas yang sama seperti lima belas tahun yang lalu – bisa meningkat atau pun menurun, yang tidak bisa ditentukan oleh seberapa sukses pekerjaan yang saya lakukan beberapa tahun yang telah lewat.
Dengan cara seperti itu pula saya menilai orang; bukan dari masa lalunya, melainkan seperti apa dan bagaimana dirinya sekarang. Menilai seseorang dari keadaannya di masa lalu malah acap mencelakakan kita. Saya pernah, ketika menjadi pengarah kreatif (creative director) begitu yakin akan kemampuan seorang (yang melamar sebagai) pengarah seni (art director), lantaran melihat portfolio desain iklan-iklannya yang wah, canggih, dan futuristik. Kenyataannya, dalam bekerja ia sangat payah, tidak fokus dalam berkonsep, dan mengabaikan kerja tim, yang akhirnya membuat saya menduga bahwa portfolionya milik orang lain. (Saya tak sengaja menemukan bukti bahwa salah satu karya yang diakui sebagai hasil pekerjaannya ternyata ia tiru mentah-mentah dari iklan luar negeri pemenang penghargaan). Saya telah terkena kutukan portfolio.
Kalau Anda terpaku pada ‘kejayaan masa lalu’ Anda untuk menghadapi segala sesuatu pada masa kini, sesungguhnya itu yang dinamakan kaum beragama sebagai ‘mendahului kehendak Tuhan’, alias takabur. Baru-baru ini, seorang saudara Subud saya yang merasa diejek kemampuannya oleh saya terkait sebuah perhelatan bertaraf kecil yang sedang digarapnya, menegaskan (dalam SMS-nya yang berbunyi): “Pegang kongres nasional aja beres tanpa Anda, apalagi steering committee musyawarah nasional, Cak.” Ini adalah contoh ekspresi ketakaburan. Tinimbang membesar-besarkan yang sudah lewat, lebih baik merendahkan hati di hadapanNya.
Kita semua, saya kira, punya portfolio kehidupan – yang merupakan daftar perkataan dan perbuatan, pikiran dan perasaan kita di masa lalu, namun janganlah hal itu menghambat atau mencelakakan diri kita sekarang. Masing-masing kita punya seabrek potensi yang menanti untuk dimanifestasi. Jangan karena kita merasa tidak punya pengalaman tertentu di portfolio kehidupan kita, kita menolak untuk mencoba hal-hal baru dewasa ini yang justru akan mengantarkan pembelajaran berharga bagi kita. Atau, sebaliknya, mentang-mentang kita pernah sukses mengerjakan sesuatu di masa lalu, lantas kita berhak merasa pasti berhasil pula di masa kini.
Kosongkan diri dari pikiran, perbuatan atau paradigma yang hanya berlaku di masa lalu. Kita takkan pernah tahu apa yang menanti di muka, kecuali tantangan-tantangan baru yang kita tidak tahu bentuk dan sifatnya seperti apa. Masa lalu adalah pembelajaran, bukan panduan pasti yang dapat kita jadikan pegangan untuk melangkah di hari ini. Abaikan portfolio hidup Anda, karena tanpa memperlakukannya dengan bijak, hal itu hanya akan mendatangkan kutukan.©
Salam,-
Selasa, 16 Februari 2010
Ketika Motivasi Berbicara
Oleh ANTO dwiastoro Slamet
“Kita berbicara atas dasar prinsip, tetapi bertindak atas dasar motivasi.”
—Walter Savage Landor (1775-1864), penulis dan penyair Inggris
“Sukses bukanlah kunci menuju kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kunci menuju sukses. Jika Anda mencintai apa yang Anda lakukan, Anda akan sukses.” —Albert Schweitzer (1875-1965), teolog, musikus, filsuf dan dokter berdarah Jerman-Prancis
Tahun 1983, saat saya mengganti seragam putih-biru saya dengan putih-abu-abu, saya mulai berlatih seni bela diri asal Korea, Taekwondo. Saya menekuninya selama dua puluh tahun, mulai dari sabuk putih hingga sabuk hitam Dan II. Selama itu, hanya sekali saya turun ke ajang pertandingan, yaitu kejuaraan daerah yunior. Kelas welter-nya saya menangkan secara WO (walkover), alias tidak ada lawan.
Mengapa saya tidak pernah ikut pertandingan, selain yang tersebut di atas, adalah karena fokus saya berlatih bela diri bukanlah untuk bertarung, baik di ajang olahraga maupun di jalanan, melainkan untuk mendalami filosofinya. Ketertarikan saya pada filsafat Zen dipicu oleh kegiatan bela diri Taekwondo. Saya sampai menggagas sebuah ekspresi filosofis – ”Tinggikan falsafahmu, bukan tendanganmu; keraskan otakmu, bukan tinjumu!” – yang ternyata manjur dalam memotivasi saya untuk terus bertaekwondo hingga dua puluh tahun lamanya. Dan saya bakal terus menekuninya andaikata saya tidak mengalami cedera lutut dan punggung.
Sesuatu yang unik saya tandai ketika saya masih giat bertaekwondo. Saya pernah ikut Pelatcab (pelatihan tingkat cabang) dalam rangka menyongsong kejuaraan daerah, di mana saya dan sejumlah peserta Pelatcab lainnya dilatih secara khusus dan intensif selama sebulan, empat kali seminggu, dengan titik berat pada kyoorugi (pertarungan), karena Taekwondo versi WTF (World Taekwondo Federation) yang bermarkas di Kukkiwon, Korea Selatan, bercirikan full-body contact sparring. Saya tandai, setiap kali saya membangkitkan motivasi untuk menang saat zazen (meditasi yang dilakukan taekwondoin sebelum dan sesudah berlatih), keseluruhan diri saya, lahir dan batin, ’bahu-membahu’ mewujudkan kesuksesan. Artinya, meski secara teknik dan taktik saya kalah dari lawan saya, namun sikap positif ’tidak mau berhenti berjuang’ terus membara.
Sebuah balchagi (tendangan sabit) sempat mengempaskan badan saya ke tanah, tetapi anehnya saya tidak merasa seberapa kesakitan. Saya kembali berdiri dengan tegar dan menyongsong lawan saya dengan semangat yang sama yang meliputi diri saya sejak semula. Semua itu terjadi, simpul saya di kemudian hari, ketika saya izinkan motivasi berbicara.
Sebaliknya, ketika kemalasan yang berbicara, maka kemunduran yang saya hadapi. Selama sebulan penuh berlatih intensif memang kadang mendatangkan kejemuan. Ketika saya dijamu jemu, diri saya didominasi pikiran-pikiran negatif: kekalahan, ketidakmampuan, keletihan. Bayangan-bayangan itu pula yang kemudian menjadi kenyataan ketika saya bertarung menghadapi lawan, yang membuat saya kelak membenarkan ungkapan ”Anda adalah seperti yang Anda pikirkan”. Tanpa diiringi motivasi untuk bertanding dan menjadi juara (walaupun kalah), saya selalu berakhir babak-belur, kesakitan, dan merasa kehilangan harga diri. Setiap kali terjerembab oleh sebab serangan lawan yang telak, saya merasa berat sekali untuk kembali tegar menghadapi lawan.
Motivasi mengandung janji atau harapan, juga kekuatan. Ia adalah perantara yang membuat usaha meluncur ke arah hasil. Berbekal motivasi yang mantap, semut dapat mengangkut gajah. Bangsa yang hidup di tanah yang gersang nan kerontang akan termotivasi untuk memeluk agama yang menjanjikan surga yang hijau dan sungai-sungai mengalir di bawahnya.
Pengalaman dua puluh tahun bertaekwondo menyadarkan saya akan pentingnya untuk selalu memotivasi diri agar tegar dalam segala upaya dan tantangan. Untuk dapat mewujudkan segala sesuatu yang Anda impikan, dan tidak menyerah dalam upaya tersebut, motivasi adalah energi terbesar dan terkuat. Motivasi bersifat bebas nilai; secara normatif, suatu motivasi mungkin bersifat negatif, tetapi abaikan itu bila tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan.
Kawan saya yang mengalami masalah dengan obesitas memotivasi dirinya dengan tekad pribadi bahwa jika dirinya berhasil melangsingkan tubuhnya ia akan bercinta dengan bintang porno asal Jepang, Miyabi. Kita boleh saja mengutuk motivasi semacam itu, tetapi sementara kita buang-buang waktu dan tenaga dengan mengutuk tingkah laku orang lain, kawan saya itu berhasil menggelontor lemak dari tubuhnya, dan bersamaan dengan itu ia dengan bersemangat terus mengatakan, ”Antara gue dan Miyabi tinggal sejengkal lagi.” Begitulah, ketika motivasi berbicara, semua kendala jadi sirna.©
Salam, ANTO DWIASTORO
“Kita berbicara atas dasar prinsip, tetapi bertindak atas dasar motivasi.”
—Walter Savage Landor (1775-1864), penulis dan penyair Inggris
“Sukses bukanlah kunci menuju kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kunci menuju sukses. Jika Anda mencintai apa yang Anda lakukan, Anda akan sukses.” —Albert Schweitzer (1875-1965), teolog, musikus, filsuf dan dokter berdarah Jerman-Prancis
Tahun 1983, saat saya mengganti seragam putih-biru saya dengan putih-abu-abu, saya mulai berlatih seni bela diri asal Korea, Taekwondo. Saya menekuninya selama dua puluh tahun, mulai dari sabuk putih hingga sabuk hitam Dan II. Selama itu, hanya sekali saya turun ke ajang pertandingan, yaitu kejuaraan daerah yunior. Kelas welter-nya saya menangkan secara WO (walkover), alias tidak ada lawan.
Mengapa saya tidak pernah ikut pertandingan, selain yang tersebut di atas, adalah karena fokus saya berlatih bela diri bukanlah untuk bertarung, baik di ajang olahraga maupun di jalanan, melainkan untuk mendalami filosofinya. Ketertarikan saya pada filsafat Zen dipicu oleh kegiatan bela diri Taekwondo. Saya sampai menggagas sebuah ekspresi filosofis – ”Tinggikan falsafahmu, bukan tendanganmu; keraskan otakmu, bukan tinjumu!” – yang ternyata manjur dalam memotivasi saya untuk terus bertaekwondo hingga dua puluh tahun lamanya. Dan saya bakal terus menekuninya andaikata saya tidak mengalami cedera lutut dan punggung.
Sesuatu yang unik saya tandai ketika saya masih giat bertaekwondo. Saya pernah ikut Pelatcab (pelatihan tingkat cabang) dalam rangka menyongsong kejuaraan daerah, di mana saya dan sejumlah peserta Pelatcab lainnya dilatih secara khusus dan intensif selama sebulan, empat kali seminggu, dengan titik berat pada kyoorugi (pertarungan), karena Taekwondo versi WTF (World Taekwondo Federation) yang bermarkas di Kukkiwon, Korea Selatan, bercirikan full-body contact sparring. Saya tandai, setiap kali saya membangkitkan motivasi untuk menang saat zazen (meditasi yang dilakukan taekwondoin sebelum dan sesudah berlatih), keseluruhan diri saya, lahir dan batin, ’bahu-membahu’ mewujudkan kesuksesan. Artinya, meski secara teknik dan taktik saya kalah dari lawan saya, namun sikap positif ’tidak mau berhenti berjuang’ terus membara.
Sebuah balchagi (tendangan sabit) sempat mengempaskan badan saya ke tanah, tetapi anehnya saya tidak merasa seberapa kesakitan. Saya kembali berdiri dengan tegar dan menyongsong lawan saya dengan semangat yang sama yang meliputi diri saya sejak semula. Semua itu terjadi, simpul saya di kemudian hari, ketika saya izinkan motivasi berbicara.
Sebaliknya, ketika kemalasan yang berbicara, maka kemunduran yang saya hadapi. Selama sebulan penuh berlatih intensif memang kadang mendatangkan kejemuan. Ketika saya dijamu jemu, diri saya didominasi pikiran-pikiran negatif: kekalahan, ketidakmampuan, keletihan. Bayangan-bayangan itu pula yang kemudian menjadi kenyataan ketika saya bertarung menghadapi lawan, yang membuat saya kelak membenarkan ungkapan ”Anda adalah seperti yang Anda pikirkan”. Tanpa diiringi motivasi untuk bertanding dan menjadi juara (walaupun kalah), saya selalu berakhir babak-belur, kesakitan, dan merasa kehilangan harga diri. Setiap kali terjerembab oleh sebab serangan lawan yang telak, saya merasa berat sekali untuk kembali tegar menghadapi lawan.
Motivasi mengandung janji atau harapan, juga kekuatan. Ia adalah perantara yang membuat usaha meluncur ke arah hasil. Berbekal motivasi yang mantap, semut dapat mengangkut gajah. Bangsa yang hidup di tanah yang gersang nan kerontang akan termotivasi untuk memeluk agama yang menjanjikan surga yang hijau dan sungai-sungai mengalir di bawahnya.
Pengalaman dua puluh tahun bertaekwondo menyadarkan saya akan pentingnya untuk selalu memotivasi diri agar tegar dalam segala upaya dan tantangan. Untuk dapat mewujudkan segala sesuatu yang Anda impikan, dan tidak menyerah dalam upaya tersebut, motivasi adalah energi terbesar dan terkuat. Motivasi bersifat bebas nilai; secara normatif, suatu motivasi mungkin bersifat negatif, tetapi abaikan itu bila tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan.
Kawan saya yang mengalami masalah dengan obesitas memotivasi dirinya dengan tekad pribadi bahwa jika dirinya berhasil melangsingkan tubuhnya ia akan bercinta dengan bintang porno asal Jepang, Miyabi. Kita boleh saja mengutuk motivasi semacam itu, tetapi sementara kita buang-buang waktu dan tenaga dengan mengutuk tingkah laku orang lain, kawan saya itu berhasil menggelontor lemak dari tubuhnya, dan bersamaan dengan itu ia dengan bersemangat terus mengatakan, ”Antara gue dan Miyabi tinggal sejengkal lagi.” Begitulah, ketika motivasi berbicara, semua kendala jadi sirna.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Senin, 25 Januari 2010
Meratakan Kotak
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Usai permainan, raja dan bidak dimasukkan ke kotak yang sama.” —Peribahasa Italia
Rentetan peristiwa dalam tiga bulan terakhir (Oktober-Desember 2009) menyadarkan saya bahwa sebaiknya saya menyerahkan semua urusan kepada Sang Pencipta tinimbang kepada sesama ciptaan. Kejadiannya bermula dari permintaan Asosiasi Subud Sedunia (WSA, World Subud Association) agar pengurus nasional PPK Subud Indonesia menyampaikan laporan tertulis tentang perkembangan-perkembangan terbaru di lingkungan Subud di Indonesia, yang kelak akan dipresentasikan dalam Kongres Dunia Subud di Christchurch, Selandia Baru, 4-18 Januari 2010.
Saya meniatkan diri untuk membuat supaya tampilan laporan itu cukup representatif, baik dalam muatan maupun desain cover-nya. Untuk dapat mewujudkan itu, saya pikir saya bisa mengandalkan saudara-saudara Subud saya yang berprofesi desainer grafis. Satu orang menyanggupinya.
Seiring waktu, saya mulai merasa khawatir karena mendekati tenggat waktu bahan-bahan untuk muatan laporan belum juga ada, sedangkan orang yang sudah menyanggupi dirinya untuk mendesain cover-nya tiba-tiba mendapat limpahan pekerjaan yang membuatnya tak punya waktu untuk mengerjakan pesanan saya. Akhirnya, saya menyerah pada keputusasaan, dan memutuskan untuk membatalkan niat saya.
Di luar dugaan, melewati proses yang cepat, yang melampaui kesanggupan akal pikir saya, laporan dengan muatan dan desain cover yang saya cita-citakan pun terwujud. Semua berlangsung ‘di luar kotak’ (out-of-the-box): saya tertuntun untuk menulis dengan ketersediaan bahan yang minim dan saya pula yang mendesain cover-nya, bukan dengan program Freehand yang begitu diandalkan para desainer (dan karenanya saya pun mengandalkan mereka), melainkan dengan Power Point. Keluaran (output)-nya, ketika dicetak, ternyata sama saja kualitasnya.
Saat saya melihat hasil akhirnya, saya laksana dimarahi oleh diri saya sendiri: “Kapan kamu akan belajar, bahwa bergantung pada Tuhanmu lebih bermanfaat daripada bergantung pada sesama manusia?” Saat itu, saya menyaksikan bahwa kehadiranNya meratakan kotak-kotak yang ada di pikiran kita – bahwa pekerjaan desain hanya bisa dilakukan desainer terlatih; bahwa kita perlu bahan yang banyak untuk menulis apa pun; bahwa pekerjaan tertentu memerlukan peranti lunak tertentu yang sesuai untuknya.
Kekuasaan Tuhan melampaui itu semua, meratakan kotak-kotak dalam pikiran kita. Kita membiarkan diri kita terkotak-kotak oleh sesuatu yang tidak nyata, sedangkan Tuhan meliputi kita semua, tidak pandang bulu, tidak pandang agamanya apa, tidak mempertimbangkan jenis kelaminnya apa.
Pengalaman ini kian menyadarkan saya bahwa dengan pertolonganNya kita bahkan dapat menerobos keterbatasan kita. Dia seperti hendak memberitahu saya bahwa dalam diri kita semua terdapat potensi-potensi – yang mewakili omnipotensiNya – yang menanti untuk mengemuka, asal kita tidak membangun kotak-kotak di pikiran kita. Semua bisa diwujudkan selama kita percaya padaNya, menyerahkan semua urusan kita kepadaNya.©
Salam, ANTO DWIASTORO
“Usai permainan, raja dan bidak dimasukkan ke kotak yang sama.” —Peribahasa Italia
Rentetan peristiwa dalam tiga bulan terakhir (Oktober-Desember 2009) menyadarkan saya bahwa sebaiknya saya menyerahkan semua urusan kepada Sang Pencipta tinimbang kepada sesama ciptaan. Kejadiannya bermula dari permintaan Asosiasi Subud Sedunia (WSA, World Subud Association) agar pengurus nasional PPK Subud Indonesia menyampaikan laporan tertulis tentang perkembangan-perkembangan terbaru di lingkungan Subud di Indonesia, yang kelak akan dipresentasikan dalam Kongres Dunia Subud di Christchurch, Selandia Baru, 4-18 Januari 2010.
Saya meniatkan diri untuk membuat supaya tampilan laporan itu cukup representatif, baik dalam muatan maupun desain cover-nya. Untuk dapat mewujudkan itu, saya pikir saya bisa mengandalkan saudara-saudara Subud saya yang berprofesi desainer grafis. Satu orang menyanggupinya.
Seiring waktu, saya mulai merasa khawatir karena mendekati tenggat waktu bahan-bahan untuk muatan laporan belum juga ada, sedangkan orang yang sudah menyanggupi dirinya untuk mendesain cover-nya tiba-tiba mendapat limpahan pekerjaan yang membuatnya tak punya waktu untuk mengerjakan pesanan saya. Akhirnya, saya menyerah pada keputusasaan, dan memutuskan untuk membatalkan niat saya.
Di luar dugaan, melewati proses yang cepat, yang melampaui kesanggupan akal pikir saya, laporan dengan muatan dan desain cover yang saya cita-citakan pun terwujud. Semua berlangsung ‘di luar kotak’ (out-of-the-box): saya tertuntun untuk menulis dengan ketersediaan bahan yang minim dan saya pula yang mendesain cover-nya, bukan dengan program Freehand yang begitu diandalkan para desainer (dan karenanya saya pun mengandalkan mereka), melainkan dengan Power Point. Keluaran (output)-nya, ketika dicetak, ternyata sama saja kualitasnya.
Saat saya melihat hasil akhirnya, saya laksana dimarahi oleh diri saya sendiri: “Kapan kamu akan belajar, bahwa bergantung pada Tuhanmu lebih bermanfaat daripada bergantung pada sesama manusia?” Saat itu, saya menyaksikan bahwa kehadiranNya meratakan kotak-kotak yang ada di pikiran kita – bahwa pekerjaan desain hanya bisa dilakukan desainer terlatih; bahwa kita perlu bahan yang banyak untuk menulis apa pun; bahwa pekerjaan tertentu memerlukan peranti lunak tertentu yang sesuai untuknya.
Kekuasaan Tuhan melampaui itu semua, meratakan kotak-kotak dalam pikiran kita. Kita membiarkan diri kita terkotak-kotak oleh sesuatu yang tidak nyata, sedangkan Tuhan meliputi kita semua, tidak pandang bulu, tidak pandang agamanya apa, tidak mempertimbangkan jenis kelaminnya apa.
Pengalaman ini kian menyadarkan saya bahwa dengan pertolonganNya kita bahkan dapat menerobos keterbatasan kita. Dia seperti hendak memberitahu saya bahwa dalam diri kita semua terdapat potensi-potensi – yang mewakili omnipotensiNya – yang menanti untuk mengemuka, asal kita tidak membangun kotak-kotak di pikiran kita. Semua bisa diwujudkan selama kita percaya padaNya, menyerahkan semua urusan kita kepadaNya.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Senin, 18 Januari 2010
Mensyukuri Masa Lalu
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Saya tidak memikirkan masa lalu. Satu-satunya yang penting adalah masa sekarang yang abadi.” —W. Somerset Maugham (1874-1965), The Moon and Sixpence
Semasa kecil, saya adalah anak lemah penderita bronchitis yang tidak punya banyak teman, kurang pergaulan, pemalu sekaligus pendiam. Dunia yang saya nikmati adalah alam imajinasi saya yang tidak terbatas, yang akhirnya membuat saya dianggap pelamun oleh guru-guru saya. Saya amat tidak menyukai keadaan ini, tetapi saya sulit melepaskan diri maupun menguasai diri.
Saya menemukan keasikan dalam berkhayal, sehingga satu-satunya pelajaran sekolah ketika saya masih tinggal di Negeri Belanda yang sulit disaingi teman-teman sekelas saya adalah mengarang. Saya punya teman khayal (imaginative friend) yang adalah diri saya sendiri, yang kepadanya saya meminta pendapat dan kepadanya saya mencurahkan kegundahan. Semua ini membuat teman-teman saya mencap saya anak aneh.
Pernahkah saya menyesali masa lalu saya yang sedemikian rupa? Jujur saja, pernah. Saya berpikir, bila saya bisa kembali ke masa lalu saya akan memperbaikinya – saya akan berusaha keras untuk tidak menjadi pribadi semacam itu. Tetapi kini, rupanya semua yang melekat pada kepribadian saya di masa lalu menjadi bekal yang sangat berguna di masa sekarang.
Berkhayal sangat membantu saya dalam beride untuk pekerjaan-pekerjaan saya kini. Saya pernah menyesali mengapa saya dahulu hanya pintar dalam pelajaran mengarang dan menggambar, yang di mata orang tua dianggap kurang bergengsi dibandingkan penguasaan pelajaran matematika dan ilmu alam. Tetapi pelajaran mengarang yang saya sukai dahulu ternyata membuat saya sekarang tak mengalami hambatan dalam mengartikulasikan ide-ide lewat kata-kata. Kebiasaan ‘bergaul’ dengan diri sendiri memampukan saya dalam melakukan dialog intrapribadi, yang, pada gilirannya, membantu saya dalam berkomunikasi antarpribadi. Pendek kata, dengan kenyataan-kenyataan yang saya terima dewasa ini mendorong saya untuk mensyukuri masa lalu saya.
Seberapa pun buruknya masa lalu kita, hal itu sesungguhnya mempersiapkan kita untuk segala sesuatu yang kita hadapi di masa kini. Masa lalu adalah untuk disyukuri, karena apa-apa yang kita hadapi saat ini, menjadi apa kita kini, adalah hasil dari masa lalu kita. Jangan disesali, apalagi membiarkan pikiran kita melekat terus pada masa lalu; pada peristiwa-peristiwa atau orang-orang yang menimbulkan kesedihan pada diri kita. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa takkan hinggap pada mereka yang tidak mau memaafkan masa lalu mereka, menolak mensyukuri setiap hal yang mengukir kekecewaan atau kesedihan di masa lalu.
Ada di antara kita mereka yang lebih suka hidup di masa lalu, baik karena masa lalu memberi mereka kesenangan maupun karena mereka belum bisa memaafkan perbuatan orang-orang dari masa lalu mereka. Keduanya menjadikan mereka orang-orang yang sulit menerima kenyataan, dan karenanya langkah mereka kini selalu terhambat – bukannya melihat ke muka malah melihat ke belakang terus, akibatnya mereka akan nabrak melulu. Masa lalu adalah untuk direnungkan, diambil hikmahnya, bukannya disesali. Peristiwa-peristiwa di masa lalu kita sesungguhnya memberi kita hikmah pembelajaran yang tak ternilai. Kecuali Anda sejarawan, tak perlulah Anda mengutak-atik masa lalu Anda; biarkanlah berlalu, maafkan semua orang, tidak usah berprasangka kepada Tuhan. Sekarang, pastikan masa depan Anda menjadi lebih baik dengan hikmah-hikmah yang Anda petik dari masa lalu Anda.
Setelah memperoleh sesuatu yang luar biasa saat ini, lihatlah ke belakang, ke perjalanan yang kita tempuh mulai dari satu titik di masa lalu. Kita akan dapat menengarai benang merah dari semua kejadian yang kita hadapi di masa lalu, masa kini, serta prospeknya di masa depan. Tengoklah ke belakang dengan keinsafan bahwa bagi masing-masing kita telah digariskan perjalanan hidup kita oleh Yang Maha Mengatur. Kekinian kita adalah hasil dari kelampauan kita. Dengan kekinian itu, yang kita insafi sebagai kenyataan yang patut disyukuri, seharusnya kita lebih tegar menatap masa depan, bukan malah menyesali masa lalu di masa kini.
Tuhan punya rencana atas masing-masing kita. Biarkan rencanaNya mewujud terlebih dahulu dengan kita menerima kehendakNya dengan perasaan yang sabar, ikhlas dan tawakal. Agar kita mampu memaafkan Tuhan apabila Dia menguji kita, mengikis prasangka kita kepadaNya. Saya yakin bahwa perbuatanNya mengandung kebaikan bagi kita, walau kadang perbuatanNya berbalut derita dan kedukaan. Asal kita bersedia menanti dengan sabar dan tawakal, perbuatanNya akan mewujud jadi kabar gembira. Saat itulah, biasanya kita menyesal telah berprasangka terhadapNya, dan akhirnya kita akan terdorong untuk mensyukuri masa lalu.©
Selamat Tahun Baru 2010. Semoga dapat mensyukuri tahun sebelumnya dan menjadikan hikmah-hikmah yang diperoleh selama tahun 2009 untuk memandu kita menggapai kesuksesan di tahun-tahun mendatang.
Salam, ANTO DWIASTORO
“Saya tidak memikirkan masa lalu. Satu-satunya yang penting adalah masa sekarang yang abadi.” —W. Somerset Maugham (1874-1965), The Moon and Sixpence
Semasa kecil, saya adalah anak lemah penderita bronchitis yang tidak punya banyak teman, kurang pergaulan, pemalu sekaligus pendiam. Dunia yang saya nikmati adalah alam imajinasi saya yang tidak terbatas, yang akhirnya membuat saya dianggap pelamun oleh guru-guru saya. Saya amat tidak menyukai keadaan ini, tetapi saya sulit melepaskan diri maupun menguasai diri.
Saya menemukan keasikan dalam berkhayal, sehingga satu-satunya pelajaran sekolah ketika saya masih tinggal di Negeri Belanda yang sulit disaingi teman-teman sekelas saya adalah mengarang. Saya punya teman khayal (imaginative friend) yang adalah diri saya sendiri, yang kepadanya saya meminta pendapat dan kepadanya saya mencurahkan kegundahan. Semua ini membuat teman-teman saya mencap saya anak aneh.
Pernahkah saya menyesali masa lalu saya yang sedemikian rupa? Jujur saja, pernah. Saya berpikir, bila saya bisa kembali ke masa lalu saya akan memperbaikinya – saya akan berusaha keras untuk tidak menjadi pribadi semacam itu. Tetapi kini, rupanya semua yang melekat pada kepribadian saya di masa lalu menjadi bekal yang sangat berguna di masa sekarang.
Berkhayal sangat membantu saya dalam beride untuk pekerjaan-pekerjaan saya kini. Saya pernah menyesali mengapa saya dahulu hanya pintar dalam pelajaran mengarang dan menggambar, yang di mata orang tua dianggap kurang bergengsi dibandingkan penguasaan pelajaran matematika dan ilmu alam. Tetapi pelajaran mengarang yang saya sukai dahulu ternyata membuat saya sekarang tak mengalami hambatan dalam mengartikulasikan ide-ide lewat kata-kata. Kebiasaan ‘bergaul’ dengan diri sendiri memampukan saya dalam melakukan dialog intrapribadi, yang, pada gilirannya, membantu saya dalam berkomunikasi antarpribadi. Pendek kata, dengan kenyataan-kenyataan yang saya terima dewasa ini mendorong saya untuk mensyukuri masa lalu saya.
Seberapa pun buruknya masa lalu kita, hal itu sesungguhnya mempersiapkan kita untuk segala sesuatu yang kita hadapi di masa kini. Masa lalu adalah untuk disyukuri, karena apa-apa yang kita hadapi saat ini, menjadi apa kita kini, adalah hasil dari masa lalu kita. Jangan disesali, apalagi membiarkan pikiran kita melekat terus pada masa lalu; pada peristiwa-peristiwa atau orang-orang yang menimbulkan kesedihan pada diri kita. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa takkan hinggap pada mereka yang tidak mau memaafkan masa lalu mereka, menolak mensyukuri setiap hal yang mengukir kekecewaan atau kesedihan di masa lalu.
Ada di antara kita mereka yang lebih suka hidup di masa lalu, baik karena masa lalu memberi mereka kesenangan maupun karena mereka belum bisa memaafkan perbuatan orang-orang dari masa lalu mereka. Keduanya menjadikan mereka orang-orang yang sulit menerima kenyataan, dan karenanya langkah mereka kini selalu terhambat – bukannya melihat ke muka malah melihat ke belakang terus, akibatnya mereka akan nabrak melulu. Masa lalu adalah untuk direnungkan, diambil hikmahnya, bukannya disesali. Peristiwa-peristiwa di masa lalu kita sesungguhnya memberi kita hikmah pembelajaran yang tak ternilai. Kecuali Anda sejarawan, tak perlulah Anda mengutak-atik masa lalu Anda; biarkanlah berlalu, maafkan semua orang, tidak usah berprasangka kepada Tuhan. Sekarang, pastikan masa depan Anda menjadi lebih baik dengan hikmah-hikmah yang Anda petik dari masa lalu Anda.
Setelah memperoleh sesuatu yang luar biasa saat ini, lihatlah ke belakang, ke perjalanan yang kita tempuh mulai dari satu titik di masa lalu. Kita akan dapat menengarai benang merah dari semua kejadian yang kita hadapi di masa lalu, masa kini, serta prospeknya di masa depan. Tengoklah ke belakang dengan keinsafan bahwa bagi masing-masing kita telah digariskan perjalanan hidup kita oleh Yang Maha Mengatur. Kekinian kita adalah hasil dari kelampauan kita. Dengan kekinian itu, yang kita insafi sebagai kenyataan yang patut disyukuri, seharusnya kita lebih tegar menatap masa depan, bukan malah menyesali masa lalu di masa kini.
Tuhan punya rencana atas masing-masing kita. Biarkan rencanaNya mewujud terlebih dahulu dengan kita menerima kehendakNya dengan perasaan yang sabar, ikhlas dan tawakal. Agar kita mampu memaafkan Tuhan apabila Dia menguji kita, mengikis prasangka kita kepadaNya. Saya yakin bahwa perbuatanNya mengandung kebaikan bagi kita, walau kadang perbuatanNya berbalut derita dan kedukaan. Asal kita bersedia menanti dengan sabar dan tawakal, perbuatanNya akan mewujud jadi kabar gembira. Saat itulah, biasanya kita menyesal telah berprasangka terhadapNya, dan akhirnya kita akan terdorong untuk mensyukuri masa lalu.©
Selamat Tahun Baru 2010. Semoga dapat mensyukuri tahun sebelumnya dan menjadikan hikmah-hikmah yang diperoleh selama tahun 2009 untuk memandu kita menggapai kesuksesan di tahun-tahun mendatang.
Salam, ANTO DWIASTORO
Dibayar untuk Bersenang-Senang
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Pekerjaan Anda adalah untuk menemukan dunia Anda dan kemudian dengan seluruh hatimu mencurahkan dirimu untuk itu.” —Buddha Gautama, 563-483 SM
Belum lama berselang, saya iseng membuat daftar pekerjaan apa saja yang membuat pelakunya dibayar untuk bersenang-senang. Selain pekerjaan saya, penulis wisata (travel writer), yang dibayar untuk berlibur, yang masuk dalam daftar tersebut adalah pemain film porno, penguji game (game tester; sementara karyawan dilarang main game selama jam kerja, orang ini malah meraup bayaran dengan bermain game sebanyak-banyaknya), orang yang digaji untuk memberi muatan pada blog atau Facebook dari perusahaan yang direpresentasi olehnya, dan…
Sampai di situ, saya berhenti mencatat, lantaran mendapat kepahaman: Jika kamu memiliki hasrat (passion) atas apa yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya apa pun pekerjaanmu kamu bisa membuat dirimu dibayar untuk bersenang-senang.
Pengalaman saya bertutur, tidak ada pekerjaan yang terlalu susah. Suatu pekerjaan menjadi susah ketika kita tidak ‘menaruh hati’ kita di dalamnya. Dan sejatinya, kita dapat melakukan pekerjaan apa saja, tak terkecuali. Yang membuat kita tidak mampu adalah diri kita sendiri, yang senantiasa membatasi diri dengan kesadaran semu bahwa kita tidak punya pengetahuan dan pengalaman, atau sekadar pesimis. Sikap (attitude) merupakan kekuatan. Jika Anda terus-menerus berkata pada diri sendiri bahwa Anda sudah terperangkap dalam rutinitas tanpa jalan keluar sama sekali, pada akhirnya Anda akan berhenti tumbuh dan berkembang. Tetapi bila Anda bersikap sebaliknya – bahwa Anda bekerja untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan impian-impian Anda, pada akhirnya Anda akan sampai ke sana.
Stres yang menimpa para pekerja dewasa ini disebabkan oleh karena mereka tidak berhasrat akan apa yang mereka kerjakan. Pemicu utamanya adalah lantaran mereka menomorsatukan uang/gaji, bukannya bertujuan untuk merealisasi potensi-potensi (yang masih dibiarkan) terpendam serta untuk mengaktualisasi diri. Bekerja sejatinya adalah untuk pertumbuhan diri. Jika kita tumbuh dan belajar apa pun yang kita lakukan, maka kita sedang bergerak ke arah yang tepat; kita sedang melangkah ke tempat di mana kita ingin berada. Jika sebaliknya, saya sarankan Anda agar segera meninggalkan pekerjaan tersebut dan temukan sesuatu yang membuat Anda tumbuh, atau ubah sikap Anda. Tiga belas tahun bekerja sebagai ‘orang gajian’ tidak membuat saya merasa tumbuh dan juga, akhirnya, menjadi bodoh. Walaupun pada awalnya tampaknya menakutkan, saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan status sebagai orang gajian dan melanjutkan karir saya secara freelance, yang malah membantu saya tumbuh dan meningkat kualitas intelektual saya, juga material dan spiritual saya. Sebagai freelancer, saya berpeluang untuk menumpahkan komitmen, dedikasi, kerja keras, bahkan hasrat saya. Saya berkomitmen untuk melakukan pekerjaan dengan baik, segalanya akan menyusul, dan rasanya tidak seperti sedang bekerja.
Sejumlah kerabat dan relasi saya mengeluhkan pekerjaan-pekerjaan mereka yang, kata mereka, tidak mendatangkan kebahagiaan. Mereka saya sarankan untuk meninggalkan pekerjaan-pekerjaan tersebut, dan mencari pekerjaan lain. As simple as that. Sebagian besar – jika tidak bisa dibilang semuanya – menampik kemungkinan itu, utamanya karena mereka khawatir tidak mendapat gaji sebesar yang mereka peroleh dari mengerjakan pekerjaan yang tidak mendatangkan kebahagiaan itu. Belum lagi, anggapan subyektif mereka bahwa pekerjaan lain tidak memiliki gengsi sebagaimana pekerjaan mereka saat ini. Kenyataan ini membuat saya memandang mereka sesungguhnya sedang melacurkan diri.
Saya punya segudang pengalaman yang menyatakan bahwa jika saya yakin sepenuh hati sesuatu pekerjaan dapat saya lakukan dengan baik, meski belum memiliki pengalaman mengenainya, pada akhirnya dapat saya kerjakan. Pada tingkatan ini, saya memahami adanya kekuasaan maha besar yang menuntun saya dalam melakukan pekerjaan tersebut. Yang diperlukan hanyalah niat dan percaya bahwa pekerjaan itu bisa dilakukan dan akan berhasil. Jika tuntunan ini kita ikuti, kita akan mendapat kemudahan-kemudahan (yang selalu saja membuat saya merasa bahwa saya tidak melakukan apa pun). Pengalaman itulah yang membuat saya selalu berhasrat akan pekerjaan saya.
Saya tidak pernah memedulikan nilai nominal dari imbalan yang bakal saya terima lewat pekerjaan saya. Pengalaman saya bertutur, kelewat memikirkan uang justru akan menghapus kemungkinan munculnya ide-ide hebat. Pada sejumlah pekerjaan, hasrat yang tumbuh dalam diri saya demikian dahsyat sampai saya tidak menarik bayaran apa pun. Alhasil, rezeki pun berdatangan dari berbagai arah yang tak disangka-sangka, baik rezeki material, intelektual maupun spiritual. Bagi saya, rezeki spiritual (pengalaman spiritual merengkuh kedekatan Ilahiah) melampaui kenikmatan apa pun yang bersifat materi.
Bekerja dalam keadaan kosong (tidak melekat pada hal-hal yang sejatinya tidak terkait langsung dengannya, seperti gaji, gengsi, merasa terbatas kemampuannya, pesimis dengan hasilnya, dan lain-lain) adalah momen di mana cinta akan meliputi diri kita. Dengan demikian, masuklah kita dalam daftar para pekerja yang dibayar untuk bersenang-senang.©
Salam ANTO DWIASTORO
“Pekerjaan Anda adalah untuk menemukan dunia Anda dan kemudian dengan seluruh hatimu mencurahkan dirimu untuk itu.” —Buddha Gautama, 563-483 SM
Belum lama berselang, saya iseng membuat daftar pekerjaan apa saja yang membuat pelakunya dibayar untuk bersenang-senang. Selain pekerjaan saya, penulis wisata (travel writer), yang dibayar untuk berlibur, yang masuk dalam daftar tersebut adalah pemain film porno, penguji game (game tester; sementara karyawan dilarang main game selama jam kerja, orang ini malah meraup bayaran dengan bermain game sebanyak-banyaknya), orang yang digaji untuk memberi muatan pada blog atau Facebook dari perusahaan yang direpresentasi olehnya, dan…
Sampai di situ, saya berhenti mencatat, lantaran mendapat kepahaman: Jika kamu memiliki hasrat (passion) atas apa yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya apa pun pekerjaanmu kamu bisa membuat dirimu dibayar untuk bersenang-senang.
Pengalaman saya bertutur, tidak ada pekerjaan yang terlalu susah. Suatu pekerjaan menjadi susah ketika kita tidak ‘menaruh hati’ kita di dalamnya. Dan sejatinya, kita dapat melakukan pekerjaan apa saja, tak terkecuali. Yang membuat kita tidak mampu adalah diri kita sendiri, yang senantiasa membatasi diri dengan kesadaran semu bahwa kita tidak punya pengetahuan dan pengalaman, atau sekadar pesimis. Sikap (attitude) merupakan kekuatan. Jika Anda terus-menerus berkata pada diri sendiri bahwa Anda sudah terperangkap dalam rutinitas tanpa jalan keluar sama sekali, pada akhirnya Anda akan berhenti tumbuh dan berkembang. Tetapi bila Anda bersikap sebaliknya – bahwa Anda bekerja untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan impian-impian Anda, pada akhirnya Anda akan sampai ke sana.
Stres yang menimpa para pekerja dewasa ini disebabkan oleh karena mereka tidak berhasrat akan apa yang mereka kerjakan. Pemicu utamanya adalah lantaran mereka menomorsatukan uang/gaji, bukannya bertujuan untuk merealisasi potensi-potensi (yang masih dibiarkan) terpendam serta untuk mengaktualisasi diri. Bekerja sejatinya adalah untuk pertumbuhan diri. Jika kita tumbuh dan belajar apa pun yang kita lakukan, maka kita sedang bergerak ke arah yang tepat; kita sedang melangkah ke tempat di mana kita ingin berada. Jika sebaliknya, saya sarankan Anda agar segera meninggalkan pekerjaan tersebut dan temukan sesuatu yang membuat Anda tumbuh, atau ubah sikap Anda. Tiga belas tahun bekerja sebagai ‘orang gajian’ tidak membuat saya merasa tumbuh dan juga, akhirnya, menjadi bodoh. Walaupun pada awalnya tampaknya menakutkan, saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan status sebagai orang gajian dan melanjutkan karir saya secara freelance, yang malah membantu saya tumbuh dan meningkat kualitas intelektual saya, juga material dan spiritual saya. Sebagai freelancer, saya berpeluang untuk menumpahkan komitmen, dedikasi, kerja keras, bahkan hasrat saya. Saya berkomitmen untuk melakukan pekerjaan dengan baik, segalanya akan menyusul, dan rasanya tidak seperti sedang bekerja.
Sejumlah kerabat dan relasi saya mengeluhkan pekerjaan-pekerjaan mereka yang, kata mereka, tidak mendatangkan kebahagiaan. Mereka saya sarankan untuk meninggalkan pekerjaan-pekerjaan tersebut, dan mencari pekerjaan lain. As simple as that. Sebagian besar – jika tidak bisa dibilang semuanya – menampik kemungkinan itu, utamanya karena mereka khawatir tidak mendapat gaji sebesar yang mereka peroleh dari mengerjakan pekerjaan yang tidak mendatangkan kebahagiaan itu. Belum lagi, anggapan subyektif mereka bahwa pekerjaan lain tidak memiliki gengsi sebagaimana pekerjaan mereka saat ini. Kenyataan ini membuat saya memandang mereka sesungguhnya sedang melacurkan diri.
Saya punya segudang pengalaman yang menyatakan bahwa jika saya yakin sepenuh hati sesuatu pekerjaan dapat saya lakukan dengan baik, meski belum memiliki pengalaman mengenainya, pada akhirnya dapat saya kerjakan. Pada tingkatan ini, saya memahami adanya kekuasaan maha besar yang menuntun saya dalam melakukan pekerjaan tersebut. Yang diperlukan hanyalah niat dan percaya bahwa pekerjaan itu bisa dilakukan dan akan berhasil. Jika tuntunan ini kita ikuti, kita akan mendapat kemudahan-kemudahan (yang selalu saja membuat saya merasa bahwa saya tidak melakukan apa pun). Pengalaman itulah yang membuat saya selalu berhasrat akan pekerjaan saya.
Saya tidak pernah memedulikan nilai nominal dari imbalan yang bakal saya terima lewat pekerjaan saya. Pengalaman saya bertutur, kelewat memikirkan uang justru akan menghapus kemungkinan munculnya ide-ide hebat. Pada sejumlah pekerjaan, hasrat yang tumbuh dalam diri saya demikian dahsyat sampai saya tidak menarik bayaran apa pun. Alhasil, rezeki pun berdatangan dari berbagai arah yang tak disangka-sangka, baik rezeki material, intelektual maupun spiritual. Bagi saya, rezeki spiritual (pengalaman spiritual merengkuh kedekatan Ilahiah) melampaui kenikmatan apa pun yang bersifat materi.
Bekerja dalam keadaan kosong (tidak melekat pada hal-hal yang sejatinya tidak terkait langsung dengannya, seperti gaji, gengsi, merasa terbatas kemampuannya, pesimis dengan hasilnya, dan lain-lain) adalah momen di mana cinta akan meliputi diri kita. Dengan demikian, masuklah kita dalam daftar para pekerja yang dibayar untuk bersenang-senang.©
Salam ANTO DWIASTORO
Minggu, 03 Januari 2010
Kelebihan dari Kekurangan
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
Suatu hari, begitu terburu-burunya saya berangkat untuk menyambut rezeki, saya sampai lupa membawa telepon seluler (ponsel) saya – baik yang GSM maupun yang CDMA. Saya baru teringat ketika saya sudah sangat jauh dari rumah, yang untuk kembali tidak memungkinkan lantaran keterbatasan waktu, sedangkan jalan-jalan yang saya lalui sedang ditimpa kemacetan parah. Saya pun resah, gelisah dan mendesah. Tetapi pada saat itu pula merasa sangat janggal dengan diri sendiri: Mengapa saya merasa gelisah dan terusik dengan keadaan itu?
Kegelisahan saya perlahan-lahan mereda tatkala pikiran saya melompat jauh ke belakang, ke masa-masa dahulu ketika saya belum punya ponsel, ketika ponsel masih menjadi barang langka di Indonesia, bahkan ke masa-masa awal tahun 1970an di mana kompleks tempat tinggal saya belum disinggahi listrik, di mana satu-satunya sumber hiburan adalah radio bertenaga baterei. Kadang televisi hitam-putih mengisi kehidupan berkat genset kecil yang acap merem-melek. “Ya Tuhan,” batin saya di atas sadel sepeda motor di tengah kemacetan jalan raya, “aku rupanya dihinggapi kemelekatan pada kebendaan!”
Ketika saya baru menempuh jalan spiritual, saya sulit memercayai kenyataan bahwa benda itu punya roh atau energi yang sanggup menguasai dan bahkan menaklukkan kita. Bagaimana mungkin benda yang ciptaan manusia atau diolah manusia dari apa-apa yang sudah tersedia di alam dapat menaklukkan pembuat/pengolahnya? Saya kira, Anda pun sulit memercayainya. Tetapi, coba saya rasakan diri Anda sendiri, kok Anda bisa mencintai sebuah benda dan merasa berat hati ketika benda itu hilang. Pengalaman lupa membawa ponsel, dan betapa gelisah saya dibuatnya membuktikan bahwa benda memang punya daya yang sanggup merontokkan kemuliaan kita sebagai manusia. Kalau Anda seperti saya, berarti, sadar atau tidak, kita telah memuja berhala; menuhankan segala sesuatu yang sejatinya bukan kita, atau selain Tuhan.
Pengalaman spiritual tersebut semakin kaya ketika pada tanggal 6-9 Desember lalu saya mengikuti ekspedisi Bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae, beserta jajarannya ke daerah pedalaman Papua, mengunjungi distrik paling tertinggal di antara sembilan belas distrik yang dinaungi Kabupaten Jayapura, yaitu Distrik Airu, yang mencakup lima kampung berpenduduk nomaden di kawasan hutan hujan yang dibelah sungai Nawa-Mamberamo. Istilah ‘tertinggal’ sebenarnya subyektif; hanya menurut penilaian kita yang hidup dengan segala kelebihan infrastruktur dan fasilitas perkotaan. Sebab, kenyataan yang saya jumpai di Kampung Aurina I, penduduknya dapat menciptakan dan memanfaatkan kelebihan dari kekurangan kampung mereka dalam hal infrastruktur dan sarana-sarana penunjang lainnya. Dan saya belajar banyak hal di kampung yang terdiri dari dua puluh rumah dan bangunan publik (balai pertemuan musyawarah kampung dan gereja yang terkesan darurat {makeshift}) tanpa listrik dan air bersih. Untuk sekadar menyalakan lampu selama maksimal delapan jam, setiap rumah mendapat sumbangan sel surya dari dinas energi dan pertambangan Kabupaten Jayapura serta seperangkat genset. Untuk air minum, penduduk mengandalkan sumur tadah hujan yang belakangan sudah tidak terurus. Walaupun letak kampung di tepi Sungai Nawa, namun air sungai tidak bisa dikonsumsi karena keruh akibat lumpur, yang bila masuk ke dalamnya kaki kita bakal tersedot dan tersangkut. Tak heran, jika tidak ada yang berani terjun langsung ke dalam sungai, lantaran risiko tenggelam atau kaki dicaplok buaya yang banyak menghuni perairan lebar rata-rata 75-200 meter itu. Ponsel saya tidak terpakai, karena toh tidak mendapat sinyal – anehnya, saya tidak merasa gelisah, walaupun nyata-nyata terputus hubungan saya dengan dunia luar. Saya mengikuti kebiasaan penduduk setempat yang mandi dengan air sungai yang keruh – dengan sedikit keistimewaan, yaitu di dalam kamar mandi yang berdinding dan berlantai kayu di dalam bedeng.
Tanpa kelebihan sarana dan infrastruktur, menurut ukuran hidup masyarakat kota besar yang saya kantongi, selama saya tinggal di Kampung Aurina I, ternyata hidup saya menjadi lebih tentram dan tenang, sebagaimana penduduk kampung tersebut lantaran tidak terusik sama sekali oleh keadaan bahwa kekurangan merupakan sesuatu yang harus disesali atau diratapi. Penduduknya tampak tetap bersemangat melangsungkan kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan dengan kunjungan Bupati Jayapura dan jajarannya, tak sedikit pun mereka mengeluh. Mereka malah menyambut dengan menyediakan pangan (sesuai yang mereka konsumsi sehari-hari, yaitu sagu, jagung, daging rusa dan babi hutan) dan atap.
Sebagaimana penduduk Kampung Aurina I yang dapat bersahabat dengan alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya – walaupun secara budaya tampak primitif – saya menyikapi kekurangan sebagai keadaan untuk menumbuhkembangkan kreativitas, untuk hidup bahagia dengan kesejatian diri, yang bebas kemelekatan dengan kebendaan – yang cenderung membebani ketimbang meringankan langkah kita dalam melakoni hidup ini. Di situlah letak kelebihan dari kekurangan.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Suatu hari, begitu terburu-burunya saya berangkat untuk menyambut rezeki, saya sampai lupa membawa telepon seluler (ponsel) saya – baik yang GSM maupun yang CDMA. Saya baru teringat ketika saya sudah sangat jauh dari rumah, yang untuk kembali tidak memungkinkan lantaran keterbatasan waktu, sedangkan jalan-jalan yang saya lalui sedang ditimpa kemacetan parah. Saya pun resah, gelisah dan mendesah. Tetapi pada saat itu pula merasa sangat janggal dengan diri sendiri: Mengapa saya merasa gelisah dan terusik dengan keadaan itu?
Kegelisahan saya perlahan-lahan mereda tatkala pikiran saya melompat jauh ke belakang, ke masa-masa dahulu ketika saya belum punya ponsel, ketika ponsel masih menjadi barang langka di Indonesia, bahkan ke masa-masa awal tahun 1970an di mana kompleks tempat tinggal saya belum disinggahi listrik, di mana satu-satunya sumber hiburan adalah radio bertenaga baterei. Kadang televisi hitam-putih mengisi kehidupan berkat genset kecil yang acap merem-melek. “Ya Tuhan,” batin saya di atas sadel sepeda motor di tengah kemacetan jalan raya, “aku rupanya dihinggapi kemelekatan pada kebendaan!”
Ketika saya baru menempuh jalan spiritual, saya sulit memercayai kenyataan bahwa benda itu punya roh atau energi yang sanggup menguasai dan bahkan menaklukkan kita. Bagaimana mungkin benda yang ciptaan manusia atau diolah manusia dari apa-apa yang sudah tersedia di alam dapat menaklukkan pembuat/pengolahnya? Saya kira, Anda pun sulit memercayainya. Tetapi, coba saya rasakan diri Anda sendiri, kok Anda bisa mencintai sebuah benda dan merasa berat hati ketika benda itu hilang. Pengalaman lupa membawa ponsel, dan betapa gelisah saya dibuatnya membuktikan bahwa benda memang punya daya yang sanggup merontokkan kemuliaan kita sebagai manusia. Kalau Anda seperti saya, berarti, sadar atau tidak, kita telah memuja berhala; menuhankan segala sesuatu yang sejatinya bukan kita, atau selain Tuhan.
Pengalaman spiritual tersebut semakin kaya ketika pada tanggal 6-9 Desember lalu saya mengikuti ekspedisi Bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae, beserta jajarannya ke daerah pedalaman Papua, mengunjungi distrik paling tertinggal di antara sembilan belas distrik yang dinaungi Kabupaten Jayapura, yaitu Distrik Airu, yang mencakup lima kampung berpenduduk nomaden di kawasan hutan hujan yang dibelah sungai Nawa-Mamberamo. Istilah ‘tertinggal’ sebenarnya subyektif; hanya menurut penilaian kita yang hidup dengan segala kelebihan infrastruktur dan fasilitas perkotaan. Sebab, kenyataan yang saya jumpai di Kampung Aurina I, penduduknya dapat menciptakan dan memanfaatkan kelebihan dari kekurangan kampung mereka dalam hal infrastruktur dan sarana-sarana penunjang lainnya. Dan saya belajar banyak hal di kampung yang terdiri dari dua puluh rumah dan bangunan publik (balai pertemuan musyawarah kampung dan gereja yang terkesan darurat {makeshift}) tanpa listrik dan air bersih. Untuk sekadar menyalakan lampu selama maksimal delapan jam, setiap rumah mendapat sumbangan sel surya dari dinas energi dan pertambangan Kabupaten Jayapura serta seperangkat genset. Untuk air minum, penduduk mengandalkan sumur tadah hujan yang belakangan sudah tidak terurus. Walaupun letak kampung di tepi Sungai Nawa, namun air sungai tidak bisa dikonsumsi karena keruh akibat lumpur, yang bila masuk ke dalamnya kaki kita bakal tersedot dan tersangkut. Tak heran, jika tidak ada yang berani terjun langsung ke dalam sungai, lantaran risiko tenggelam atau kaki dicaplok buaya yang banyak menghuni perairan lebar rata-rata 75-200 meter itu. Ponsel saya tidak terpakai, karena toh tidak mendapat sinyal – anehnya, saya tidak merasa gelisah, walaupun nyata-nyata terputus hubungan saya dengan dunia luar. Saya mengikuti kebiasaan penduduk setempat yang mandi dengan air sungai yang keruh – dengan sedikit keistimewaan, yaitu di dalam kamar mandi yang berdinding dan berlantai kayu di dalam bedeng.
Tanpa kelebihan sarana dan infrastruktur, menurut ukuran hidup masyarakat kota besar yang saya kantongi, selama saya tinggal di Kampung Aurina I, ternyata hidup saya menjadi lebih tentram dan tenang, sebagaimana penduduk kampung tersebut lantaran tidak terusik sama sekali oleh keadaan bahwa kekurangan merupakan sesuatu yang harus disesali atau diratapi. Penduduknya tampak tetap bersemangat melangsungkan kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan dengan kunjungan Bupati Jayapura dan jajarannya, tak sedikit pun mereka mengeluh. Mereka malah menyambut dengan menyediakan pangan (sesuai yang mereka konsumsi sehari-hari, yaitu sagu, jagung, daging rusa dan babi hutan) dan atap.
Sebagaimana penduduk Kampung Aurina I yang dapat bersahabat dengan alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya – walaupun secara budaya tampak primitif – saya menyikapi kekurangan sebagai keadaan untuk menumbuhkembangkan kreativitas, untuk hidup bahagia dengan kesejatian diri, yang bebas kemelekatan dengan kebendaan – yang cenderung membebani ketimbang meringankan langkah kita dalam melakoni hidup ini. Di situlah letak kelebihan dari kekurangan.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Bentuk Beda, Isi Sama
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Anda takkan pernah bisa menebak isi buku dari kulitnya.”
—Edwin Rolfe dan Lester Fuller, Murder in the Glass Room, 1946
Beberapa tahun belakangan ini, saya tergolong amat jarang mengonsumsi nasi. Sebaliknya, saya amat suka mi atau, sejak mengalaminya di Papua, papeda yang terbuat dari sagu. Yang tersebut terakhir merupakan karbohidrat yang nyaris murni.
Alasannya bukanlah kesehatan; bukan karena saya menderita diabetes, bukan pula lantaran saya overweight. Sehingga saya menyanggah siapa pun yang mengkritisi tindakan saya beralih dari nasi ke mi, kentang atau sagu. “Lho, kan nasi, kentang dan sagu sama-sama karbohidrat?!” sergah mereka. Iya, saya tahu, tetapi bentuknya kan berbeda dari nasi. Inti dari tindakan saya beralih dari nasi ke mi bukanlah karena saya memikirkan kesehatan saya. Saya hanya bosan melihat bentuk nasi – yang sudah saya konsumsi selama lebih dari tiga puluh tahun!
Ketika akan bertolak ke pedalaman Papua, 6 Desember 2009 lalu, seorang pendeta Kristen didaulat untuk memimpin doa, memohon lindungan dan keselamatan kepada Tuhan Allah, Bapa di Sorga. Walaupun beliau juga mempersilakan para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo yang non-Nasrani untuk berdoa menurut cara agama masing-masing, saya telah terbiasa untuk ‘masuk ke dalam’, menyelami isi dari doa dan bukan bentuk/cara berdoa. Doa yang diucapkan sang pendeta, dengan ‘bahasa Kristen’ yang saya hayati lewat isinya ternyata menggugah relijiusitas saya, sehingga doa sang pendeta pun saya amini. Bentuk boleh beda, tetapi isi ternyata tetap sama.
Kebanyakan kita terpola hidupnya berdasarkan bentuk, dan amat jarang – jika tidak bisa dibilang tidak pernah – menghayati isi dari segala sesuatu, yaitu esensinya, makna hakikinya. Kegagalan semata dipandang sebagai kegagalan, yang seolah tidak membuka peluang bagi perbaikan, sedangkan isi dari kegagalan adalah segudang pelajaran yang dapat memandu kita untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.
Pun dengan kesuksesan, yang hanya dianggap sebagai puncak dari proses ikhtiar. Padahal isi kesuksesan, lagi-lagi, adalah pembelajaran agar seyogianya kita mawas diri bahwa kesuksesan hanyalah satu tahap dari perjalanan hidup kita; bukan satu-satunya serta bukan ‘terminal terakhir’. Sukses pada saat ini belum tentu berarti sukses di kemudian hari. Isi dari gagal-sukses sejatinya adalah hikmah yang membantu kita untuk melakoni hidup secara sadar, dan darinya kita akan memperoleh kebijaksanaan.
Bentuk merupakan karunia untuk kehidupan saat ini, di dunia ini. Ketika mati, isilah yang menyertai. Namun, segala bentuk punya isi, yang hakikatnya sama, walaupun dalam tampilan bentuk tampak beda. Sejumlah kerabat dan relasi saya bertanya-tanya, kok saya bisa feel at home di tengah masyarakat Papua yang bentuk fisiknya maupun cara hidupnya berbeda dari umumnya kita di Jakarta atau Pulau Jawa, sedangkan saya baru menjejakkan kaki di Papua pada pertengahan tahun 2009 ini. Di mana pun saya berada, saya selalu memohon tuntunan Tuhan agar saya dapat menyelami isi dari budaya masyarakat di mana saya berada, dan tidak terjebak pada bentuk semata. Itulah yang menyebabkan saya bisa merasa di rumah sendiri di mana pun saya berada; di antara orang asing, di tengah umat beda agama, atau dalam berbagai suasana. Setiap perjalanan yang saya lakukan ke Papua, kini, membuat dada saya bergemuruh dengan kerinduan akan kampung halaman sendiri!
Ada mereka di antara kita yang acap merasa terganggu, hingga tingkat paranoia, dengan bentuk-bentuk yang berbeda dari yang mereka punyai. Apakah Tuhan hanya mengabulkan doa orang Islam saja, atau orang Kristen saja? Doa yang dipanjatkan sang pendeta Kristen sebelum para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo meluncur ke lokasi, maupun yang dipohonkan para peserta yang non-Nasrani, pada akhirnya membuat perjalanan itu penuh berkah lindungan dan keselamatan bagi siapa saja dalam rombongan, tak memandang agama apa yang dianutnya atau cara berdoanya. Bagaimana bentuk atau cara Anda menjalani hidup tidak usahlah dipaksakan pada orang lain hanya karena Anda melihat perbedaannya. Segala sesuatu diciptakan Tuhan untuk setiap makhluk sesuai proporsinya masing-masing, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Bentuk beda, isi sama.©
Salam, ANTO DWIASTORO
“Anda takkan pernah bisa menebak isi buku dari kulitnya.”
—Edwin Rolfe dan Lester Fuller, Murder in the Glass Room, 1946
Beberapa tahun belakangan ini, saya tergolong amat jarang mengonsumsi nasi. Sebaliknya, saya amat suka mi atau, sejak mengalaminya di Papua, papeda yang terbuat dari sagu. Yang tersebut terakhir merupakan karbohidrat yang nyaris murni.
Alasannya bukanlah kesehatan; bukan karena saya menderita diabetes, bukan pula lantaran saya overweight. Sehingga saya menyanggah siapa pun yang mengkritisi tindakan saya beralih dari nasi ke mi, kentang atau sagu. “Lho, kan nasi, kentang dan sagu sama-sama karbohidrat?!” sergah mereka. Iya, saya tahu, tetapi bentuknya kan berbeda dari nasi. Inti dari tindakan saya beralih dari nasi ke mi bukanlah karena saya memikirkan kesehatan saya. Saya hanya bosan melihat bentuk nasi – yang sudah saya konsumsi selama lebih dari tiga puluh tahun!
Ketika akan bertolak ke pedalaman Papua, 6 Desember 2009 lalu, seorang pendeta Kristen didaulat untuk memimpin doa, memohon lindungan dan keselamatan kepada Tuhan Allah, Bapa di Sorga. Walaupun beliau juga mempersilakan para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo yang non-Nasrani untuk berdoa menurut cara agama masing-masing, saya telah terbiasa untuk ‘masuk ke dalam’, menyelami isi dari doa dan bukan bentuk/cara berdoa. Doa yang diucapkan sang pendeta, dengan ‘bahasa Kristen’ yang saya hayati lewat isinya ternyata menggugah relijiusitas saya, sehingga doa sang pendeta pun saya amini. Bentuk boleh beda, tetapi isi ternyata tetap sama.
Kebanyakan kita terpola hidupnya berdasarkan bentuk, dan amat jarang – jika tidak bisa dibilang tidak pernah – menghayati isi dari segala sesuatu, yaitu esensinya, makna hakikinya. Kegagalan semata dipandang sebagai kegagalan, yang seolah tidak membuka peluang bagi perbaikan, sedangkan isi dari kegagalan adalah segudang pelajaran yang dapat memandu kita untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.
Pun dengan kesuksesan, yang hanya dianggap sebagai puncak dari proses ikhtiar. Padahal isi kesuksesan, lagi-lagi, adalah pembelajaran agar seyogianya kita mawas diri bahwa kesuksesan hanyalah satu tahap dari perjalanan hidup kita; bukan satu-satunya serta bukan ‘terminal terakhir’. Sukses pada saat ini belum tentu berarti sukses di kemudian hari. Isi dari gagal-sukses sejatinya adalah hikmah yang membantu kita untuk melakoni hidup secara sadar, dan darinya kita akan memperoleh kebijaksanaan.
Bentuk merupakan karunia untuk kehidupan saat ini, di dunia ini. Ketika mati, isilah yang menyertai. Namun, segala bentuk punya isi, yang hakikatnya sama, walaupun dalam tampilan bentuk tampak beda. Sejumlah kerabat dan relasi saya bertanya-tanya, kok saya bisa feel at home di tengah masyarakat Papua yang bentuk fisiknya maupun cara hidupnya berbeda dari umumnya kita di Jakarta atau Pulau Jawa, sedangkan saya baru menjejakkan kaki di Papua pada pertengahan tahun 2009 ini. Di mana pun saya berada, saya selalu memohon tuntunan Tuhan agar saya dapat menyelami isi dari budaya masyarakat di mana saya berada, dan tidak terjebak pada bentuk semata. Itulah yang menyebabkan saya bisa merasa di rumah sendiri di mana pun saya berada; di antara orang asing, di tengah umat beda agama, atau dalam berbagai suasana. Setiap perjalanan yang saya lakukan ke Papua, kini, membuat dada saya bergemuruh dengan kerinduan akan kampung halaman sendiri!
Ada mereka di antara kita yang acap merasa terganggu, hingga tingkat paranoia, dengan bentuk-bentuk yang berbeda dari yang mereka punyai. Apakah Tuhan hanya mengabulkan doa orang Islam saja, atau orang Kristen saja? Doa yang dipanjatkan sang pendeta Kristen sebelum para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo meluncur ke lokasi, maupun yang dipohonkan para peserta yang non-Nasrani, pada akhirnya membuat perjalanan itu penuh berkah lindungan dan keselamatan bagi siapa saja dalam rombongan, tak memandang agama apa yang dianutnya atau cara berdoanya. Bagaimana bentuk atau cara Anda menjalani hidup tidak usahlah dipaksakan pada orang lain hanya karena Anda melihat perbedaannya. Segala sesuatu diciptakan Tuhan untuk setiap makhluk sesuai proporsinya masing-masing, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Bentuk beda, isi sama.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Jumat, 18 Desember 2009
SE(RIBU)RIUS
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Satu rasa syukur yang dipanjatkan ke Langit adalah doa yang paling sempurna.” —G.E. Lessing (1729-1781)
Pada tanggal 2 Desember yang lalu, saya mengantar istri saya ke Bandar Udara Soekarno-Hatta, berhubung dia harus menghadiri pernikahan salah seorang sepupunya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya, sehingga saya berdoa semoga hari itu akan menjadi sangat istimewa bagi saya – tetapi terserah Tuhan mau bagaimana mewujudkannya.
Saya melangkah ke anjungan pengantar (waving gallery) begitu kami berpisah di muka pintu masuk terminal keberangkatan domestik. Dari arah anjungan, saya memandang ke apron (landasan beton bandara) yang diparkiri sejumlah pesawat Boeing 737 dan Airbus A320 milik maskapai penerbangan Batavia Air. Satu pesawat Boeing 737 yang paling dekat dengan titik pandang saya berada dalam keadaan mesin mati serta tidak ada kegiatan persiapan keberangkatan di sekitarnya. Tiba-tiba terlintas rasa penasaran yang sudah lama bersemayam pada diri saya akan sesuatu yang sangat sepele: Bagaimana sih pesawat jet berbadan lebar distarter mesinnya? Apakah seperti menyalakan mesin mobil atau sepeda motor? Sebab, selama ini, saya selalu saja menjumpai pesawat jet komersial berbadan lebar, jika tidak dalam kondisi siaga berangkat dengan mesin jetnya meraung-raung memekakkan telinga, ya terparkir diam dan membisu di bagian dari bandara yang disebut ramp.
Hanya dalam hitungan menit sejak rasa penasaran itu melintas, saya melihat seorang pria berseragam pilot berjalan cepat ke arah pesawat yang sedang ‘berdiam diri’ itu, menaiki tangganya, dan sebentar kemudian saya melihat silhuet pria itu di balik jendela kokpit, dengan kedua tangannya bergerak ke sana ke mari, memencet tombol-tombol instrumen kendali pesawat. Tak lama kemudian, saya tersentak: Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses penstarteran mesin jet dari sebuah pesawat komersial berbadan lebar. Dan saya sangat bersyukur karena pengalaman langka itu terjadi pada hari ulang tahun saya! Bagi saya, itu sungguh istimewa. Untuk sebuah hal sepele saja, Tuhan memperlakukannya secara serius, bahkan dua rius, tiga rius, malah seribu rius. Dari pengalaman sepele itu, saya mendapat kepahaman bahwa doa, bila dipanjatkan secara serius, dengan niat dan keyakinan sungguh-sungguh akan pengabulannya, maka Sang Penjawab Doa akan memperlakukan doa kita secara berlipat-lipat seriusnya – seribu rius!
Selanjutnya, saya membatinkan doa, “Ya Allah, perkenankanlah aku membagi pengetahuanku kepada siapa saja yang membutuhkan.” Kontan, saya didekati seorang bapak tua, yang berada di bandara dalam rangka mengantar anaknya yang akan berangkat ke Medan. Dia berasal dari Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang dari penampilannya mengesankan dirinya ‘orang udik’. Dia mengaku bahwa saat itu baru pertama kalinya ngeh dengan yang namanya bandara dan pertama kalinya pula melihat dari dekat benda bernama pesawat terbang. Dia pun mengajukan pertanyaan bertubi-tubi terkait bandara dan masalah penerbangan, yang segera menyadarkan saya akan doa yang barusan saya batinkan. Secepat itu dikabulkanNya!
Seperginya bapak tadi, saya masih berdiam di anjungan pengantar dan larut dalam kebahagiaan karena Tuhan telah menjadikan hari ulang tahun saya demikian spesial, serta retrospeksi yang menimbulkan introspeksi berkelanjutan.
Pada akhir bulan Oktober lalu, mendadak sontak timbul keinginan yang kuat pada diri saya untuk memiliki sebuah laptop Apple MacBook Pro 13” untuk mendukung pekerjaan saya yang didominasi eksplorasi kreatif. Teriring pengremehan dan pengraguan dari sejumlah kerabat dan relasi saya, mengingat laptop Mac tergolong ‘barang mahal’ sedangkan secara finansial saya termasuk golongan pengusaha ‘ekonomi memble’, tak surut hasrat saya untuk mewujudkan impian saya memiliki sebuah laptop MacBook Pro. Saya sendiri heran dengan diri saya: kok demikian nekat saya hendak menginvestasikan modal demi sebuah laptop. Namun, prinsip saya untuk selalu berpikir besar (think big), bersikap seribu rius dalam doa maupun usaha, membuat saya tak mundur sejengkal pun dari niat saya membeli MacBook Pro.
Potongan iklan cetaknya di koran, yang bertajuk Meet the New MacBook Pro, saya tempelkan pada whiteboard di kamar tidur saya, dan setiap kali akan berangkat menjemput nafkah, saya tatap potongan iklan itu laksana koboi yang siap mencabut pistolnya untuk menembak lawan duelnya, dan berucap dengan suara yang mantap, “Suatu hari kau akan menjadi milikku!” Selebihnya adalah ikhtiar dibarengi doa dengan niat serius, dua rius, tiga rius… Seribu rius!
Pada 21 November 2009, tergerak hati saya untuk mengunjungi Apple Authorized Premium Reseller di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, untuk sekadar melihat-lihat dan mencobai MacBook Pro, mudah-mudahan dapat mencambuk semangat saya untuk berusaha lebih keras agar mampu membeli laptop canggih itu. Tak dinyana, menjelang akhir tahun harganya rupanya sedang turun. Saya merasa pantat saya ditendang Gusti Allah yang menghardik, “Jika kamu meyakini sesuatu jangan ragu-ragu untuk mewujudkannya dan Aku akan membantumu!”
Saya pandangi dan raba-raba MacBook Pro yang ditampilkan di atas meja peraga itu. Tergeletak memunggunginya adalah laptop MacBook White 13” dengan spesifikasi yang tak jauh beda dari Pro (diperkuat oleh informasi dari pihak reseller sendiri). Suara batin saya pun mengemuka: “Ya, ini (MacBook Pro) tepat untukmu, tapi bukan sekarang.” Rasa penyerahan yang ikhlas segera menyeruak dalam diri saya dan tanpa perlawanan atau penentangan, walaupun istri saya sudah memastikan bahwa ada dana dalam simpanan kami untuk membeli Pro, saya akhirnya memilih MacBook White. Utamanya karena saya tidak mau menipu diri sendiri. Sebagian besar dari kebutuhan saya akan laptop MacBook adalah untuk mendukung pekerjaan saya sebagai penulis, yang tidak setiap waktu memanfaatkan aplikasi-aplikasi hiburan atau grafis di dalam alat itu.
Serangkaian pengalaman ini, dan kepahaman-kepahaman batiniah yang menyertainya, membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan pasti mengabulkan doa kita, asal kita sabar, bersyukur dan selalu berusaha secara serius, dua rius, tiga rius, bahkan seribu rius.©
“Satu rasa syukur yang dipanjatkan ke Langit adalah doa yang paling sempurna.” —G.E. Lessing (1729-1781)
Pada tanggal 2 Desember yang lalu, saya mengantar istri saya ke Bandar Udara Soekarno-Hatta, berhubung dia harus menghadiri pernikahan salah seorang sepupunya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya, sehingga saya berdoa semoga hari itu akan menjadi sangat istimewa bagi saya – tetapi terserah Tuhan mau bagaimana mewujudkannya.
Saya melangkah ke anjungan pengantar (waving gallery) begitu kami berpisah di muka pintu masuk terminal keberangkatan domestik. Dari arah anjungan, saya memandang ke apron (landasan beton bandara) yang diparkiri sejumlah pesawat Boeing 737 dan Airbus A320 milik maskapai penerbangan Batavia Air. Satu pesawat Boeing 737 yang paling dekat dengan titik pandang saya berada dalam keadaan mesin mati serta tidak ada kegiatan persiapan keberangkatan di sekitarnya. Tiba-tiba terlintas rasa penasaran yang sudah lama bersemayam pada diri saya akan sesuatu yang sangat sepele: Bagaimana sih pesawat jet berbadan lebar distarter mesinnya? Apakah seperti menyalakan mesin mobil atau sepeda motor? Sebab, selama ini, saya selalu saja menjumpai pesawat jet komersial berbadan lebar, jika tidak dalam kondisi siaga berangkat dengan mesin jetnya meraung-raung memekakkan telinga, ya terparkir diam dan membisu di bagian dari bandara yang disebut ramp.
Hanya dalam hitungan menit sejak rasa penasaran itu melintas, saya melihat seorang pria berseragam pilot berjalan cepat ke arah pesawat yang sedang ‘berdiam diri’ itu, menaiki tangganya, dan sebentar kemudian saya melihat silhuet pria itu di balik jendela kokpit, dengan kedua tangannya bergerak ke sana ke mari, memencet tombol-tombol instrumen kendali pesawat. Tak lama kemudian, saya tersentak: Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses penstarteran mesin jet dari sebuah pesawat komersial berbadan lebar. Dan saya sangat bersyukur karena pengalaman langka itu terjadi pada hari ulang tahun saya! Bagi saya, itu sungguh istimewa. Untuk sebuah hal sepele saja, Tuhan memperlakukannya secara serius, bahkan dua rius, tiga rius, malah seribu rius. Dari pengalaman sepele itu, saya mendapat kepahaman bahwa doa, bila dipanjatkan secara serius, dengan niat dan keyakinan sungguh-sungguh akan pengabulannya, maka Sang Penjawab Doa akan memperlakukan doa kita secara berlipat-lipat seriusnya – seribu rius!
Selanjutnya, saya membatinkan doa, “Ya Allah, perkenankanlah aku membagi pengetahuanku kepada siapa saja yang membutuhkan.” Kontan, saya didekati seorang bapak tua, yang berada di bandara dalam rangka mengantar anaknya yang akan berangkat ke Medan. Dia berasal dari Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang dari penampilannya mengesankan dirinya ‘orang udik’. Dia mengaku bahwa saat itu baru pertama kalinya ngeh dengan yang namanya bandara dan pertama kalinya pula melihat dari dekat benda bernama pesawat terbang. Dia pun mengajukan pertanyaan bertubi-tubi terkait bandara dan masalah penerbangan, yang segera menyadarkan saya akan doa yang barusan saya batinkan. Secepat itu dikabulkanNya!
Seperginya bapak tadi, saya masih berdiam di anjungan pengantar dan larut dalam kebahagiaan karena Tuhan telah menjadikan hari ulang tahun saya demikian spesial, serta retrospeksi yang menimbulkan introspeksi berkelanjutan.
Pada akhir bulan Oktober lalu, mendadak sontak timbul keinginan yang kuat pada diri saya untuk memiliki sebuah laptop Apple MacBook Pro 13” untuk mendukung pekerjaan saya yang didominasi eksplorasi kreatif. Teriring pengremehan dan pengraguan dari sejumlah kerabat dan relasi saya, mengingat laptop Mac tergolong ‘barang mahal’ sedangkan secara finansial saya termasuk golongan pengusaha ‘ekonomi memble’, tak surut hasrat saya untuk mewujudkan impian saya memiliki sebuah laptop MacBook Pro. Saya sendiri heran dengan diri saya: kok demikian nekat saya hendak menginvestasikan modal demi sebuah laptop. Namun, prinsip saya untuk selalu berpikir besar (think big), bersikap seribu rius dalam doa maupun usaha, membuat saya tak mundur sejengkal pun dari niat saya membeli MacBook Pro.
Potongan iklan cetaknya di koran, yang bertajuk Meet the New MacBook Pro, saya tempelkan pada whiteboard di kamar tidur saya, dan setiap kali akan berangkat menjemput nafkah, saya tatap potongan iklan itu laksana koboi yang siap mencabut pistolnya untuk menembak lawan duelnya, dan berucap dengan suara yang mantap, “Suatu hari kau akan menjadi milikku!” Selebihnya adalah ikhtiar dibarengi doa dengan niat serius, dua rius, tiga rius… Seribu rius!
Pada 21 November 2009, tergerak hati saya untuk mengunjungi Apple Authorized Premium Reseller di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, untuk sekadar melihat-lihat dan mencobai MacBook Pro, mudah-mudahan dapat mencambuk semangat saya untuk berusaha lebih keras agar mampu membeli laptop canggih itu. Tak dinyana, menjelang akhir tahun harganya rupanya sedang turun. Saya merasa pantat saya ditendang Gusti Allah yang menghardik, “Jika kamu meyakini sesuatu jangan ragu-ragu untuk mewujudkannya dan Aku akan membantumu!”
Saya pandangi dan raba-raba MacBook Pro yang ditampilkan di atas meja peraga itu. Tergeletak memunggunginya adalah laptop MacBook White 13” dengan spesifikasi yang tak jauh beda dari Pro (diperkuat oleh informasi dari pihak reseller sendiri). Suara batin saya pun mengemuka: “Ya, ini (MacBook Pro) tepat untukmu, tapi bukan sekarang.” Rasa penyerahan yang ikhlas segera menyeruak dalam diri saya dan tanpa perlawanan atau penentangan, walaupun istri saya sudah memastikan bahwa ada dana dalam simpanan kami untuk membeli Pro, saya akhirnya memilih MacBook White. Utamanya karena saya tidak mau menipu diri sendiri. Sebagian besar dari kebutuhan saya akan laptop MacBook adalah untuk mendukung pekerjaan saya sebagai penulis, yang tidak setiap waktu memanfaatkan aplikasi-aplikasi hiburan atau grafis di dalam alat itu.
Serangkaian pengalaman ini, dan kepahaman-kepahaman batiniah yang menyertainya, membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan pasti mengabulkan doa kita, asal kita sabar, bersyukur dan selalu berusaha secara serius, dua rius, tiga rius, bahkan seribu rius.©
Sabar Bikin Subur
Oleh Anto dwiastoro Slamet
“Kesabaran kita akan mencapai lebih banyak daripada kekuatan kita.”
—Edmund Burke (1729-1797)
Sebuah keprihatinan mendesak di dada saya belakangan ini terkait maraknya kasus-kasus sakit jiwa akibat kesulitan menerima kenyataan, kawin-cerai di kalangan artis yang ironisnya juga doyan bikin berita tentang perjalanan umroh mereka, korupsi merajalela, dan lain-lain perbuatan yang tidak islami. Padahal Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Keprihatinan saya memuncak setelah kemarin (29 November 2009) saya mendapat cerita tentang teman istri saya yang jadi gila gara-gara stres berat, dan salah seorang kerabat saya yang menunjukkan tanda-tanda ketidakwarasan setelah dia di-PHK yang langsung menyebabkannya depresi. Apa yang salah dengan pengajaran agama, sehingga membuat kehidupan umat terpuruk? Agama Islam, setelah saya dalami dan amalkan dengan menghayati hakikatnya, merepresentasi kedalaman dan kemuliaan dari sikap ketundukan (taslim) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, saya berkesimpulan penyebab kekisruhan dalam kehidupan umat secara umum terletak pada cara mengajarkan agama yang berfokus pada yang lahir semata, menafikan yang batin, sehingga menghambat internalisasi nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup.
Wajah yang islami ternyata tidak terwakili oleh atribut-atribut fisik, melainkan dengan senantiasa menghias batin kita dengan kesabaran. Kesabaran yang ikhlas dan diinsafi, bukan karena terpaksa, melahirkan sikap diri yang senantiasa siap menerima kenyataan; bahwa apa pun yang diberikan oleh Yang Kuasa merupakan curahan kasih sayangNya. Sabar bikin subur – menyuburkan keimanan kita, keyakinan yang hakiki terhadap kuasa Allah Swt., dan memperlancar produksi kebijaksanaan (hikmah) pada diri kita. Sabar adalah permata keislaman yang sejati. Tanpa pernah berupaya menginternalisasi nilai sabar, hidup kita menjadi berantakan, sarat kemaksiatan, iman kita menggelontor dan kita cenderung berburuk sangka kepada Tuhan.
Pengalaman pendiri Apple Inc., Steve Jobs, mengajarkan saya bahwa apabila kita bersabar dalam menjalani proses kehidupan, pada titik penghujungnya kita akan mensyukuri apa saja yang kita hadapi selama proses tersebut. Jobs mensyukuri kenyataan bahwa dia dropout dari bangku kuliah dan untuk mengisi waktu luangnya ia mengambil kursus kaligrafi. Saat itu, ia tidak menyadarinya dan tidak peduli. Ia baru mengangguk-angguk puas, seakan telah memetik hikmah, ketika Apple meluncurkan komputer Macintosh pada tahun 1984. “Kalau saya tidak pernah mengambil kursus itu di kampus, Mac takkan pernah memiliki banyak typeface atau font-font yang dispasi secara proporsional,” katanya.
Bersabar dengan apa yang diberikan Allah, bagi kebanyakan orang merupakan pekerjaan yang amat sulit. (Demikian sulit rupanya sehingga banyak orang lebih memilih jalan pintas: mau kaya mereka korupsi, kurang sabar membangun komunikasi dengan pasangan, mereka langsung memutuskan bercerai.) Bagaimanapun, kesabaran harus diupayakan agar ditumbuhkan dalam diri kita, kecuali Anda memang maunya hidup dengan susah hati terus. Landasan untuk bisa bersabar adalah rasa syukur; mensyukuri apa pun yang hinggap pada kita, senang atau susah, sebagai berkah. Bercermin pada pengalaman Steve Jobs di atas, kesusahan ketika kita sedang berproses merupakan berkah tak berkesudahan, asal kita sabar membiarkan proses itu berjalan hingga mencapai kenyataan yang dikehendakiNya.
Kita harus bervisi jauh ke depan, jangan berjangka pendek, untuk saat ini saja. Biarkan hidup merekah hingga menampakkan keindahannya. Telusuri dan temukan keindahan wajah Allah pada setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan pribadi kita, lahir maupun batin. Bersabarlah dengan duka cita, karena di dalamnya tersimpan mutiara hikmah yang menjanjikan suka cita.
Dengan kepahaman dan pengalaman langsung dengan mukjizat sabar, akhirnya saya bisa bersabar terhadap kenyataan banyaknya orang yang gila lantaran tidak bisa menerima kenyataan, artis-artis yang doyan kawin-cerai serta pejabat-pejabat di berbagai tingkatan yang gemar korupsi, walaupun secara fisik mereka mengenakan atribut yang menandai keislaman mereka. Mereka demikian karena tidak mengerti bahwa sejatinya pakaian agama yang mereka anut adalah kesabaran dalam mengamalkan ketundukan kepada Allah. Saya berdoa, semoga Tuhan mengertikan mereka bahwa justru sabar yang bikin subur.©
“Kesabaran kita akan mencapai lebih banyak daripada kekuatan kita.”
—Edmund Burke (1729-1797)
Sebuah keprihatinan mendesak di dada saya belakangan ini terkait maraknya kasus-kasus sakit jiwa akibat kesulitan menerima kenyataan, kawin-cerai di kalangan artis yang ironisnya juga doyan bikin berita tentang perjalanan umroh mereka, korupsi merajalela, dan lain-lain perbuatan yang tidak islami. Padahal Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Keprihatinan saya memuncak setelah kemarin (29 November 2009) saya mendapat cerita tentang teman istri saya yang jadi gila gara-gara stres berat, dan salah seorang kerabat saya yang menunjukkan tanda-tanda ketidakwarasan setelah dia di-PHK yang langsung menyebabkannya depresi. Apa yang salah dengan pengajaran agama, sehingga membuat kehidupan umat terpuruk? Agama Islam, setelah saya dalami dan amalkan dengan menghayati hakikatnya, merepresentasi kedalaman dan kemuliaan dari sikap ketundukan (taslim) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, saya berkesimpulan penyebab kekisruhan dalam kehidupan umat secara umum terletak pada cara mengajarkan agama yang berfokus pada yang lahir semata, menafikan yang batin, sehingga menghambat internalisasi nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup.
Wajah yang islami ternyata tidak terwakili oleh atribut-atribut fisik, melainkan dengan senantiasa menghias batin kita dengan kesabaran. Kesabaran yang ikhlas dan diinsafi, bukan karena terpaksa, melahirkan sikap diri yang senantiasa siap menerima kenyataan; bahwa apa pun yang diberikan oleh Yang Kuasa merupakan curahan kasih sayangNya. Sabar bikin subur – menyuburkan keimanan kita, keyakinan yang hakiki terhadap kuasa Allah Swt., dan memperlancar produksi kebijaksanaan (hikmah) pada diri kita. Sabar adalah permata keislaman yang sejati. Tanpa pernah berupaya menginternalisasi nilai sabar, hidup kita menjadi berantakan, sarat kemaksiatan, iman kita menggelontor dan kita cenderung berburuk sangka kepada Tuhan.
Pengalaman pendiri Apple Inc., Steve Jobs, mengajarkan saya bahwa apabila kita bersabar dalam menjalani proses kehidupan, pada titik penghujungnya kita akan mensyukuri apa saja yang kita hadapi selama proses tersebut. Jobs mensyukuri kenyataan bahwa dia dropout dari bangku kuliah dan untuk mengisi waktu luangnya ia mengambil kursus kaligrafi. Saat itu, ia tidak menyadarinya dan tidak peduli. Ia baru mengangguk-angguk puas, seakan telah memetik hikmah, ketika Apple meluncurkan komputer Macintosh pada tahun 1984. “Kalau saya tidak pernah mengambil kursus itu di kampus, Mac takkan pernah memiliki banyak typeface atau font-font yang dispasi secara proporsional,” katanya.
Bersabar dengan apa yang diberikan Allah, bagi kebanyakan orang merupakan pekerjaan yang amat sulit. (Demikian sulit rupanya sehingga banyak orang lebih memilih jalan pintas: mau kaya mereka korupsi, kurang sabar membangun komunikasi dengan pasangan, mereka langsung memutuskan bercerai.) Bagaimanapun, kesabaran harus diupayakan agar ditumbuhkan dalam diri kita, kecuali Anda memang maunya hidup dengan susah hati terus. Landasan untuk bisa bersabar adalah rasa syukur; mensyukuri apa pun yang hinggap pada kita, senang atau susah, sebagai berkah. Bercermin pada pengalaman Steve Jobs di atas, kesusahan ketika kita sedang berproses merupakan berkah tak berkesudahan, asal kita sabar membiarkan proses itu berjalan hingga mencapai kenyataan yang dikehendakiNya.
Kita harus bervisi jauh ke depan, jangan berjangka pendek, untuk saat ini saja. Biarkan hidup merekah hingga menampakkan keindahannya. Telusuri dan temukan keindahan wajah Allah pada setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan pribadi kita, lahir maupun batin. Bersabarlah dengan duka cita, karena di dalamnya tersimpan mutiara hikmah yang menjanjikan suka cita.
Dengan kepahaman dan pengalaman langsung dengan mukjizat sabar, akhirnya saya bisa bersabar terhadap kenyataan banyaknya orang yang gila lantaran tidak bisa menerima kenyataan, artis-artis yang doyan kawin-cerai serta pejabat-pejabat di berbagai tingkatan yang gemar korupsi, walaupun secara fisik mereka mengenakan atribut yang menandai keislaman mereka. Mereka demikian karena tidak mengerti bahwa sejatinya pakaian agama yang mereka anut adalah kesabaran dalam mengamalkan ketundukan kepada Allah. Saya berdoa, semoga Tuhan mengertikan mereka bahwa justru sabar yang bikin subur.©
Minggu, 13 Desember 2009
Di Sini Senang, Di Sana Senang
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang… La la la la la la…” -Lagu anak-anak
Kegamangan menghadapi hidup di Jakartalah yang membuat saya pada awal tahun 2000 pindah ke Surabaya, dengan harapan di kota itu kehidupan saya bakal membaik. Sampai saat itu, saya telah lima tahun berkarir di industri periklanan dengan gaji yang wah. Tetapi karena saya selalu merasa kurang, semua itu menjadi tidak ada artinya. Saya tetap saja menderita, tidak puas dengan apa yang saya terima, dan berbuntut dengan saya nyaris setiap hari uring-uringan, marah-marah tak jelas sebab. Dan saya juga menjadi tambah bodoh, walaupun setiap pekerjaan yang saya tangani mendatangkan pengalaman baru, ketemu orang-orang baru dan permasalahan-permasalahan baru yang mestinya membuat saya lebih kreatif.
Yang saya kira akan memberi saya hidup baru yang menyenangkan, dengan tinggal dan bekerja di kota lain, ternyata hanya angan-angan semu. Surabaya, bagi saya saat itu, menawarkan kegamangan dan kekecewaan lebih besar. Pengalaman dengan seorang relasi yang punya deposito Rp 50 miliar, yang hidup bermewah-mewah dan berperilaku bejat, membuat saya akhirnya merasa Tuhan tidak adil. Saya yang rajin salat dan berdoa, puasa, zakat dan lain-lain bentuk ibadah (ritual) lainnya dan (merasa) telah berbuat baik, menjauhkan diri dari kemaksiatan, malah dipurukkan ke kubangan kemiskinan, baik secara material maupun intelektual dan spiritual. Kekecewaan yang berlarut-larut ini membuat saya berpaling dari Tuhan, menjadi ateis. Rupanya sikap tidak bertuhan pun membuat saya semakin menderita. Hidup saya menjadi berantakan, yang saya lampiaskan ke alkohol dan perempuan.
Dalam prosesnya, saya menyadari, penyebab mengapa di mana pun saya berada saya tidak merasa senang adalah karena rasa syukur tidak bersemayam di hati saya. Sejatinya, di mana pun, mau di Indonesia, Amerika, Belanda, Afrika, di kota yang menyajikan dunia gemerlap atau alam pedesaan yang permai, ketika rasa syukur diabaikan semua tempat itu tak ubahnya neraka.
Perjalanan ke arah kesadaran itu bukan tanpa liku. Tetapi jalannya – bagi yang menginsafinya – terang dan pasti. Setiap orang akan ditunjukkan jalannya masing-masing. Sama sekali bukan hak orang lain untuk mengatur-atur atau menentukan mana jalan yang terbaik bagi Anda. Itu adalah hak prerogratif Yang Kuasa.
Dalam kasus saya, Dia membimbing saya lewat jalan Susila Budhi Dharma (Subud), yang melaluinya saya dapat memahami hakikat dari agama saya. Salah satu penyebab mengapa saya (saya kira, semua orang) nekat berpaling dari Tuhan, adalah karena kepada saya tidak pernah diajarkan hakikat dari agama saya. Guru agama tidak pernah menjelaskan tentang Tuhan dan ketuhanan, bahwa untuk mendekatiNya diperlukan bagi saya untuk berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, serta bahwa segala sesuatu dalam kehidupan kita sudah diatur menurut kehendakNya, sehingga ketika menghadapi keadaan yang bagaimanapun, saya tidak berkemampuan sama sekali untuk menerimanya dengan ikhlas.
Sejak saya menggapai kesadaran tersebut, Tuhan, dengan caraNya yang tidak dapat diduga-duga, selalu mengajarkan kepada saya bahwa apa yang saya lihat pada orang lain tidak selalu seperti apa yang terlihat. Ketika saya iri pada seseorang yang kaya-raya, orang tersebut malah menyatakan secara langsung bahwa dia iri pada saya, karena dianggapnya saya kaya pengetahuan dan kaya peluang untuk melakukan apa saja yang saya suka. Ketika saya anggap seseorang beruntung dengan apa yang dimilikinya, yang bersangkutan malah bilang ke saya betapa beruntungnya saya karena telah berhasil mewujudkan semua yang saya cita-citakan.
Pengalaman-pengalaman ini mendudukkan saya pada keinsafan bahwa tidak ada kebaikan sama sekali dalam melakoni hidup (berdasarkan cara hidup) orang lain. Kita harus menjadi diri sendiri, be yourself, mensyukuri keadaan kita sebagaimana adanya sekarang, bukan ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Kalau pun harus ada yang diubah, itu harus berasal dari kesadaran kita sendiri, bukan karena kita disuruh atau karena anggapan orang lain – yang berpotensi menjadikan diri kita munafik. Kita seyogianya juga mesti terus memohon kepada Tuhan, agar diri kita dimampukanNya untuk mewujudkan semua potensi yang kita miliki, sehingga tidak menjadi manusia yang ‘biasa-biasa saja’.
Memang tidak ada cara lain selain bersyukur. Kadang susah menerima kenyataan dengan ikhlas, apalagi bila kenyataan itu jauh dari apa yang kita bayangkan. Tetapi apabila kita dapat melampaui kesusahan itu, rasa syukur akan membukakan segala kemudahan. Betapa menyenangkannya. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang… La la la la la la…©
“Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang… La la la la la la…” -Lagu anak-anak
Kegamangan menghadapi hidup di Jakartalah yang membuat saya pada awal tahun 2000 pindah ke Surabaya, dengan harapan di kota itu kehidupan saya bakal membaik. Sampai saat itu, saya telah lima tahun berkarir di industri periklanan dengan gaji yang wah. Tetapi karena saya selalu merasa kurang, semua itu menjadi tidak ada artinya. Saya tetap saja menderita, tidak puas dengan apa yang saya terima, dan berbuntut dengan saya nyaris setiap hari uring-uringan, marah-marah tak jelas sebab. Dan saya juga menjadi tambah bodoh, walaupun setiap pekerjaan yang saya tangani mendatangkan pengalaman baru, ketemu orang-orang baru dan permasalahan-permasalahan baru yang mestinya membuat saya lebih kreatif.
Yang saya kira akan memberi saya hidup baru yang menyenangkan, dengan tinggal dan bekerja di kota lain, ternyata hanya angan-angan semu. Surabaya, bagi saya saat itu, menawarkan kegamangan dan kekecewaan lebih besar. Pengalaman dengan seorang relasi yang punya deposito Rp 50 miliar, yang hidup bermewah-mewah dan berperilaku bejat, membuat saya akhirnya merasa Tuhan tidak adil. Saya yang rajin salat dan berdoa, puasa, zakat dan lain-lain bentuk ibadah (ritual) lainnya dan (merasa) telah berbuat baik, menjauhkan diri dari kemaksiatan, malah dipurukkan ke kubangan kemiskinan, baik secara material maupun intelektual dan spiritual. Kekecewaan yang berlarut-larut ini membuat saya berpaling dari Tuhan, menjadi ateis. Rupanya sikap tidak bertuhan pun membuat saya semakin menderita. Hidup saya menjadi berantakan, yang saya lampiaskan ke alkohol dan perempuan.
Dalam prosesnya, saya menyadari, penyebab mengapa di mana pun saya berada saya tidak merasa senang adalah karena rasa syukur tidak bersemayam di hati saya. Sejatinya, di mana pun, mau di Indonesia, Amerika, Belanda, Afrika, di kota yang menyajikan dunia gemerlap atau alam pedesaan yang permai, ketika rasa syukur diabaikan semua tempat itu tak ubahnya neraka.
Perjalanan ke arah kesadaran itu bukan tanpa liku. Tetapi jalannya – bagi yang menginsafinya – terang dan pasti. Setiap orang akan ditunjukkan jalannya masing-masing. Sama sekali bukan hak orang lain untuk mengatur-atur atau menentukan mana jalan yang terbaik bagi Anda. Itu adalah hak prerogratif Yang Kuasa.
Dalam kasus saya, Dia membimbing saya lewat jalan Susila Budhi Dharma (Subud), yang melaluinya saya dapat memahami hakikat dari agama saya. Salah satu penyebab mengapa saya (saya kira, semua orang) nekat berpaling dari Tuhan, adalah karena kepada saya tidak pernah diajarkan hakikat dari agama saya. Guru agama tidak pernah menjelaskan tentang Tuhan dan ketuhanan, bahwa untuk mendekatiNya diperlukan bagi saya untuk berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, serta bahwa segala sesuatu dalam kehidupan kita sudah diatur menurut kehendakNya, sehingga ketika menghadapi keadaan yang bagaimanapun, saya tidak berkemampuan sama sekali untuk menerimanya dengan ikhlas.
Sejak saya menggapai kesadaran tersebut, Tuhan, dengan caraNya yang tidak dapat diduga-duga, selalu mengajarkan kepada saya bahwa apa yang saya lihat pada orang lain tidak selalu seperti apa yang terlihat. Ketika saya iri pada seseorang yang kaya-raya, orang tersebut malah menyatakan secara langsung bahwa dia iri pada saya, karena dianggapnya saya kaya pengetahuan dan kaya peluang untuk melakukan apa saja yang saya suka. Ketika saya anggap seseorang beruntung dengan apa yang dimilikinya, yang bersangkutan malah bilang ke saya betapa beruntungnya saya karena telah berhasil mewujudkan semua yang saya cita-citakan.
Pengalaman-pengalaman ini mendudukkan saya pada keinsafan bahwa tidak ada kebaikan sama sekali dalam melakoni hidup (berdasarkan cara hidup) orang lain. Kita harus menjadi diri sendiri, be yourself, mensyukuri keadaan kita sebagaimana adanya sekarang, bukan ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Kalau pun harus ada yang diubah, itu harus berasal dari kesadaran kita sendiri, bukan karena kita disuruh atau karena anggapan orang lain – yang berpotensi menjadikan diri kita munafik. Kita seyogianya juga mesti terus memohon kepada Tuhan, agar diri kita dimampukanNya untuk mewujudkan semua potensi yang kita miliki, sehingga tidak menjadi manusia yang ‘biasa-biasa saja’.
Memang tidak ada cara lain selain bersyukur. Kadang susah menerima kenyataan dengan ikhlas, apalagi bila kenyataan itu jauh dari apa yang kita bayangkan. Tetapi apabila kita dapat melampaui kesusahan itu, rasa syukur akan membukakan segala kemudahan. Betapa menyenangkannya. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang… La la la la la la…©
MAKIN CANGGIH, MAKIN CANGGUNG
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Komunikasi elektronik merupakan kontak seketika dan ilusi yang menciptakan rasa keakraban tanpa investasi emosi yang mengarah kepada persahabatan yang akrab.” lifford Stoll, Silicon Snake Oil: Second Thoughts on the Information Highway. Anchor Books, 1996.
Seorang apu afaa (penasihat adat) menjelaskan kepada saya, ketika kami duduk di dermaga Dinas Perhubungan di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Mei 2009 silam, bahwa instrumen komunikasi di antara suku-suku simpel saja: buah pinang (beserta kelengkapan makan pinang, yaitu batang sirih dan kapur yang terbuat dari kerang yang ditumbuk) dan/atau rokok. Apabila hendak mengundang ondoafi (ketua adat) untuk hadir di suatu acara, seperti, misalnya, Festival Danau Sentani (FDS) yang mementaskan tradisi budaya dan kesenian dari dua puluh empat kampung adat di seputaran maupun di tengah danau, apu afaa akan datang menghadap ondoafi dengan membawa pinang dan rokok. Tanpa perlu banyak cingcong, ondoafi akan segera mengerti bahwa dirinya dan komunitas yang dipimpinnya diundang untuk menghadiri dan tampil di pentas FDS.
Dalam hal perang suku, ternyata tidak serta-merta terjadi begitu saja. Sebelum perang, biasanya digelar perundingan antar kepala-kepala suku yang berkonfrontasi. Pihak yang dianggap bersalah, sehingga menimbulkan perang tersebut, harus menawarkan pinang kepada pihak lawannya. Bila tawaran diterima, mereka bukan saja berdamai, tetapi juga menjadi saudara.
Saya geleng-geleng kepala mendengar penuturan sang apu afaa, tetapi percaya pada kebenarannya. Sebab, untuk berteman baik dengan orang-orang Papua itu hanya memerlukan alat komunikasi yang sangat sederhana. Selain buah pinang dan rokok yang sifatnya resmi, sering pula dalam bentuk sapaan disertai lambaian tangan atau senyum yang ramah.
Kita yang hidup di kota besar, yang merasa peradaban kitalah yang paling maju – sedangkan suku-suku pedalaman itu kita anggap primitif – ternyata tidak lebih baik dari mereka. Teknologi komunikasi yang berkembang dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita memang semakin canggih. Mulai dari telepon yang bisa dikantongi dan dibawa ke mana-mana, sistem untuk mengirim teks dan gambar dalam waktu secepat kedipan mata, e-mail, media sosial seperti Facebook, MySpace atau Twitter, sampai aplikasi program komunikasi dengan teknologi P2P, Skype. Tetapi tidak dipungkiri, bahwa komunikasi pribadi di antara kita malah menjadi semakin canggung, sehingga alat-alat komunikasi yang canggih itu menjadi kurang berguna. Alih-alih menunjang komunikasi, perangkat-perangkat tersebut malah, baik sadar maupun tidak, kita pakai sekadar untuk menunjang gengsi!
Secara etimologis, atau menurut asal katanya, istilah ‘komunikasi’ berasal dari bahasa Latin communication, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Perkataan communis tersebut dalam pembahasan kita ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai dalam kegiatan politik. Arti communis di sini adalah ‘sama’, dalam arti kata ‘sama makna’, yaitu ‘sama makna mengenai suatu hal’.
Jadi, secara umum, komunikasi didefinisikan sebagai proses di mana kita menetapkan dan menyampaikan makna dalam upaya untuk menciptakan pemahaman bersama. Proses ini memerlukan ketrampilan yang cukup dalam hubungan-hubungan intrapribadi (dialog dengan diri sendiri, menggali pengetahuan mengenai diri pribadi melalui persepsi dan kesadaran) dan antar-pribadi (hubungan dengan orang lain).
Aktivitas hubungan intrapribadi dalam upaya memahami diri pribadi, antara lain adalah berdoa, bersyukur, introspeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Menurut pengalaman saya, tingginya frekuensi kita berhubungan intrapribadi ternyata meningkatkan serta melanggengkan hubungan antar-pribadi.
Komunikasi yang langgeng dan sarat kandungan emosinya dimulai dari keadaan diri yang diliputi cinta – yang memandang penerima pesan sebagai bagian seutuhnya dari diri kita. Saya acap menjumpai orang-orang yang canggung dalam menjalin komunikasi, pada dasarnya, juga tidak mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri (solilokui). Mereka pun enggan memandang orang sebagai bagian dari dirinya, sehingga cenderung merasa benar sendiri, sulit merendahkan hati, juga susah memaafkan.
Komunikasi yang langgeng, yang tidak terkendala kecanggungan, dan bahkan dapat menyentuh sisi pribadi penerima pesan kita, tercipta dari diri yang tenang (nafs al-muthma’inah), tidak tumpat dengan egoisme, serta dihias niat yang tidak mengutamakan kepentingan sendiri. Ini yang namanya komunikasi pakai empati, di mana pengirim pesan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membawa penerima pesan kepada pengertian yang dikehendaki. Dengan tingkat intrapribadi yang luas dan dalam, tanpa atau dengan teknologi komunikasi yang canggih, komunikasi akan dapat berlangsung tanpa canggung.©
Jakarta, 20 November 2009
Tulisan ini terilhami oleh pengalaman saya baru-baru ini di organisasi di mana saya berkrida sebagai pengurus.
“Komunikasi elektronik merupakan kontak seketika dan ilusi yang menciptakan rasa keakraban tanpa investasi emosi yang mengarah kepada persahabatan yang akrab.” lifford Stoll, Silicon Snake Oil: Second Thoughts on the Information Highway. Anchor Books, 1996.
Seorang apu afaa (penasihat adat) menjelaskan kepada saya, ketika kami duduk di dermaga Dinas Perhubungan di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Mei 2009 silam, bahwa instrumen komunikasi di antara suku-suku simpel saja: buah pinang (beserta kelengkapan makan pinang, yaitu batang sirih dan kapur yang terbuat dari kerang yang ditumbuk) dan/atau rokok. Apabila hendak mengundang ondoafi (ketua adat) untuk hadir di suatu acara, seperti, misalnya, Festival Danau Sentani (FDS) yang mementaskan tradisi budaya dan kesenian dari dua puluh empat kampung adat di seputaran maupun di tengah danau, apu afaa akan datang menghadap ondoafi dengan membawa pinang dan rokok. Tanpa perlu banyak cingcong, ondoafi akan segera mengerti bahwa dirinya dan komunitas yang dipimpinnya diundang untuk menghadiri dan tampil di pentas FDS.
Dalam hal perang suku, ternyata tidak serta-merta terjadi begitu saja. Sebelum perang, biasanya digelar perundingan antar kepala-kepala suku yang berkonfrontasi. Pihak yang dianggap bersalah, sehingga menimbulkan perang tersebut, harus menawarkan pinang kepada pihak lawannya. Bila tawaran diterima, mereka bukan saja berdamai, tetapi juga menjadi saudara.
Saya geleng-geleng kepala mendengar penuturan sang apu afaa, tetapi percaya pada kebenarannya. Sebab, untuk berteman baik dengan orang-orang Papua itu hanya memerlukan alat komunikasi yang sangat sederhana. Selain buah pinang dan rokok yang sifatnya resmi, sering pula dalam bentuk sapaan disertai lambaian tangan atau senyum yang ramah.
Kita yang hidup di kota besar, yang merasa peradaban kitalah yang paling maju – sedangkan suku-suku pedalaman itu kita anggap primitif – ternyata tidak lebih baik dari mereka. Teknologi komunikasi yang berkembang dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita memang semakin canggih. Mulai dari telepon yang bisa dikantongi dan dibawa ke mana-mana, sistem untuk mengirim teks dan gambar dalam waktu secepat kedipan mata, e-mail, media sosial seperti Facebook, MySpace atau Twitter, sampai aplikasi program komunikasi dengan teknologi P2P, Skype. Tetapi tidak dipungkiri, bahwa komunikasi pribadi di antara kita malah menjadi semakin canggung, sehingga alat-alat komunikasi yang canggih itu menjadi kurang berguna. Alih-alih menunjang komunikasi, perangkat-perangkat tersebut malah, baik sadar maupun tidak, kita pakai sekadar untuk menunjang gengsi!
Secara etimologis, atau menurut asal katanya, istilah ‘komunikasi’ berasal dari bahasa Latin communication, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Perkataan communis tersebut dalam pembahasan kita ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai dalam kegiatan politik. Arti communis di sini adalah ‘sama’, dalam arti kata ‘sama makna’, yaitu ‘sama makna mengenai suatu hal’.
Jadi, secara umum, komunikasi didefinisikan sebagai proses di mana kita menetapkan dan menyampaikan makna dalam upaya untuk menciptakan pemahaman bersama. Proses ini memerlukan ketrampilan yang cukup dalam hubungan-hubungan intrapribadi (dialog dengan diri sendiri, menggali pengetahuan mengenai diri pribadi melalui persepsi dan kesadaran) dan antar-pribadi (hubungan dengan orang lain).
Aktivitas hubungan intrapribadi dalam upaya memahami diri pribadi, antara lain adalah berdoa, bersyukur, introspeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Menurut pengalaman saya, tingginya frekuensi kita berhubungan intrapribadi ternyata meningkatkan serta melanggengkan hubungan antar-pribadi.
Komunikasi yang langgeng dan sarat kandungan emosinya dimulai dari keadaan diri yang diliputi cinta – yang memandang penerima pesan sebagai bagian seutuhnya dari diri kita. Saya acap menjumpai orang-orang yang canggung dalam menjalin komunikasi, pada dasarnya, juga tidak mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri (solilokui). Mereka pun enggan memandang orang sebagai bagian dari dirinya, sehingga cenderung merasa benar sendiri, sulit merendahkan hati, juga susah memaafkan.
Komunikasi yang langgeng, yang tidak terkendala kecanggungan, dan bahkan dapat menyentuh sisi pribadi penerima pesan kita, tercipta dari diri yang tenang (nafs al-muthma’inah), tidak tumpat dengan egoisme, serta dihias niat yang tidak mengutamakan kepentingan sendiri. Ini yang namanya komunikasi pakai empati, di mana pengirim pesan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membawa penerima pesan kepada pengertian yang dikehendaki. Dengan tingkat intrapribadi yang luas dan dalam, tanpa atau dengan teknologi komunikasi yang canggih, komunikasi akan dapat berlangsung tanpa canggung.©
Jakarta, 20 November 2009
Tulisan ini terilhami oleh pengalaman saya baru-baru ini di organisasi di mana saya berkrida sebagai pengurus.
Rabu, 25 November 2009
JURUSAN SUKSES
"Masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkannya sekarang." --Malcolm X (1925-1965)
"Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya." --Alan Kay
Semasa masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat skripsi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (FS; sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, FIB) Universitas Indonesia (UI), saya pernah naksir cewek dari Fakultas Hukum UI, yang saya kenal ketika saya menjadi petugas pengawas Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1992. Cewek itu sendiri merupakan salah satu peserta ujian Sipenmaru yang waktu itu bertempat di SMA Negeri 45, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Singkat cerita, cewek itu diterima di FHUI dan tahu bahwa saya kuliah di Jurusan Sejarah FSUI, jurusan yang acap kali dianggap jurusan yang tidak menjanjikan masa depan yang cerah alias 'madesu' (masa depan suram), sehingga tatkala saya akhirnya mengungkapkan isi hati kepadanya, sambil mengejek dia menolak cinta saya. Ejekannya ya seputar ke-madesu-an jurusan di mana saya menuntut ilmu.
Lebih dari dua tahun kemudian, cewek yang sama menelepon saya, saat saya berada di kantor, sebuah biro iklan multinasional di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Saya kaget begitu tahu bahwa dia yang menelepon, namun lebih kaget lagi dengan kenyataan betapa murah harga dirinya. Bayangkan, dia menelepon saya untuk memberitahu bahwa dia saat itu sedang 'kosong', atau bahasa zaman sekarangnya 'jomblo'. Tetapi yang membuat saya menolak adalah karena sebagai prolog pembicaraan teleponnya, dia menyatakan kekagumannya atas profesi yang saya jalani, yaitu sebagai copywriter di sebuah biro iklan multinasional, yang menurutnya bergaji besar dan karirnya prospektif. Menyadari niatnya, saya, dengan gaya mengejek sebagaimana dia dahulu, menegaskan bahwa saya sudah punya calon istri, yang tidak mementingkan saya kuliah di mana. Itulah saat pertama kalinya saya menolak cewek cantik yang secara murahan mengajukan diri untuk menjadi pacar saya.
Pengalaman itu memberi saya sebuah pemahaman, bahwa masa depan tidak ditentukan oleh lembaga pendidikan di mana seseorang pernah menuntut ilmu, seperti yang selama ini disangka, baik oleh orang tua maupun calon mahasiswa. Selama menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI, tak jarang saya dilecehkan dan diremehkan, baik oleh teman-teman, guru sekolah, bahkan kerabat saya: "Mau jadi apa setelah lulus?" Jika waktu sekarang bisa diputar, dan saya diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, walaupun sejenak, saya akan berteriak di telinga mereka: "Saya menjadi apa saja yang saya inginkan!"
Sampai sekarang saja, banyak orang yang tidak melihat korelasi apa pun antara latar belakang pendidikan sarjana saya dengan profesi saya dewasa ini di bidang komunikasi pemasaran dan korporat. Masyarakat, baik awam maupun industri, masih saja menganggap bahwa bidang-bidang tertentu hanya dapat ditangani oleh ilmu-ilmu yang terkait. Salah satu klien saya, yang suatu ketika mendapat penjelasan dari saya tentang strategi distribusi untuk produknya, mengira saya master of business administration dari sebuah universitas terkemuka di Amerika, oleh sebab, katanya, apa yang saya sampaikan pernah disampaikan dosennya ketika dia kuliah untuk MBAnya di Amerika Serikat. Dia terbelalak, nyaris tidak bisa bicara, waktu saya sampaikan bahwa saya sarjana sejarah lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. "Lalu, di mana Anda belajar soal distribusi?" tanyanya, tergagap-gagap. "Saya baca bukunya, Pak, dan kemudian saya praktikkan melalui pekerjaan-pekerjaan yang saya terima!"
Masa depan ditentukan oleh kita sendiri; kita maunya jadi apa, lantas memompakan energi ekstra ke dalam diri untuk menggerakkan tindakan ke arah pencapaian dari apa yang kita cita-citakan. Bahkan bisa dikatakan, bahwa sekolah sebenarnya tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan belajar. Kita dapat belajar apa saja, kapan saja dan di mana saja, tanpa bergantung atau terbatas oleh dinding-dinding, pagar atau nama lembaga. Kehidupan kita sendiri bahkan sudah terlalu sering diwarnai oleh keberadaan orang-orang yang profesi dan pekerjaannya tidak mencerminkan latar belakang pendidikannya.
Membatasi diri hanya karena merasa tidak memiliki pengetahuan di suatu bidang sesungguhnya menafikan kenyataan bahwa dalam diri kita terkandung segudang potensi yang menanti untuk dimanifestasi. Segala sesuatu bisa dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktikkan tanpa Anda harus berguru pada suatu lembaga pendidikan yang terspesialisasi atau guru tertentu. Anda bisa belajar dari diri sendiri, melalui praktik-praktik langsung dalam kehidupan Anda. Hidup ini menyediakan bagi mereka, yang bersedia menjalaninya dengan sadar, banyak peluang dan kemampuan untuk mengerjakannya dengan potensi-potensi yang mereka miliki.
Untuk menciptakan masa depan kita sekarang ini, tidak diperlukan untuk masuk 'jurusan sukses' di perguruan tinggi. Dewasa ini, kita hanyut dalam pusaran persaingan yang keras, di mana latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting dibandingkan menjalankan ikhtiar terus-menerus dan sadar, sehingga Anda akan memperoleh pembelajaran maupun pemahaman secara berkelanjutan.©
Salam, ANTO DWIASTORO
"Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya." --Alan Kay
Semasa masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat skripsi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (FS; sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, FIB) Universitas Indonesia (UI), saya pernah naksir cewek dari Fakultas Hukum UI, yang saya kenal ketika saya menjadi petugas pengawas Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1992. Cewek itu sendiri merupakan salah satu peserta ujian Sipenmaru yang waktu itu bertempat di SMA Negeri 45, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Singkat cerita, cewek itu diterima di FHUI dan tahu bahwa saya kuliah di Jurusan Sejarah FSUI, jurusan yang acap kali dianggap jurusan yang tidak menjanjikan masa depan yang cerah alias 'madesu' (masa depan suram), sehingga tatkala saya akhirnya mengungkapkan isi hati kepadanya, sambil mengejek dia menolak cinta saya. Ejekannya ya seputar ke-madesu-an jurusan di mana saya menuntut ilmu.
Lebih dari dua tahun kemudian, cewek yang sama menelepon saya, saat saya berada di kantor, sebuah biro iklan multinasional di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Saya kaget begitu tahu bahwa dia yang menelepon, namun lebih kaget lagi dengan kenyataan betapa murah harga dirinya. Bayangkan, dia menelepon saya untuk memberitahu bahwa dia saat itu sedang 'kosong', atau bahasa zaman sekarangnya 'jomblo'. Tetapi yang membuat saya menolak adalah karena sebagai prolog pembicaraan teleponnya, dia menyatakan kekagumannya atas profesi yang saya jalani, yaitu sebagai copywriter di sebuah biro iklan multinasional, yang menurutnya bergaji besar dan karirnya prospektif. Menyadari niatnya, saya, dengan gaya mengejek sebagaimana dia dahulu, menegaskan bahwa saya sudah punya calon istri, yang tidak mementingkan saya kuliah di mana. Itulah saat pertama kalinya saya menolak cewek cantik yang secara murahan mengajukan diri untuk menjadi pacar saya.
Pengalaman itu memberi saya sebuah pemahaman, bahwa masa depan tidak ditentukan oleh lembaga pendidikan di mana seseorang pernah menuntut ilmu, seperti yang selama ini disangka, baik oleh orang tua maupun calon mahasiswa. Selama menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI, tak jarang saya dilecehkan dan diremehkan, baik oleh teman-teman, guru sekolah, bahkan kerabat saya: "Mau jadi apa setelah lulus?" Jika waktu sekarang bisa diputar, dan saya diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, walaupun sejenak, saya akan berteriak di telinga mereka: "Saya menjadi apa saja yang saya inginkan!"
Sampai sekarang saja, banyak orang yang tidak melihat korelasi apa pun antara latar belakang pendidikan sarjana saya dengan profesi saya dewasa ini di bidang komunikasi pemasaran dan korporat. Masyarakat, baik awam maupun industri, masih saja menganggap bahwa bidang-bidang tertentu hanya dapat ditangani oleh ilmu-ilmu yang terkait. Salah satu klien saya, yang suatu ketika mendapat penjelasan dari saya tentang strategi distribusi untuk produknya, mengira saya master of business administration dari sebuah universitas terkemuka di Amerika, oleh sebab, katanya, apa yang saya sampaikan pernah disampaikan dosennya ketika dia kuliah untuk MBAnya di Amerika Serikat. Dia terbelalak, nyaris tidak bisa bicara, waktu saya sampaikan bahwa saya sarjana sejarah lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. "Lalu, di mana Anda belajar soal distribusi?" tanyanya, tergagap-gagap. "Saya baca bukunya, Pak, dan kemudian saya praktikkan melalui pekerjaan-pekerjaan yang saya terima!"
Masa depan ditentukan oleh kita sendiri; kita maunya jadi apa, lantas memompakan energi ekstra ke dalam diri untuk menggerakkan tindakan ke arah pencapaian dari apa yang kita cita-citakan. Bahkan bisa dikatakan, bahwa sekolah sebenarnya tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan belajar. Kita dapat belajar apa saja, kapan saja dan di mana saja, tanpa bergantung atau terbatas oleh dinding-dinding, pagar atau nama lembaga. Kehidupan kita sendiri bahkan sudah terlalu sering diwarnai oleh keberadaan orang-orang yang profesi dan pekerjaannya tidak mencerminkan latar belakang pendidikannya.
Membatasi diri hanya karena merasa tidak memiliki pengetahuan di suatu bidang sesungguhnya menafikan kenyataan bahwa dalam diri kita terkandung segudang potensi yang menanti untuk dimanifestasi. Segala sesuatu bisa dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktikkan tanpa Anda harus berguru pada suatu lembaga pendidikan yang terspesialisasi atau guru tertentu. Anda bisa belajar dari diri sendiri, melalui praktik-praktik langsung dalam kehidupan Anda. Hidup ini menyediakan bagi mereka, yang bersedia menjalaninya dengan sadar, banyak peluang dan kemampuan untuk mengerjakannya dengan potensi-potensi yang mereka miliki.
Untuk menciptakan masa depan kita sekarang ini, tidak diperlukan untuk masuk 'jurusan sukses' di perguruan tinggi. Dewasa ini, kita hanyut dalam pusaran persaingan yang keras, di mana latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting dibandingkan menjalankan ikhtiar terus-menerus dan sadar, sehingga Anda akan memperoleh pembelajaran maupun pemahaman secara berkelanjutan.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Dan Sebaliknya,...
Oleh Anto Dwiastoro Slamer
"Sukses adalah kemampuan untuk melewati kegagalan yang satu ke yang lainnya tanpa kehilangan antusiasme." --Sir Winston Churchill (1874-1965)
Seorang kawan, yang saya tanya bagaimana kabar bisnisnya, menjawab, "Berjalan mundur, Mas." Lalu, saya tanya lagi, langkah apa yang ditempuhnya untuk mengatasi hal itu. "Aku balikkan badanku saja, toh jadi maju juga," jawabnya tanpa merinci maksudnya. Tetapi jawabannya yang terkesan seloroh itu membangkitkan pada diri saya permenungan yang mendalam.
Kemunduran atau kegagalan dalam ikhtiar tidak seharusnya menyurutkan langkah kita untuk tetap tegar menyambut tantangan, menerjang rintangan. Kemunduran atau kegagalan, menurut saya, hanyalah keadaan pikiran (state of mind), yang sesungguhnya dapat diatasi dengan bersikap dan bertindak (seakan) sebaliknya.
Tidak selamanya kemunduran atau kegagalan merupakan pertanda kebodohan atau kesembronoan kita. Kalau pun bodoh atau sembrono, demikian pengalaman saya menuturkan, kita akan mendapat arahan yang jelas apabila kita bersedia merendahkan hati di hadapan Yang Kuasa. Seabrek hikmah pembelajaran menyemburat dari eksistensi kegagalan. Tanpa kemunduran atau kegagalan, kita takkan dapat mengukur sampai di mana aras (level) kita dalam perjalanan usaha yang sedang kita jejaki.
Kenyataan ini seyogianya membuat kita bersyukur atas kemunduran atau kegagalan yang menghampiri kita. Bertahun-tahun lalu, saya pernah mengalami momen di mana naskah-naskah artikel yang saya kirim ke sebuah suratkabar papan atas bertiras nasional ditolak oleh redaksinya hingga dua belas kali. Kegagalan demi kegagalan itu membentuk serpihan-serpihanpuzzle hikmah yang saya coba susun hingga mewujud suatu gambaran yang jelas mengenai tuntunan Tuhan atas diri saya, ketika saya hendak mengirimkan naskah yang sama untuk kali ketiga belas. Yang ketiga belas itulah yang akhirnya dimuat. (Saya tak dapat membayangkan, bagaimana jadinya seandainya saya putus asa dan menyerah saat pengiriman yang kedua belas ditolak redaksi suratkabar tersebut.)
Pengalaman dengan artikel itu mendorong saya untuk selalu melihat kemunduran atau kegagalan dari sisi yang berbeda, yaitu yang sebaliknya, yang akhirnya membuat saya memahami bahwa kemunduran atau kegagalan hanyalah satu fase dalam proses tumbuh-kembang kita, dalam upaya apa pun yang sedang kita tempuh. Hanya satu fase. Yang tanpa itu kita takkan mendapat gagasan yang utuh tentang bagaimana Tuhan membimbing dan menuntun kita dalam menemukan makna sejati dari keberadaan kita di dunia ini.
Kegagalan itu hanyalah kawan seperjalanan dari sosok yang selama ini selalu saja kita puja-puji, yaitu kesuksesan. Keduanya, sejatinya, mewujud tiang-tiang penopang hidup kita; keduanya serupa satu pinang dibelah dua. Dua sisi dari mata uang yang sama.
Oleh karena itu, tak layak kita kelewat gembira dengan yang satu (kesuksesan), dan terlalu berlara, hingga kita terperosok ke lubang keputusasaan, atas kehadiran yang lainnya (kegagalan). Jika kemunduran mewarnai hidup Anda, janganlah terseret olehnya. Lakukan yang sebaliknya -- balik badan, seperti kawan saya tadi. Sambutlah hidup dengan selalu tersenyum kepada dunia.©
Catatan ini terilhami oleh senyum saudara Subud saya, yang tidak pernah berhenti tersungging dalam kesehariannya, dalam keadaan dirinya senang maupun susah.
Salam, ANTO DWIASTORO
"Sukses adalah kemampuan untuk melewati kegagalan yang satu ke yang lainnya tanpa kehilangan antusiasme." --Sir Winston Churchill (1874-1965)
Seorang kawan, yang saya tanya bagaimana kabar bisnisnya, menjawab, "Berjalan mundur, Mas." Lalu, saya tanya lagi, langkah apa yang ditempuhnya untuk mengatasi hal itu. "Aku balikkan badanku saja, toh jadi maju juga," jawabnya tanpa merinci maksudnya. Tetapi jawabannya yang terkesan seloroh itu membangkitkan pada diri saya permenungan yang mendalam.
Kemunduran atau kegagalan dalam ikhtiar tidak seharusnya menyurutkan langkah kita untuk tetap tegar menyambut tantangan, menerjang rintangan. Kemunduran atau kegagalan, menurut saya, hanyalah keadaan pikiran (state of mind), yang sesungguhnya dapat diatasi dengan bersikap dan bertindak (seakan) sebaliknya.
Tidak selamanya kemunduran atau kegagalan merupakan pertanda kebodohan atau kesembronoan kita. Kalau pun bodoh atau sembrono, demikian pengalaman saya menuturkan, kita akan mendapat arahan yang jelas apabila kita bersedia merendahkan hati di hadapan Yang Kuasa. Seabrek hikmah pembelajaran menyemburat dari eksistensi kegagalan. Tanpa kemunduran atau kegagalan, kita takkan dapat mengukur sampai di mana aras (level) kita dalam perjalanan usaha yang sedang kita jejaki.
Kenyataan ini seyogianya membuat kita bersyukur atas kemunduran atau kegagalan yang menghampiri kita. Bertahun-tahun lalu, saya pernah mengalami momen di mana naskah-naskah artikel yang saya kirim ke sebuah suratkabar papan atas bertiras nasional ditolak oleh redaksinya hingga dua belas kali. Kegagalan demi kegagalan itu membentuk serpihan-serpihanpuzzle hikmah yang saya coba susun hingga mewujud suatu gambaran yang jelas mengenai tuntunan Tuhan atas diri saya, ketika saya hendak mengirimkan naskah yang sama untuk kali ketiga belas. Yang ketiga belas itulah yang akhirnya dimuat. (Saya tak dapat membayangkan, bagaimana jadinya seandainya saya putus asa dan menyerah saat pengiriman yang kedua belas ditolak redaksi suratkabar tersebut.)
Pengalaman dengan artikel itu mendorong saya untuk selalu melihat kemunduran atau kegagalan dari sisi yang berbeda, yaitu yang sebaliknya, yang akhirnya membuat saya memahami bahwa kemunduran atau kegagalan hanyalah satu fase dalam proses tumbuh-kembang kita, dalam upaya apa pun yang sedang kita tempuh. Hanya satu fase. Yang tanpa itu kita takkan mendapat gagasan yang utuh tentang bagaimana Tuhan membimbing dan menuntun kita dalam menemukan makna sejati dari keberadaan kita di dunia ini.
Kegagalan itu hanyalah kawan seperjalanan dari sosok yang selama ini selalu saja kita puja-puji, yaitu kesuksesan. Keduanya, sejatinya, mewujud tiang-tiang penopang hidup kita; keduanya serupa satu pinang dibelah dua. Dua sisi dari mata uang yang sama.
Oleh karena itu, tak layak kita kelewat gembira dengan yang satu (kesuksesan), dan terlalu berlara, hingga kita terperosok ke lubang keputusasaan, atas kehadiran yang lainnya (kegagalan). Jika kemunduran mewarnai hidup Anda, janganlah terseret olehnya. Lakukan yang sebaliknya -- balik badan, seperti kawan saya tadi. Sambutlah hidup dengan selalu tersenyum kepada dunia.©
Catatan ini terilhami oleh senyum saudara Subud saya, yang tidak pernah berhenti tersungging dalam kesehariannya, dalam keadaan dirinya senang maupun susah.
Salam, ANTO DWIASTORO
Rabu, 18 November 2009
Pikiran Menyakiti, Pikiran Mengobati
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
Tahun 2006, saya harus diopname di rumah sakit selama delapan hari akibat infeksi lambung yang akut. Rasa sakit yang menyerang perut saya luar biasa hebat, seakan ribuan jarum sedang menusukinya dengan kejam. Sebelum masuk RS, saya sudah menderita sakit itu selama dua minggu. Setiap malam, di kamar saya mengerang-erang kesakitan. Berbagai tindakan, dari medis (obat) sampai agamis (membaca Surat Yasin), saya tempuh. Namun, tak satu pun membawa hasil. Saya berguling-guling di lantai, menggelepar, menggeliat-geliat laksana ayam disembelih.
Suatu pagi, pada hari keempat di RS, saya kembali menggeliat kesakitan di lantai kamar, sampai kemudian dipapah perawat kembali ke ranjang. Sementara perawat berkonsultasi dengan dokter mengenai tindakan apa yang mesti diambil untuk mengatasi sakit saya, istri saya yang menemani hari-hari saya di RS membujuk agar saya menenangkan diri. “Kamu udah Subud. Pakai latihan (kejiwaan)nya,” bisik istri saya.
Saya lalu memejamkan mata, menentramkan diri. Saya tarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya panjang sambil melafalkan ‘Allah’ dengan lirih. Setelah beberapa kali, sakit di perut saya perlahan sirna seiring saya memasuki alam mimpi. Samar-samar, saya mendengar suara perawat yang telah kembali ke kamar saya membawa sebotol sedang infus antibiotika yang diperintahkan dokter, “Wah, Pak Anto ini. Tadi jerit-jerit, sekarang udah tidur.”
Di lain kesempatan, masih di RS, sejumlah saudara Subud yang datang menjenguk mendampingi saya berlatih kejiwaan Subud, yang pada pokoknya dimulai dengan menenangkan akal pikiran dan hawa nafsu. Dalam waktu seketika, erangan saya berubah menjadi tawa terpingkal-pingkal, sedangkan sakitnya luruh sejalan dengan redamnya pikiran sakit saya.
Sejak saat itu, saya selalu mengamalkan laku tersebut di atas. Sejak saat itu pula, saya diberi kepahaman bahwa kondisi sehat atau sakit kita utamanya dipicu oleh pikiran. Pikiran dapat menyakiti, apabila ia sedang kemrungsung (Jw., ‘kacau’). Tetapi pikiran jua yang mengobati, jika kita dapat meredakan kekacauan di wilayahnya.
Ketika dokter spesialis penyakit dalam yang menangani saya akhirnya tidak menemukan penyebab penyakit yang saya derita – setelah saya menempuh pelbagai pemeriksaan dengan alat-alat canggih, melainkan akibat yang ditimbulkannya, yaitu luka-luka seperti sariawan di kerongkongan saya lantaran keseringan muntah, saya jadi memahami bahwa Gusti Allah sedang memberi saya pelajaran berbobot emas: Pikiran menyakiti, pikiran pula yang mengobati!
Belakangan, tak berkurang jumlah profesional kesehatan dalam maupun luar negeri yang mengaitkan penyakit dengan pikiran. Obat yang kesaktiannya sundul langit sekali pun takkan mampu mengatasi penyakit yang kita derita apabila pikiran kita masih merayakan kekacauan. Coba simak apa kata para dokter berikut ini:
Michael F. Rozen, M.D. dan Mehmet C. Oz, M.D., You, The Owner’s Manual – Panduan Menjadi Dokter bagi Diri Sendiri untuk Hidup Lebih Sehat dan Awet Muda dengan Memahami Tubuh Anda (Yogyakarta: Penerbit B-First/PT Bentang Pustaka, 2007, hlm. 88): “Dengan bermeditasi, ada imbalan berlipat ganda. Meditasi membantu memelihara sel-sel otak Anda dan menjaga fungsi-fungsi yang berhubungan dengan daya ingat , dan komponen pengurang-stres dalam meditasi membantu kondisi-kondisi seperti gangguan depresi dan kecemasan. Untuk bermeditasi, yang Anda butuhkan hanyalah sebuah ruangan yang tenang. Dengan mata setengah tertutup, berfokuslah pada pernapasan Anda dan ulangi kata atau frasa yang sama berkali-kali – misalnya ‘um’ atau ‘satu’. Proses pengulangan kata yang sama itulah yang membantu menjernihkan dan mengendurkan pikiran Anda, dan yang memberi pengaruh positif bagi kesehatan Anda, kecuali jika Anda menggunakan kalimat, ‘Aku pengin keripik kentang.’”
Dr. Tan Shot Yen, Saya Pilih Sehat dan Sembuh – Transformasi Paradigma Mengobati Menjadi Menyembuhkan (Jakarta: Penerbit Dian Rakyat, tth, hlm. 84-85): “Keluhan simtomatis atau psikosomatis (gangguan pada tubuh yang disebabkan oleh gangguan emosi/pemikiran tertentu) di tangan dokter malah diselesaikan dengan obat, bukan mengembalikan gangguan emosi pada ‘jalur sehat’nya, sehingga keluhan tubuh menjadi sirna dengan sendirinya – sebagai umpan balik positif.”
Di halaman lampiran bukunya tersebut (hlm. 103), Dokter Tan juga mengungkapkan, antara lain, bahwa kanker dapat disebabkan oleh keadaan batin yang terluka sangat dalam, kemarahan lama, rasa terkubur dalam atau rasa duka seakan-akan memakan cangkangnya. Ia menganjurkan pasien untuk dengan cinta memaafkan dan mengikhlaskan semua masa lalu. “Saya memilih hidup dengan kegembiraan, saya cinta dan menerima diri apa adanya,” katanya.
Dr. Ade Hashman, Rasulullah Saw. Tidak Pernah Sakit – Meneladani Pola Hidup Sehat Nabi Muhammad Saw. (Jakarta: Penerbit Hikmah/PT Mizan Publika, 2008, hlm. 55: “Bagaimana seseorang menjalani hidup sangat memengaruhi sejumlah risiko menderita penyakit-penyakit dan juga memengaruhi penyembuhan bila menderita sakit. Banyak orang merasa terancam status kesehatannya saat memasuki paruh umur setengah baya. Tapi, sesungguhnya kekhawatiran tersebut dapat dihindari bila manusia memperlakukan tubuh dan pikiran dengan cara-cara yang sehat dan bijaksana yang melindungi sistem penyembuhan.”
Hiromi Shinya, M.D., The Miracle of Enzyme: Self-Healing Program – Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Memicu Regenerasi Sel (Bandung: Penerbit Qanita/PT Mizan Pustaka, 2009, hlm. 246: “Ada beberapa contoh mengenai orang-orang yang secara menakjubkan dapat sembuh dari sakit parahnya setelah menetapkan pikiran mereka pada suatu tujuan. Ada berbagai contoh dari seluruh dunia saat orang-orang yang menderita kanker mengalami rasa syukur karena satu dan lain hal, dan begitu mulai mengalami perasaan itu, mereka pun mulai membaik.” Dalam tujuh kunci emasnya untuk hidup sehat, Dr. Shinya menganjurkan kita untuk rajin bermeditasi dan berpikir positif.
Saya kira, pendapat-pendapat para dokter tersebut di atas mempertegas kenyataan bahwa pada zaman para leluhur kita penyakit-penyakit yang beredar tidak sedahsyat sekarang. Di salah satu kampung pantai di Kabupaten Jayapura, Papua, yang saya kunjungi pada bulan Mei dan Juni 2009 lalu, yang kehidupannya tenang dan permai, penyakit terparah yang diderita penduduknya hanya batuk, akibat cuaca panas dan debu! Dan obatnya hanya daun pepaya yang ditumbuk dan disantap bersama makanan pokok mereka, yaitu bubur sagu papeda
Pikiran adalah pembantu yang baik, tetapi majikan yang buruk. Oleh karena itu, dalam situasi-situasi yang buruk sebaiknya jangan biarkan pikiran yang memimpin Anda. Lepaskan semua, dan biarkan Tuhan yang bekerja (let go, let God) dalam membimbing dan menuntun jiwa kita yang berbalut penyerahan diri kepadaNya dengan sabar, ikhlas dan tawakal.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Tahun 2006, saya harus diopname di rumah sakit selama delapan hari akibat infeksi lambung yang akut. Rasa sakit yang menyerang perut saya luar biasa hebat, seakan ribuan jarum sedang menusukinya dengan kejam. Sebelum masuk RS, saya sudah menderita sakit itu selama dua minggu. Setiap malam, di kamar saya mengerang-erang kesakitan. Berbagai tindakan, dari medis (obat) sampai agamis (membaca Surat Yasin), saya tempuh. Namun, tak satu pun membawa hasil. Saya berguling-guling di lantai, menggelepar, menggeliat-geliat laksana ayam disembelih.
Suatu pagi, pada hari keempat di RS, saya kembali menggeliat kesakitan di lantai kamar, sampai kemudian dipapah perawat kembali ke ranjang. Sementara perawat berkonsultasi dengan dokter mengenai tindakan apa yang mesti diambil untuk mengatasi sakit saya, istri saya yang menemani hari-hari saya di RS membujuk agar saya menenangkan diri. “Kamu udah Subud. Pakai latihan (kejiwaan)nya,” bisik istri saya.
Saya lalu memejamkan mata, menentramkan diri. Saya tarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya panjang sambil melafalkan ‘Allah’ dengan lirih. Setelah beberapa kali, sakit di perut saya perlahan sirna seiring saya memasuki alam mimpi. Samar-samar, saya mendengar suara perawat yang telah kembali ke kamar saya membawa sebotol sedang infus antibiotika yang diperintahkan dokter, “Wah, Pak Anto ini. Tadi jerit-jerit, sekarang udah tidur.”
Di lain kesempatan, masih di RS, sejumlah saudara Subud yang datang menjenguk mendampingi saya berlatih kejiwaan Subud, yang pada pokoknya dimulai dengan menenangkan akal pikiran dan hawa nafsu. Dalam waktu seketika, erangan saya berubah menjadi tawa terpingkal-pingkal, sedangkan sakitnya luruh sejalan dengan redamnya pikiran sakit saya.
Sejak saat itu, saya selalu mengamalkan laku tersebut di atas. Sejak saat itu pula, saya diberi kepahaman bahwa kondisi sehat atau sakit kita utamanya dipicu oleh pikiran. Pikiran dapat menyakiti, apabila ia sedang kemrungsung (Jw., ‘kacau’). Tetapi pikiran jua yang mengobati, jika kita dapat meredakan kekacauan di wilayahnya.
Ketika dokter spesialis penyakit dalam yang menangani saya akhirnya tidak menemukan penyebab penyakit yang saya derita – setelah saya menempuh pelbagai pemeriksaan dengan alat-alat canggih, melainkan akibat yang ditimbulkannya, yaitu luka-luka seperti sariawan di kerongkongan saya lantaran keseringan muntah, saya jadi memahami bahwa Gusti Allah sedang memberi saya pelajaran berbobot emas: Pikiran menyakiti, pikiran pula yang mengobati!
Belakangan, tak berkurang jumlah profesional kesehatan dalam maupun luar negeri yang mengaitkan penyakit dengan pikiran. Obat yang kesaktiannya sundul langit sekali pun takkan mampu mengatasi penyakit yang kita derita apabila pikiran kita masih merayakan kekacauan. Coba simak apa kata para dokter berikut ini:
Michael F. Rozen, M.D. dan Mehmet C. Oz, M.D., You, The Owner’s Manual – Panduan Menjadi Dokter bagi Diri Sendiri untuk Hidup Lebih Sehat dan Awet Muda dengan Memahami Tubuh Anda (Yogyakarta: Penerbit B-First/PT Bentang Pustaka, 2007, hlm. 88): “Dengan bermeditasi, ada imbalan berlipat ganda. Meditasi membantu memelihara sel-sel otak Anda dan menjaga fungsi-fungsi yang berhubungan dengan daya ingat , dan komponen pengurang-stres dalam meditasi membantu kondisi-kondisi seperti gangguan depresi dan kecemasan. Untuk bermeditasi, yang Anda butuhkan hanyalah sebuah ruangan yang tenang. Dengan mata setengah tertutup, berfokuslah pada pernapasan Anda dan ulangi kata atau frasa yang sama berkali-kali – misalnya ‘um’ atau ‘satu’. Proses pengulangan kata yang sama itulah yang membantu menjernihkan dan mengendurkan pikiran Anda, dan yang memberi pengaruh positif bagi kesehatan Anda, kecuali jika Anda menggunakan kalimat, ‘Aku pengin keripik kentang.’”
Dr. Tan Shot Yen, Saya Pilih Sehat dan Sembuh – Transformasi Paradigma Mengobati Menjadi Menyembuhkan (Jakarta: Penerbit Dian Rakyat, tth, hlm. 84-85): “Keluhan simtomatis atau psikosomatis (gangguan pada tubuh yang disebabkan oleh gangguan emosi/pemikiran tertentu) di tangan dokter malah diselesaikan dengan obat, bukan mengembalikan gangguan emosi pada ‘jalur sehat’nya, sehingga keluhan tubuh menjadi sirna dengan sendirinya – sebagai umpan balik positif.”
Di halaman lampiran bukunya tersebut (hlm. 103), Dokter Tan juga mengungkapkan, antara lain, bahwa kanker dapat disebabkan oleh keadaan batin yang terluka sangat dalam, kemarahan lama, rasa terkubur dalam atau rasa duka seakan-akan memakan cangkangnya. Ia menganjurkan pasien untuk dengan cinta memaafkan dan mengikhlaskan semua masa lalu. “Saya memilih hidup dengan kegembiraan, saya cinta dan menerima diri apa adanya,” katanya.
Dr. Ade Hashman, Rasulullah Saw. Tidak Pernah Sakit – Meneladani Pola Hidup Sehat Nabi Muhammad Saw. (Jakarta: Penerbit Hikmah/PT Mizan Publika, 2008, hlm. 55: “Bagaimana seseorang menjalani hidup sangat memengaruhi sejumlah risiko menderita penyakit-penyakit dan juga memengaruhi penyembuhan bila menderita sakit. Banyak orang merasa terancam status kesehatannya saat memasuki paruh umur setengah baya. Tapi, sesungguhnya kekhawatiran tersebut dapat dihindari bila manusia memperlakukan tubuh dan pikiran dengan cara-cara yang sehat dan bijaksana yang melindungi sistem penyembuhan.”
Hiromi Shinya, M.D., The Miracle of Enzyme: Self-Healing Program – Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Memicu Regenerasi Sel (Bandung: Penerbit Qanita/PT Mizan Pustaka, 2009, hlm. 246: “Ada beberapa contoh mengenai orang-orang yang secara menakjubkan dapat sembuh dari sakit parahnya setelah menetapkan pikiran mereka pada suatu tujuan. Ada berbagai contoh dari seluruh dunia saat orang-orang yang menderita kanker mengalami rasa syukur karena satu dan lain hal, dan begitu mulai mengalami perasaan itu, mereka pun mulai membaik.” Dalam tujuh kunci emasnya untuk hidup sehat, Dr. Shinya menganjurkan kita untuk rajin bermeditasi dan berpikir positif.
Saya kira, pendapat-pendapat para dokter tersebut di atas mempertegas kenyataan bahwa pada zaman para leluhur kita penyakit-penyakit yang beredar tidak sedahsyat sekarang. Di salah satu kampung pantai di Kabupaten Jayapura, Papua, yang saya kunjungi pada bulan Mei dan Juni 2009 lalu, yang kehidupannya tenang dan permai, penyakit terparah yang diderita penduduknya hanya batuk, akibat cuaca panas dan debu! Dan obatnya hanya daun pepaya yang ditumbuk dan disantap bersama makanan pokok mereka, yaitu bubur sagu papeda
Pikiran adalah pembantu yang baik, tetapi majikan yang buruk. Oleh karena itu, dalam situasi-situasi yang buruk sebaiknya jangan biarkan pikiran yang memimpin Anda. Lepaskan semua, dan biarkan Tuhan yang bekerja (let go, let God) dalam membimbing dan menuntun jiwa kita yang berbalut penyerahan diri kepadaNya dengan sabar, ikhlas dan tawakal.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Kata Siapa?
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
Semasa saya kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya atau FIB-UI), saya pernah mengambil matakuliah yang diajarkan oleh DR Onghokham (1933-2007), salah seorang pakar terkemuka sejarah Indonesia abad ke-19. Suatu kali, beliau membuat saya – bila tidak dapat dikatakan semua mahasiswa yang mengikuti kuliah beliau – menginsafi kenyataan bahwa siapa yang mengatakan lebih penting daripada apa yang dikatakannya. Beliau menyampaikan, “Kalau seorang Onghokham bilang di Gedung VI ada setannya, koran Kompas pun akan memberitakannya. Tapi kalau mahasiswa yang bilang di Gedung VI ada setannya nggak seorang pun bakal percaya.”
Beliau sedang mengacu pada pemberitaan di sebuah koran murahan, bahwa sejumlah mahasiswa program diploma FSUI mengaku melihat kuntilanak di tengah proses belajar-mengajar di Gedung VI, salah satu bangunan fakultas yang dipakai untuk kegiatan perkuliahan. Pernyataan mahasiswa tempatnya hanya di koran picisan, mungkin begitu maksud pernyataan sejarawan eksentrik dan hedonis itu. Tetapi beliau menekankan bahwa kecenderungan itu juga terjadi dalam penulisan sejarah. Pernyataan pelaku sejarah yang mungkin kurang dikenal bisa dikalahkan oleh statement akademis seorang ahli sejarah yang terkenal.
Kenyataan ini ada dan masih terus berlangsung di tengah-tengah kita. Masyarakat lebih percaya pada siapa yang mengatakan tinimbang apa yang dikatakan. Bukan berarti hal itu selalu dapat dibenarkan, sebab kecenderungan itu seringnya disalahgunakan dan malah menyesatkan (misleading) serta mencelakakan orang lain. Parahnya, hal ini seolah telah membudaya, utamanya dalam kehidupan umat beragama. Dalam komunitas muslim, misalnya, umat memang dianjurkan untuk menyandarkan tuntunan perilaku dan sikapnya pada ulama atau imam. Dan umat cenderung taat pada tuntunan tersebut, berdasarkan asas sami’na wa athona (kami dengar dan kami taati).
Persoalannya, dewasa ini banyak ulama yang sesungguhnya tidak berhak menyandang predikat itu. KH Mustofa Bisri pernah mengungkapkan kepada Jawa Pos, bahwa ada beberapa jenis ulama, antara lain ‘ulama bikinan’, di mana yang bersangkutan cukup mengenakan sorban dan jubah dan hafal beberapa ayat dari Al Qur’an serta beberapa hadis untuk melengkapi aksi berkoar-koarnya di tengah umat yang kebanyakan kepalang melihat siapa yang mengatakannya ketimbang apa yang dikatakannya. Apalagi yang mereka lihat yang mengatakannya adalah seseorang yang bersorban, berjubah dan bergelar haji, yang konon dianggap aksesori yang Islami. (Jadi, Anda tidak akan dianggap muslim, meski hati dan pikiran Anda selalu tertuju pada Allah, sedangkan aksesori yang Anda kenakan tidak menegaskan hal itu.)
Suatu saat, si ulama bikinan berulah dengan mengatakan hal-hal fitnah atau menuding pihak lain sebagai sesat, saya yakin umat akan percaya seratus persen. Karena hal itu sudah seringkali terjadi di negeri ini. Lantaran kelewat percaya pada siapa yang mengatakan, tanpa mau menimbang-nimbang apa yang dikatakannya, korban jiwa mesti berjatuhan sebagai akibatnya.
Baru-baru ini, salah seorang saudara Subud saya mempermasalahkan sosok Sai Baba yang pernyataannya saya kutip untuk pembukaan note saya yang bertajuk “Karunia Lupa”. Berdasarkan pemberitaan sebuah media, ia mencap Sai Baba guru spiritual palsu, yang keahliannya hanya sulap biasa, tidak lebih dari trik David Blaine. Ya, saya pernah baca itu, tetapi saya kira kata mutiaranya bukan trik serta sangat menginspirasi saya untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya sulit membayangkan bagaimana jadinya bila semua orang bertingkah laku berdasarkan siapa yang mengatakannya dan bukan substansi perkataannya. Bisa-bisa, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Kebaikan kerap tertangguhkan implementasinya, semata karena orang yang menyuarakan atau mencontohkannya diragukan kredibilitasnya. Kebanyakan kita sepertinya lebih baik mati kelaparan daripada mesti menyantap makanan yang dimasak koki yang tidak terkenal. Orang lebih memilih jadi bodoh daripada menyerap pengetahuan dan kebijaksanaan (wisdom) yang mungkin disalurkan Tuhan lewat orang yang bertampang bodoh serta tidak populer di komunitasnya.
Miliki pertimbangan yang bijaksana; kalau ragu, tenangkan diri dan ikuti kata hati yang menyeruak di tengah keheningan. Dengarkan suara batin Anda. Masak Anda tidak percaya pada diri sendiri, sih?! Tetapi ya, jangan percaya begitu saja pada apa yang barusan saya katakan. Karena saya toh bukan siapa-siapa.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Semasa saya kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya atau FIB-UI), saya pernah mengambil matakuliah yang diajarkan oleh DR Onghokham (1933-2007), salah seorang pakar terkemuka sejarah Indonesia abad ke-19. Suatu kali, beliau membuat saya – bila tidak dapat dikatakan semua mahasiswa yang mengikuti kuliah beliau – menginsafi kenyataan bahwa siapa yang mengatakan lebih penting daripada apa yang dikatakannya. Beliau menyampaikan, “Kalau seorang Onghokham bilang di Gedung VI ada setannya, koran Kompas pun akan memberitakannya. Tapi kalau mahasiswa yang bilang di Gedung VI ada setannya nggak seorang pun bakal percaya.”
Beliau sedang mengacu pada pemberitaan di sebuah koran murahan, bahwa sejumlah mahasiswa program diploma FSUI mengaku melihat kuntilanak di tengah proses belajar-mengajar di Gedung VI, salah satu bangunan fakultas yang dipakai untuk kegiatan perkuliahan. Pernyataan mahasiswa tempatnya hanya di koran picisan, mungkin begitu maksud pernyataan sejarawan eksentrik dan hedonis itu. Tetapi beliau menekankan bahwa kecenderungan itu juga terjadi dalam penulisan sejarah. Pernyataan pelaku sejarah yang mungkin kurang dikenal bisa dikalahkan oleh statement akademis seorang ahli sejarah yang terkenal.
Kenyataan ini ada dan masih terus berlangsung di tengah-tengah kita. Masyarakat lebih percaya pada siapa yang mengatakan tinimbang apa yang dikatakan. Bukan berarti hal itu selalu dapat dibenarkan, sebab kecenderungan itu seringnya disalahgunakan dan malah menyesatkan (misleading) serta mencelakakan orang lain. Parahnya, hal ini seolah telah membudaya, utamanya dalam kehidupan umat beragama. Dalam komunitas muslim, misalnya, umat memang dianjurkan untuk menyandarkan tuntunan perilaku dan sikapnya pada ulama atau imam. Dan umat cenderung taat pada tuntunan tersebut, berdasarkan asas sami’na wa athona (kami dengar dan kami taati).
Persoalannya, dewasa ini banyak ulama yang sesungguhnya tidak berhak menyandang predikat itu. KH Mustofa Bisri pernah mengungkapkan kepada Jawa Pos, bahwa ada beberapa jenis ulama, antara lain ‘ulama bikinan’, di mana yang bersangkutan cukup mengenakan sorban dan jubah dan hafal beberapa ayat dari Al Qur’an serta beberapa hadis untuk melengkapi aksi berkoar-koarnya di tengah umat yang kebanyakan kepalang melihat siapa yang mengatakannya ketimbang apa yang dikatakannya. Apalagi yang mereka lihat yang mengatakannya adalah seseorang yang bersorban, berjubah dan bergelar haji, yang konon dianggap aksesori yang Islami. (Jadi, Anda tidak akan dianggap muslim, meski hati dan pikiran Anda selalu tertuju pada Allah, sedangkan aksesori yang Anda kenakan tidak menegaskan hal itu.)
Suatu saat, si ulama bikinan berulah dengan mengatakan hal-hal fitnah atau menuding pihak lain sebagai sesat, saya yakin umat akan percaya seratus persen. Karena hal itu sudah seringkali terjadi di negeri ini. Lantaran kelewat percaya pada siapa yang mengatakan, tanpa mau menimbang-nimbang apa yang dikatakannya, korban jiwa mesti berjatuhan sebagai akibatnya.
Baru-baru ini, salah seorang saudara Subud saya mempermasalahkan sosok Sai Baba yang pernyataannya saya kutip untuk pembukaan note saya yang bertajuk “Karunia Lupa”. Berdasarkan pemberitaan sebuah media, ia mencap Sai Baba guru spiritual palsu, yang keahliannya hanya sulap biasa, tidak lebih dari trik David Blaine. Ya, saya pernah baca itu, tetapi saya kira kata mutiaranya bukan trik serta sangat menginspirasi saya untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya sulit membayangkan bagaimana jadinya bila semua orang bertingkah laku berdasarkan siapa yang mengatakannya dan bukan substansi perkataannya. Bisa-bisa, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Kebaikan kerap tertangguhkan implementasinya, semata karena orang yang menyuarakan atau mencontohkannya diragukan kredibilitasnya. Kebanyakan kita sepertinya lebih baik mati kelaparan daripada mesti menyantap makanan yang dimasak koki yang tidak terkenal. Orang lebih memilih jadi bodoh daripada menyerap pengetahuan dan kebijaksanaan (wisdom) yang mungkin disalurkan Tuhan lewat orang yang bertampang bodoh serta tidak populer di komunitasnya.
Miliki pertimbangan yang bijaksana; kalau ragu, tenangkan diri dan ikuti kata hati yang menyeruak di tengah keheningan. Dengarkan suara batin Anda. Masak Anda tidak percaya pada diri sendiri, sih?! Tetapi ya, jangan percaya begitu saja pada apa yang barusan saya katakan. Karena saya toh bukan siapa-siapa.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Senin, 26 Oktober 2009
Karunia Lupa
Oleh Anto Dwiastoro Slamet
“Ada dua hal yang harus kita lupakan dalam hidup ini, yaitu melupakan kebaikan kita pada orang lain dan melupakan kesalahan orang lain pada diri kita.”—Sai Baba
Seorang kawan tiba-tiba mengingatkan saya, “Seingat gue, si Polan yang lu kasih X yang lu titip lewat si Fulan, belum bilang terima kasih ke lu ya?
“Wah, gue nggak inget tuh. Yang mana ya?” kata saya. Saya benar-benar lupa, mungkin dikarenakan saya terlalu sibuk dengan berbagai hal belakangan ini.
“Si Polan nggak telepon, SMS, kirim pesan di Facebook atau mungkin pesan lewat si Fulan?”
Saya menggeleng. Saya tidak merasa memberi apa pun pada si Polan, sehingga saya tidak pula merasa perlu diterimakasihi. Tetapi tiba-tiba saya teringat, karena kawan tadi terus mendesak saya agar mengingat-ingatnya. Mungkin bagi dia, ucapan terima kasih bagi kebaikan yang kita sampaikan kepada orang lain adalah hak kita. Tiba-tiba saya teringat, bahwa baru-baru ini saya memang menitipkan X lewat si Fulan untuk disampaikan kepada si Polan. Tetapi ingatan itu malah membuat saya tersiksa.
Kenyataan bahwa kita tidak dihargai atas perbuatan baik kita sungguh menyakitkan. Karena itu, segera saja saya pejamkan mata dan menenangkan pikiran, dengan harapan ingatan itu segera pergi. Saya hardik kawan saya itu, agar tidak berusaha terus mengingatkan saya. Adalah jauh lebih baik jika saya lupa. Sebaliknya, saya berdoa agar saya senantiasa ingat akan kebaikan orang pada saya.
Adalah ego kita yang selalu menuntut penghargaan atau apresiasi orang lain atas diri kita apabila kita telah berbuat baik padanya. Ada berbagai faktor yang menyebabkan banyak orang mengharapkan imbalan atas jasa-jasanya pada orang lain. Tidak dipungkiri, ajaran agama berperan dalam hal ini, antara lain bahwa Tuhan akan mengganjar hambaNya dengan surga jika ia berbuat baik, dan sebaliknya yang berkelakuan buruk akan dibayar dengan tempat di neraka. Pada awal seseorang belajar agama, pendekatan ini memang ampuh, tetapi jika berlarut-larut perbuatan baiknya bakal tidak tulus; ia akan senantiasa mengharapkan imbalan atas perbuatan baiknya.
Sodori dia pertanyaan yang disenandungkan Chrisye, “Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah padaNya? Atau mungkin kita hanya takut pada neraka, dan inginkan surga. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya?” Dia pasti akan kebingungan menjawabnya. Pantas saja, banyak orang yang mengaku susah menerapkan sikap berserah diri kepada kehendak Tuhan dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal, dengan pasal banyak orang merasa telah berbuat baik dan sepatutnya bukan hanya sesama manusia tetapi juga Tuhan yang mesti mengingat dan menghargai mereka. Bukan main!
Saya telah melatih diri (yang rasanya kadang, meminjam ekspresi saudara Subud saya, seperti menelan buah kedondong bulat-bulat dan tersangkut di kerongkongan) untuk tidak menuntut penghargaan agar tidak kesakitan ketika saya justru diabaikan. Ketika melupakan perbuatan baik saya terhadap orang lain, saya telah merasakan kesejatian dalam menghargai orang lain maupun hidup saya sendiri. Dilupakan orang hanya menyakitkan ketika kita tidak mau berusaha melupakannya! Tidak memenuhi gagasan tentang penghargaan dan apresiasi seperti yang kita harapkan dari orang lain hanya menyakitkan jika memang itu yang kita kejar.
Ingatan akan kebaikan yang kita berikan pada orang lain jika terus dipompa akan mendorong ego kita untuk menuntut penghargaan atau apresiasi, yang bila tidak terpenuhi akan terasa menyakitkan hati. Karena itu, sungguh lupa itu merupakan karunia.©
Salam, ANTO DWIASTORO
“Ada dua hal yang harus kita lupakan dalam hidup ini, yaitu melupakan kebaikan kita pada orang lain dan melupakan kesalahan orang lain pada diri kita.”—Sai Baba
Seorang kawan tiba-tiba mengingatkan saya, “Seingat gue, si Polan yang lu kasih X yang lu titip lewat si Fulan, belum bilang terima kasih ke lu ya?
“Wah, gue nggak inget tuh. Yang mana ya?” kata saya. Saya benar-benar lupa, mungkin dikarenakan saya terlalu sibuk dengan berbagai hal belakangan ini.
“Si Polan nggak telepon, SMS, kirim pesan di Facebook atau mungkin pesan lewat si Fulan?”
Saya menggeleng. Saya tidak merasa memberi apa pun pada si Polan, sehingga saya tidak pula merasa perlu diterimakasihi. Tetapi tiba-tiba saya teringat, karena kawan tadi terus mendesak saya agar mengingat-ingatnya. Mungkin bagi dia, ucapan terima kasih bagi kebaikan yang kita sampaikan kepada orang lain adalah hak kita. Tiba-tiba saya teringat, bahwa baru-baru ini saya memang menitipkan X lewat si Fulan untuk disampaikan kepada si Polan. Tetapi ingatan itu malah membuat saya tersiksa.
Kenyataan bahwa kita tidak dihargai atas perbuatan baik kita sungguh menyakitkan. Karena itu, segera saja saya pejamkan mata dan menenangkan pikiran, dengan harapan ingatan itu segera pergi. Saya hardik kawan saya itu, agar tidak berusaha terus mengingatkan saya. Adalah jauh lebih baik jika saya lupa. Sebaliknya, saya berdoa agar saya senantiasa ingat akan kebaikan orang pada saya.
Adalah ego kita yang selalu menuntut penghargaan atau apresiasi orang lain atas diri kita apabila kita telah berbuat baik padanya. Ada berbagai faktor yang menyebabkan banyak orang mengharapkan imbalan atas jasa-jasanya pada orang lain. Tidak dipungkiri, ajaran agama berperan dalam hal ini, antara lain bahwa Tuhan akan mengganjar hambaNya dengan surga jika ia berbuat baik, dan sebaliknya yang berkelakuan buruk akan dibayar dengan tempat di neraka. Pada awal seseorang belajar agama, pendekatan ini memang ampuh, tetapi jika berlarut-larut perbuatan baiknya bakal tidak tulus; ia akan senantiasa mengharapkan imbalan atas perbuatan baiknya.
Sodori dia pertanyaan yang disenandungkan Chrisye, “Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah padaNya? Atau mungkin kita hanya takut pada neraka, dan inginkan surga. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya?” Dia pasti akan kebingungan menjawabnya. Pantas saja, banyak orang yang mengaku susah menerapkan sikap berserah diri kepada kehendak Tuhan dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal, dengan pasal banyak orang merasa telah berbuat baik dan sepatutnya bukan hanya sesama manusia tetapi juga Tuhan yang mesti mengingat dan menghargai mereka. Bukan main!
Saya telah melatih diri (yang rasanya kadang, meminjam ekspresi saudara Subud saya, seperti menelan buah kedondong bulat-bulat dan tersangkut di kerongkongan) untuk tidak menuntut penghargaan agar tidak kesakitan ketika saya justru diabaikan. Ketika melupakan perbuatan baik saya terhadap orang lain, saya telah merasakan kesejatian dalam menghargai orang lain maupun hidup saya sendiri. Dilupakan orang hanya menyakitkan ketika kita tidak mau berusaha melupakannya! Tidak memenuhi gagasan tentang penghargaan dan apresiasi seperti yang kita harapkan dari orang lain hanya menyakitkan jika memang itu yang kita kejar.
Ingatan akan kebaikan yang kita berikan pada orang lain jika terus dipompa akan mendorong ego kita untuk menuntut penghargaan atau apresiasi, yang bila tidak terpenuhi akan terasa menyakitkan hati. Karena itu, sungguh lupa itu merupakan karunia.©
Salam, ANTO DWIASTORO
Langganan:
Komentar (Atom)

